Bulan: Juli 2015

Putu Khas Tanah Bugis

Waktu mudik selalu ditunggu bagi para perantau, saat dimana lepas dari pekerjaan kantor dan bisa pulang ke kampung kelahiran. Selain rasa rindu kepada orang tua, banyak kenangan masa muda yang selalu menarik untuk ditapaki kembali. Mudik berarti bertemu dengan keluarga, kawan lama, tetangga, bahkan bisa saja mantan. Bukan hanya kenangan yang membuat rindu akan kampung, masakan ibu atau jajanan yang hanya bisa didapat di kampung juga punya andil dalam membentuk unsur kerinduan.

Saya pun demikian, setiap pulang kampung pasti akan mencari jajanan atau makanan tradisional yang ketika sekolah dulu bisa saya dapatkan setiap harinya. Beberapa diantaranya seperti burasa’ dan sambala kaniki (sambal pepaya mengkal), Nasu Palekko, Pisang Ijo, Sanggara Belanda, Putu dan lain-lain. Namun, ada satu jajanan yang agak susah saya dapatkan di Makassar, yaitu putu. Jajanan satu ini sepanjang ingatan saya, mulai dari SD sampai SMA sering sekali menjadi sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Jajanan satu ini tidak akan saya lewatkan ketika berada di kampung.

Putu yang mungkin sering kita jumpai adalah sejenis kue beras ketan yang tengahnya berisi gula jawa dan ditaburi kelapa parut, mengeluarkan bunyi seperti siulan hasil dari tekanan uap yang melewati lubang bambu (sekarang banyak yang menggunakan pipa) sebagai ciri khas dan alat promosinya. Putu ini hanya bisa ditemui sore atau malam hari, alasan kenapa putu ini disebut juga putu malam. Asal kata putu sendiri berasal dari Jawa : Puthu.

Putu Malam (putu dari Tanah Jawa). Sumber foto : Jejalan.com

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Putu di tanah bugis beda dengan Putu di Tanah Jawa, Putu versi Bugis tidak menggunakan gula. Putu dimakan dengan taburan parutan kelapa dan sambal tai boka’ (ampas dari hasil pembuatan minyak kelapa asli), putu ini biasanya dijual di pagi hari sebagai pengganti sarapan yang praktis. Meski proses pembuatannya hampir sama, namun rasanya jauh berbeda. Putu di Bugis juga menggunakan uap panas sebagai proses pemasakan putu sampai matang.

Mula-mula tepung beras ketan kasar yang telah tercampur dengan pandan, dimasukkan ke dalam bambu/pipa sampai penuh, kemudian dimatangkan di atas tungku kaleng yang telah dilubangi sebelumnya, tungku kaleng di dalamnya terdapat air mendidih yang menghasilkan uap. Bambu atau pipa yang menjadi cetakan dibalut dengan kain agar bisa menutupi semua lubang di tungku, kain ini juga akan memaksa uap panas mencari celah diantara tepung beras yang berada dalam cetakan bambu. Proses pematangan akan berlangsung setengah sampai satu menit dalam cetakan, uap panas yang keluar dari cetakan adalah penanda matangnya putu.

Putu yang sudah matang kemudian dikeluarkan dari cetakan di atas parutan kelapa muda, parutan kelapa akan melengket menutupi bagian luar putu. Putu yang sudah selesai dibungkus menggunakan daun pisang, satu bungkus berisi 4 buah putu yang dijual seharga dua ribu rupiah. Jika dihitung perbuah berarti lima ratus rupiah perbuahnya. Sentuhan terakhir sisa menyertakan sambal taiboka yang telah ditumbuk halus bersama beberapa cabai untuk mendapatkan sensasi pedas.

Putu Beras Ketan (Khas Tanah Bugis)

Mudik lebaran kali ini, pasti akan saya manfaatkan untuk menikmati putu lagi. Kebetulan waktunya pas, putu di kampung saya, bisa ditemui di Pasar Sentral Rappang Kab. Sidrap. Hari pasar di Rappang hanya berlangsung 3 hari dalam seminggu, yaitu hari selasa hari jumat dan hari minggu. Meski lebaran jatuh pada hari jumat, masih ada waktu menikmati putu di hari minggu.

Penjual putu di Pasar Sentral Rappang, berada di dalam kompleks utama pasar sayap timur. Diapit oleh penjual ikan penjual beras, penjual putu tidak berada di kios atau warung tapi berjualan di lorong pasar. Penjual serta tungku kaleng dan semua bahan pembuat putu berada dalam satu tempat di atas ladda’ (balai-balai kecil dari bambu) berukuran 2×2 meter. Untuk mendapatkan putu anda harus rela berdesakan pun bergesekan dengan pengunjung pasar lainnya, karena tidak disiapkan kursi untuk duduk, kebanyakan orang membawa pulang putu yang dibeli.

Penjual putu di Pasar Sentral Rappang

Adalah Bu Lija nama penjual putu di Pasar Sentral Rappang, sudah 13 tahun terakhir Bu Lija menjual putu. Setelah Ibunya meninggal, ia melanjutkan menjual putu di pasar sebagai tambahan penghasilan suami yang bekerja sebagai PNS. Dari gaji suami dan hasil menjual putu, dua anak mereka sudah mengecap pendidikan di bangku kuliah, si bungsu pun sekarang sudah duduk di bangku SD kelas 5.

Putu yang dibuat Ibu Lija sama sekali tidak menggunakan pewarna, menurut penuturan Ibu Lija sendiri. Warna hijau yang didapatkan, berasal dari daun pandan yang dicampurkan ketika membuat tepung. Putu yang berwarna hijau terang bisa jadi karena menggunakan pewarna buatan, memudahkan kita untuk membedakan putu dengan pewarna alami dan pewarna buatan.

Penjual Putu di Pasar Sentral Rappang

Rasa putu buatan Ibu Lija tiada duanya, legitnya beras ketan yang dimatangkan oleh uap berpadu dengan aroma pandan menyatu dalam lidah. Ditambah rasa sambal tai boka’ yang gurih melengkapkan cita rasa khas putu, kemudian sentuhan tradisional dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnya. Semua kenikmatan itu bisa didapatkan hanya dengan merogoh kocek sebesar dua ribu rupiah.

Bisalah saya bilang, tak lengkap rasa pulang kampung jika belum menikmati sebungkus dua bungkus putu. Kalian yang berkesempatan berkunjung ke kampung saya, sempatkanlah menjajal kenikmatan putu ini.

Hibernasi

Bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan seribu bulan, satu bulan yang lebih mulia dibanding seribu bulan lainnya. Bulan ini bukan hanya barang-barang yang didiskon besar-besaran, amalan pun  ‘diskon’ besar-besaran. Di bulan ini tidurpun dianggap ibadah, bau mulut orang puasa pun dianggap bau surga. Maka tidak heran, dibulan Ramadhan semua orang berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Namun beda lagi dengan Berbagi Nasi Makassar, di bulan Ramadhan ini mereka justru ‘hibernasi’, cuti dari melakukan kebaikan. Berbagi Nasi adalah gerakan sosial sederhana yang membagikan nasi bungkus kepada saudara-saudara yang masih tidur beralaskan bumi, beratapkan tanah. Sudah 2 tahun lamanya berbagi nasi di Makassar, menyisir jalanan kota beramunisikan nasi bungkus hasil donasi para donatur.

Hibernasi adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan ‘cuti’ membagikan nasi yang biasa dilakukan sekali sepekan. Menurut KBBI, hibernasi /hi-ber-na-si/ n : keadaan istirahat atau tidur pada binatang selama musim dingin. Hiber’nasi’ menurut berbagi nasi sendiri adalah istirahat dalam kegiatan membagikan nasi. Sudah 2 tahun juga berbagi nasi melakukan hibernasi di bulan Ramadhan, pejuang nasi (sebutan untuk orang-orang yang membagikan nasi) pun selama bulan Ramadhan diberikan cuti dengan harapan mereka bisa fokus beribadah, menimbun amalam sebanyak mungkin.

Salah satu alasan hibernasi dilakukan adalah untuk memberikan kesempatan kepada orang lain atau komunitas yang ingin berbuat baik. Selama bulan Ramadhan, setiap orang atau komunitas berlomba-lomba untuk menimba amalan dengan membagikan makanan buka puasa atau makanan sahur. Panti asuhan pun dipenuhi daftar-daftar panggilan berbuka puasa atau dipenuhi sumbangan sembako. Banyak malah komunitas atau kelompok tertentu yang lahir di bulan Ramadhan.

Fase hibernasi juga memberikan kesempatan kepada pejuang nasi untuk melakukan kegiatan sosial di komunitas lainnya. Harapannya semangat berbagi nasi selama 11 bulan lainnya, bisa mereka tularkan kepada teman-teman yang ada di sekitar mereka. Tujuan berbagi nasi memang ingin mengajarkan kepada orang-orang untuk berbagi meski sedikit, sesuai dengan tagline berbagi nasi Makassar “jangki’ menunggu berlebih untuk berbagi, berbagiki’ kelak akan dilebihkan”.

Tidak jarang berbagi nasi mendapat tawaran kolaborasi dari komunitas lain atau kelompok tertentu untuk melakukan kegiatan di bulan Ramadhan. Untuk kegiatan kolaborasi berbagi nasi tidak menutup diri, tentunya melihat kesediaan dan kesibukan pejuang nasi.

Semoga saja semangat berbagi di bulan Ramadhan tetap terjaga untuk 11 bulan lainnya.

Active Learning : Jigsaw

Mendengar kata jigsaw pada sebagian orang mungkin akan memikirkan sebuah film thriller berseri yang berjudul ‘Saw’. Dalam film ini ada satu tokoh bertopeng yang antagonis, seorang pembunuh berantai bernama Jigsaw. Beda dengan pembunuh lainnya Jigsaw justru tidak membunuh korbannya secara langsung, korban terpilih akan ditempatkan dalam sebuah jebakan maut.

Jebakan yang dibuat adalah jebakan yang akan memotong anggota tubuh korban. Keberhasilan jebakan tergantung bagaimana korban secara aktif meloloskan diri dengan cerdik. Terdesak oleh waktu, korban akan mencari segala cara meloloskan diri dari jebakan, tidak jarang korban terbunuh dalam usaha meloloskan diri.

Jigsaw Killer

Sebagian orang lagi mungkin akan langsung memikirkan tentang sebuah permainan, permainan Jigsaw Puzzle. Permainan ini cukup populer dikenal dengan nama PuzzleJigsaw Puzzle adalah permainan menggabungkan kepingan-kepingan gambar. Gambar yang utuh dipotong sedemikan rupa yang pada awalnya dibuat menggunakan gergaji, alasan kenapa permainan menggunakan kata Jigsaw (gergaji). Pemain harus aktif menemukan potongan yang tepat untuk dibentuk menjadi gambar yang lengkap.

JIgsaw Puzzle

Beberapa orang lainnya terutama mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan akan berpikir tentang sebuah metode pembelajaran aktif yang juga menggunakan kata Jigsaw. Metode pembelajaran yang pertama kali diperkenalkan oleh Elliot Aronson pada tahun 1975.  Dalam metode Jigsaw, peserta didik ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil kemudian disebut kelompok asal, kemudian digabung dalam kelompok ahli.

Tiap anggota dalam kelompok asal diberi materi yang sama dan harus dikuasai. Tahap selanjutnya, tiap anggota kelompok dari kelompok asal bergabung bersama perwakilan kelompok asal lainnya. Kelompok inilah yang disebut kelompok ahli. Masing-masing anggota kelompok asal akan memaparkan materi di kelompok ahli secara bergantian. Proses inilah yang menjadi dasar metode ini disebut Jigsaw.

Metode Jigsaw

Tiga hal berbeda yang menggunakan kata yang sama di atas memiliki persamaan mendasar, yaitu AKTIF. Entah itu dalam tragedi jebakan maut, permainan gambar ataupun metode pembelajaran. Keaktifan adalah hal yang ingin ditonjolkan. Metode pembelajaran Jigsaw misalnya akan membuat peserta didik lebih berperan aktif dan bertanggung jawab terhadap materi yang diberikan serta mengurangi peran guru atau dosen sebagai penceramah di depan kelas  yang kadang membuat murid hanya menjadi pendengar pasif.

Adalah Nurhaya Nurdin, seorang dosen yang pertama kali mengenalkan metode ini kepada saya. Ners Aya (Ners : gelar profesi keperawatan) begitu kami memanggilnya adalah dosen yang sangat inspiratif, selalu berhasil membawakan materi kuliah dengan menyenangkan. Dosen yang menyelesaikan pendidikan strata dua di University Of Sheffield ini memiliki pembawaan yang ceria, sesekali mengajak mahasiswa belajar di luar kelas dan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda. Beberapa kali saya merasakan sendiri metode pembelajaran Jigsaw yang dibawakan Ners Aya.

Berdasarkan pengalaman itulah, saya yang setahun terakhir juga mengajar di salah satu sekolah keperawatan ingin sesekali mencoba menggunakan metode jigsaw. Namun mengajar di kelas reguler agak repot menggunakan metode ini karena jumlah mahasiswa yang banyak dalam satu kelas. Untungnya tak lama ini gayung bersambut, saya menemukan waktu yang tepat untuk menerapkannya. Berawal dari  kepercayaan mengasuh salah satu mata kuliah SP (semester pendek) dengan hanya 25 orang mahasiswa. 8 pertemuan di kelas saya gunakan untuk menjelaskan beberapa materi di sela-sela diskusi kelompok mahasiswa, rencananya kelompok dalam kelas inilah yang juga menjadi kelompok asal untuk penerapan Jigsaw.

Pertemuan terakhir saya rencanakan hari selasa 30 Juni 2015. Saya berusaha membawa kelas dalam suasana berbeda dan meminta mahasiswa untuk bertemu di pinggir danau Universitas Hasanuddin. Mereka tiba duluan di lokasi pertemuan, saya yang datang agak belakangan langsung meminta mereka berkumpul. Saya yang hari itu mencoba berpakaian santai dengan tidak mengancingkan kemeja flanel yang saya pakai  memulai penjelasan kalau masing-masing mahasiswa mendapatkan waktu 10 menit menjelaskan materi kelompok asal dan 5 menit untuk tanya jawab.


Terbagi atas 3 kelompok ahli mereka memilih duduk di dekat pohon-pohon besar yang ada di pinggir danau. Dengan cekatan mereka memulai membuka poster atau membagikan leaflet yang telah mereka siapkan sebelumnya. Kelas kini berlangsung dengan rimbunnya pohon sebagai atap, rumput dan dedaunan kering sebagai lantai serta suara kendaraan maupun suara orang berbicara dari kejauhan sebagai musiknya. Saya membuka format penilaian dan menuliskan angka untuk memberikan penilaian secara individu.



Perasaan senang tergambar dalam ekpresi mereka, sesekali muncul senyum merekah dari wajah mereka dari ketika salah satu temannya mencoba mengabadikan gambar. Memang saya tidak melarang mereka untuk saling mengambil gambar secara bergantian, tapi tidak boleh mengganggu jalannya diskusi. Sayapun demikian, mengambil gambar dari berbagai sudut dan terkadang lupa kalau saat itu adalah proses belajar mengajar.

Proses belajar mengajar saat itu, saya anggap berhasil. Berhasil karena kami menyatu dengan alam sambil mencoba memasukkan ilmu ke dalam kepala. Kami juga berhasil menemukan sedikit kebahagiaan dengan berbaur dengan alam, saya bahkan lupa harus memberikan penilaian kepada mereka. Ya sudah, sore itu saya memang ingin mengajak mereka keluar dari kebiasaan mereka belajar di dalam kelas. Andai saja saat itu bukan hari bulan puasa, pasta saya meminta mereka menyiapkan kue dan minuman segar semabri menggelar tikar ala-ala piknik.

6 materi kelompok asal selesai dibawakan dalam waktu kurang lebih 90 menit, salah satu keunggulan Metode Jigsaw adalah dapat membawakan banyak materi dalam waktu yang relatif singkat.



Janji kepada teman untuk berbuka bersama langsung teringat ketika saya melihat jarum jam sudah menunjukkan angka 16.30. Sekali lagi saya mengumpulkan mereka untuk evaluasi kegiatan sore itu, tak lupa kami berfoto bersama sebelum akhirnya mereka meninggalkan lokasi dan menuju kediaman masing-masing. Saya memacu motor ke rumah teman untuk berbuka bersama.

Menggunakan metode Jigsaw  mengajarkan peserta didik lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap materi yang dibebankan dan memang seharusnya belajar itu menjadi hal yang menyenangkan. Mungkin saya akan memilih topik ini untuk penyusunan Thesis.

Tentang Pulang Kampung Para Sahabat

“Kolak pisang mama, membawa rasa dan romansa masa kecil di rumah, pulanglah jika sempat”.

Entah ada angin apa percakapan di grup LINE ‘Anu’ tiba-tiba dimulai dengan kalimat seperti itu. Grup Line Anu adalah grup saya bersama 6 orang sahabat, kebingungan mencari nama untuk grup akhirnya terpilih kata Anu, alasannya sepele karena mampu mewakili banyak hal. Seperti arti sahabat, mampu menjadi apapun untuk sahabat-sahabatnya.

Ayus yang memulai membuka percakapan malam itu, disambut cerita-cerita berbau nostalgia dari sahabat lainnya. Saya yang kemudian mengambil alih dan bertindak layaknya moderator dalam sebuah diskusi dengan memberi pertanyaan-pertanyaan terbuka. Pertanyaan seputar kerinduan akan kampung halaman, makanan favorit di kampung sampai pertanyaan tentang orang-orang unik di kampung masing-masing.

Adalah Ayus Hendra Mangka yang akrab kami panggil Ayus, laki-laki berkacamata ini sering juga kami panggil pak RT, dialah yang sering memberikan usulan tidak masuk akal namun selalu berhasil menyakinkan kami mengikuti usulannya. Setiap bulan Ramadhan seperti ini dia selalu ingat dengan Wa’ Semmang, imam salah satu kampung  di Kab. Soppeng.

Rinduka sama Wa’ Semmang, imam desa kampung yang khas sekali nuansa Ramadhan kalau doski mappasempajang -memimpin shalat- jadi ingat semua teman-teman kecilku bahkan ada yang sudah almarhum, kita suka paccobi-cobi sama Wa’ Semmang kasihan. Alhamdulillah dengar kabar tahun ini Wa’ Semmang akan menunaikan haji”. Ayus melanjutkan bercerita tentang satu makanan yang menjadi favorit para lelaki di keluarganya dari generasi ke generasi, kolak pisang kepok tanpa santan. Kolak tanpa santan?

Beda lagi dengan Muhammad Rezky Iryansyah, Selain sering dipanggil dengan nama Eky, dia dia juga sering dipanggil ‘Lebba Lekke’ julukan untuk punggungnya yang lebar. Kalimat pembuka Ayus di grup langsung membawa ingatan Eky akan Ibunya yang telah meninggal 3 tahun lalu “Sayangnya di rumah sudah tidak ada yang bisa dipanggil ibu”, Katanya..

Pria yang memiliki codet di pipi kanannya ini melanjutkan bercerita kalau dia sudah kehilangan kampung sejak 3 tahun lalu sejak rumah di kampung disewa oleh Alfamart untuk 5 tahun ke depan. Sekeluarga mereka kini menetap di Makassar. Menurutnya pulang kampung harusnya berkumpul bersama keluarga, tapi apalah artinya  pulang ke kampung kelahiran di Rappang Kab. Sidrap jika tidak  ada orang tua di sana. Semenjak mendapatkan perintah penempatan kerja di Tarailu kecamatan Mamuju, pulang kampung bagi Eky berarti kembali ke pelukan Ibukota. Bagi saya dimanapun saya pergi, rumah dan keluarga adalah kampung bagi saya”. Pungkasnya.

Kemudian ada Iqrawan Bakti, orang paling simple yang pernah saya temui. Iqra, begitu kami memanggilnya. Simple dan tidak banyak bicara adalah ciri khasnya, jika diajak keluar bareng dia sering menjawab : sembarang ji saya, dengan ekpresi datar. Pun demikian ketika dia mulai tertarik berkomentar dengan topik pulang kampung yang sedang kami bahas. Dia hanya menyela dengan ucapan, “pulang kampung itu lisu rikampongnge, rinduka’ main bola depan rumahku di Sinjai”.  Setelah menuntaskan curahan hati tentang kerinduannya bermain bola di kampungnya, dia menghilang begitu saja, tak lagi berkomentar. Mencoba ikut-ikutan berpikir simple, saya hanya berpikir mungkin dia lagi lelah menahan rindu dengan istrinya yang terpaut jarak Makassar-Palu, padahal baru dua minggu lalu mereka duduk di pelaminan.

Satu-satunya “mahluk halus” di grup adalah Sukmawati Soekarno. Dia memiliki nama panggilan yang sama sekali tidak ada korelasi dengan nama aslinya: Cupu. Perempuan yang sudah bersuami ini serasa menjadi anak kecil kembali ketika berada di kampung. Maklum, dia bakalan ketemu dengan orang-orang yang ikut membesarkannya saat masih kecil. Di kampung dia suka bermanja-manja dengan minta dibelikan jajanan masa kecilnya.

“Setiap pulang kampung selaluka’ cari ‘Benno’you know Benno? Itu loh popcornnya orang bugis, yang di kampungku penjualnya masih eksis mulai dari SMP ka’ sampai sekarang tuami masih adaji nongkrong di pasar dekat rumah tiap hari minggu”. Katanya

Nah, berikutnya adalah sahabat yang selalu membuat saya geli kalau menceritakannya. Sadahi Wahid namanya, namun dia akrab dipanggil Shaden. Si lelaki penghibur, selalu mampu menghadirkan tawa dalam tindakan maupun bicaranya. “Saya  bingung mengkategorikan pulang kampung itu kek gimana? Dari kecil sampai SMA di Mamuju, ortu domisili di Mamuju Utara, tapi tiap mau lebaran balik ke Gowa.” Katanya.

Ketika ditanya kok bisa sampai dia menyelesaikan kuliah di Makassar? Dia hanya menjawab Ndak taumi, mungkin orang tua saya sudah lelah.” Kemudian komentar ngawur khas Shaden mulai keluar, komentar yang tidak bisa saya tuliskan di sini. Saya tertawa sampai mengeluarkan air mata.

Yang terakhir Akbar, sampai tulisan ini dibuat dia belum mengeluarkan komentar satupun. Terkadang memang membingungkan menghadapi sahabat yang satu ini. Mungkin bisa dibilang dia orangnya moody terkadang kurang peka terhadap situasi sekitar sampai-sampai kami sepakat memberikannya julukan “sahabat batu”.

Bagi saya pulang kampung selain melepas rindu dengan keluarga, juga berarti menikmati makanan yang hanya bisa saya dapatkan di Rappang kampungku. ada dua makanan yang tidak pernah saya lewatkan ketika di kampung, burasa dengan sambal pepaya dan putu beras ketan dengan sambal taiboka. mungkin di tulisan berikutnya saya akan menulis khusus tentang dua makanan itu.

Pulang kampung pada hakikatnya kembali ke tanah kelahiran, namun tiap orang mempunyai cara tersendiri memaknai pulang kampung. Berkumpul bersama keluarga dan menjadi diri sendiri di tengah keluarga adalah arti pulang kampung sebenarnya. Kalau menurut kamu?

Kehilangan rasa ‘Nyaman’

“Sekarang tidak masalah jenis kelaminnya, yang penting nyaman, ayok jalan” kelakar seorang teman menanggapi topik pembicaraan tentang disahkannya pernikahan sejenis di 50 negara bagian Amerika Serikat. Tulisan ini bukan untuk membahas tentang pernikahan sejenis, saya pun masih bingung bagaimana bersikap terhadap hal tersebut, karena selalu ada pembenaran di kedua sisi yang berlawanan.

Kenyamanan memang menjadi salah satu indikator penting dalam penentuan pilihan. Pasangan, pakaian, gaya hidup sampai tempat nongkrong pasti dipengaruhi oleh faktor kenyamanan. Abraham Maslow bahkan menjadikan kenyamanan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia setelah kebutuhan fisiologis dan biologis. Nyaman adalah perasaan yang tidak bisa dipaksakan namun sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Memilih tempat nongkrong misalnya, sebuah cafe ataupun tempat berkumpul akan ramai jika orang-orang yang berada di dalamnya merasa nyaman. Setahun belakangan ada satu tempat yang membuat saya dan banyak orang lainnya merasakan ‘kenyamanan’ yang tidak kami dapatkan di tempat lain : Kedai Pojok Adhiyaksa. Sebuah kedai sederhana yang berada di salah satu pojok kecamatan Panakkukang di Jl. Adhiyaksa yang lebih akrab kami sebut ‘Kepo’ singkatan dari kedai pojok.

Kepo sendiri adalah sebuah cafe yang sangat sederhana. Dengan memanfaatkan halaman kosong di samping hunian pribadi, sebuah atap berbentuk prisma dibangun untuk menaungi ruangan berukuran sekitar 7×15 meter dengan tegel putih tanpa motif sebagai lantai. Konsep Kepo sendiri adalah kedai semi terbuka yang tidak memiliki dinding di sisinya sebagaimana cafe pada umumnya. Desain interiornya pun jauh dari kata mewah, hanya ada puluhan kursi rotan yang mengelilingi belasan meja persegi yang tersebar dalam ruangan tersebut. Beda jauh jika ingin dibandingkan dengan banyaknya tempat nongkrong yang bermunculan di Makassar akhir-akhir ini yang memberikan sentuhan kreatif atau desain interior yang mewah untuk menarik pelanggan.

Kedai Pojok Adhiyaksa.

Kepo bisa dibilang adalah cafe multifungsi, selain menjadi tempat menikmati suguhan makanan dan minuman khas cafe seperti jus aneka buah, teh, kopi, nasi goreng sampai sanggara peppe’, tempat ini sering dijadikan tempat pertemuan, rapat, seminar kecil bahkan sampai perayaan ulang tahun organisasi/komunitas. Beberapa orang bahkan menganggapnya sebagai ‘kantor’.

Suasana dan kondisi-kondisi itu yang membuat saya dan banyak teman lainnya merasa nyaman menjadikan Kepo sebagai tempat nongkrong. Tidak salah kalau hampir setiap hari Kepo diisi oleh wajah-wajah yang sama. Kondisi ini memudahkan saya jika ingin mencari pergaulan, tinggal datang ke Kepo saya pasti akan ketemu minimal 2 orang yang saya kenal. Keramahan pemilik dan pelayan Kepo juga punya andil dalam hal kenyamanan yang kami rasakan. Berada di zona nyaman membuat kami susah Move On ketika Kepo tutup selama bulan puasa sampai setelah lebaran.

Kebingungan mencari tempat nongkrong sangat terlihat pada KPK (komunitas Penghuni Kepo) sebutan untuk orang-orang yang sering nongkrong di Kepo. Entah siapa yang memulai istilah itu, namun memang sangat berdasar sesuai dengan  yang saya jelaskan sebelumnya. Beberapa tempat sempat dijajaki untuk mencari ‘nyaman’ yang hilang itu, munafik jika kami mengatakan sudah menemukan tempat pengganti Kepo. Berpindah dari satu coffee shop ke coffee shop lainnya kami berusaha menyamankan diri namun tetap ada rasa yang mengganjal di hati seperti masih ada rindu yang tidak terselesaikan.

Dengan nada bercanda Iqbal teman saya yang selalu kelihatan ceria bahkan sempat berkomentar “Demo deh supaya Kepo buka lagi, kalau begini bingungki dimana mau kumpul-kumpul”. Beda lagi Januar, di hari ke 7 Kepo tutup dia sempat menuliskan status “Masih mencari tempat nongkrong penganti Kepo” –saya kutip lengkap dengan typo-nya. Saya juga tidak bisa membohongi perasaan kehilangan karena Kepo tutup, masih selalu terbayang nasi goreng pedas, tempe goreng plus sambal tumis khas Kepo.

Bulan puasa kali ini bukan hanya mengharuskan kami menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga tapi juga memaksa kami menahan nafsu nongkrong, lapar nasi goreng dan dahaga air es gratis Kepo. kehilangan selalu meninggalkan bekas tak berbentuk, saat ini kami kehilangan ‘Nyaman’.

Terlambat Gaul

Bulan mei 2014, sebanyak 75 komunitas di makassar berkumpul pada satu tempat merayakan acara bertajuk Pesta Komunitas Makassar. Saya yang waktu itu selaku panitia menyempatkan diri berkeliling ke semua  booth komunitas yang tersedia, bukan karena penasaran komunitas apa saja yang ada, namun saya ingin mengumpulkan pernak-pernik komunitas berupa gantungan kunci, pin ataupun stiker.

Pura-pura akrab menjadi senjata utama saya untuk mendapatkan merchandise komunitas secara cuma-cuma. Di beberapa komunitas berhasil, tapi ada juga komunitas yang kebal akan sikap pura-pura akrab itu padahal saya juga sudah tebar pesona sejadi-jadinya. Pada akhirnya, saya berhasil mengumpulkan belasan merchandise dari beberapa komunitas secara cuma-cuma, hanya beberapa yang saya beli karena komunitas tersebut akan menggunakan hasil penjualan untuk kegiatan sosial.

Merchandise Komunitas yang berhasil saya kumpulkan

Dari belasan merchandise berupa pin, gantungan kunci ataupun stiker yang berhasil saya kumpulkan, ada satu pin yang membuat saya sempat tertegun dengan kalimatnya. “ngebloglah, agar namamu terancam abadi”. Pin dari komunitas blogger Paccarita Anging Mammiri itu langsung membawa ingatan saya kepada blog yang pernah saya buat tapi tidak saya isi.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Nampaknya kalimat di pin Paccarita terinspirasi dari pepatah itu, siapa coba yang tidak mau hidup abadi? Tawaran yang sangat menggiurkan, meski saya tahu abadi yang dimaksud  bukanlah berarti hidup selamanya. Kalimat di pin itu seperti memberikan perintah kalau saya harus menulis di blog. Segera setelah pesta komunitas berakhir, blog yang sudah ada saya buka kembali tapi saya tetap tidak mampu menuliskan sesuatu.

Pin Blogger Anging Mammiri

Akhir Mei 2015, beberapa teman berinisiatif membentuk kelas menulis yang kami sepakati bernama “Kelas Menulis Kepo”. Barulah saat itu saya tertantang mulai menulis. Pertemuan kelas yang dibimbing oleh orang-orang yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis menulis menjadi mata pelajaran dalam kelas ini. Satu bulan berlangsung saya berhasil menyelesaikan 3 buah tulisan, tentu dengan asistensi dan petunjuk dari sesepuh.

Ada kepuasaan tersendiri ketika tulisan kita dibaca orang lain. Saya merasakan itu ketika tulisan kedua yang berjudul “Puasa Hari Pertama bersama Ibu” berhasil saya posting di blog. Tak terkira senang yang saya rasakan ketika notifikasi dari aplikasi wordpress yang saya install di Iphone menyatakan bahwa lalu lintas pengunjung di blog sedang ramai. Bukan hanya peningkatan kunjungan yang mencapai 333 kunjungan, saya pun mendapatkan komentar sekaligus apresiasi dari tulisan saya tersebut. Bukan main girangnya saya, komentar tersebut langsung saya approve dan reply saat itu juga. Kemudian komentar-komentar lainnya bermunculan dari orang-orang yang merasa terwakili oleh tulisan tersebut. Sebagai Newbie dalam ngeblog mendapatkan 333 kunjungan dalam satu postingan seakan-akan tulisan saya dibaca oleh seluruh umat.


Statistik ini yang bikin senyum-senyum

Di saat yang bersamaan saya merasa menyesal. Saya menyesal telah melewatkan banyak sekali peristiwa maupun pengalaman yang saya alami namun tidak saya abadikan dalam bentuk tulisan. Kenapa tidak dari dulu saya menulis di blog? pertanyaan yang tiba-tiba terbersit,  saya bisa menuliskan kisah-kisah perantauan saya ke Makassar untuk menuntut ilmu misalnya, atau menulis tentang kisah percintaan saya pada saat jatuh cinta pun ketika patah hati. Menulis menyadarkan saya bahwa setiap langkah yang kita jejakkan bisa menjadi tulisan jika kita mau memulainya. Menulis juga membuat indra yang ada ditubuh seakan bekerja lebih peka, tinggal si pemilik indra yang meramunya dalam tulisan.

Mengutip kata seorang teman “Menyesalka terlambat kenalki semua”. Seandainya saja dari dulu saya kenal dengan teman-teman di kelas menulis dan pengajar yang sangat mahir, tentu blog saya sudah ada tulisan older post-nya.

Saya merasa terlambat gaul. Gaul tidak melulu punya teman yang banyak, nongkrong di tempat-tempat yang sedang happening, memakai pakaian yang sedang hits, punya perangkat elektronik terbaru ataupun eksis dan dikenal dimana-mana. Mampu menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan diapresiasi oleh pembaca buat saya adalah defenisi lain dari gaul.

Maka ‘Bergaullah’ agar namamu terancam abadi.