Bulan: Agustus 2015

#BatuSekam : Matahari 174 centimeter

Ada yang diam-diam kutanam di senyum juga pejammu. Yang selalu ingin kucuri kembali tiap kali ia mewujud rindu.

Sebuah kalimat yang diposting di media sosial twitter oleh seorang kawan, 111 karakter yang tersusun apik dalam sebuah kalimat yang indah. Postingan tweetnya selalu membuat saya berdecak kagum, kata-kata yang biasa saya dengar sehari-hari ternyata bisa berwujud kalimat yang indah di tangannya.

Meski sebelumnya sudah pernah bersinggungan di sebuah kegiatan, namun saya baru akrab dengan ia di pertengahan Bulan Oktober tahun 2014. Hari itu merupakan pendakian pertama saya, sembilan lelaki tanggung mendaki Gunung Bulusaraung. Salah satu dari mereka bertubuh tinggi dengan badan agak kurus, entah kenapa penampakan fisiknya mirip dengan fisik yang saya miliki. Andi Nasser Otto namanya, lelaki yang kemudian kukenal dengan panggilan Na’ atau Nana’ dengan penekanan pada akhir namanya.

Menurut ceritanya sendiri, awalnya ia  diberi nama Saddam Husein oleh Ayahnya. Ayahnya mungkin adalah pengagum Saddam Husein hanya karena sama-sama orang dari militer. Ibunya yang kemudian mengganti nama itu, setelah  menyaksikan berita tentang perang teluk dan menganggap Saddam adalah orang jahat. Andi Nasser Otto ; Nasser berasal dari kata Nasr yang berarti pertolongan, Otto berasal dari nama Kakek.

Andi Nasser Otto : Na’

Nama yang bertuah buat Na’, menurut saya dia adalah orang yang suka memberi pertolongan, memiliki kepedulian yang tinggi, dan sikap tenggang rasa (kok berasa belajar PPKn yah). Sepengetahuan saya, Na’ bergabung dalam komunitas sosial Lingkar Donor Darah Makassar yang membantu pasien (biasanya pasien dari daerah yang tidak punya sanak keluarga di Makassar) mencari pendonor darah, tidak jarang ia sendiri yang mendonorkan darahnya. Pernah juga ia menunjukkan totalitasnya membantu pasien anak yang bernama Ovan (mengidap kanker mulut), padahal Ovan berasal dari provinsi yang berbeda. Tidak jarang juga Na’ ikut dalam gerakan sosial lainnya seperti Berbagi Nasi atau Emergency Response Team. Bentuk pertolongan yang ia berikan juga bisa terlihat pada saat naik gunung, seringnya ia mengambil posisi paling belakang sebagai sweeper. Sebagai Sweeper ia ingin memastikan semua rombongan baik-baik saja, jikapun tidak, ada ia di belakang memberi pertolongan. ahh Na’ harus mentraktir saya untuk puji-pujian ini.

Mari membahas tulisan Na’. Seperti kalimat pembuka di atas, tulisan-tulisan di blognya dihiasi kata-kata yang puitis, diksi yang beragam dan sastra banget. Membaca tulisan-tulisannya kita akan berpikir, ia pembaca sastra yang tulen. Meski ia sendiri mengakui bahwa bacaannya tidak didominasi bacaan sastra. Saya sendiri kadang mendapatkan tambahan kata-kata baru setelah membaca tulisannya.

Tulisan yang kaya diksi itu kemudian dia torehkan di matamatahari.com. Penuh penasaran saya pun menanyakan kenapa memilih mata matahari sebagai nama blog, yang juga menjadi nama akun twitter dan instagramnya. Mata Matahari adalah sebuah nama pemberian oleh seniornya, nama yang diberikan sebagai penanda sifat/kebiasaan setelah selesai mengikuti diksar penggiat alam (setingkat sispala).

Lima orang teman yang sekelompok dengannya pun mendapatkan nama lapangan sesuai sifat mereka, akar langit, genta bumi, panah api dan mata matahari (satu nama lepas dari ingatannya) adalah nama yang diberikan kepada kelompoknya.

Sering memilih tidak terlihat (karena suka berada paling belakang), tapi mampu memberi hangat. Banyak diam tapi tahu apa yang harus dilakukan untuk tim, seperti mata yang selalu melihat timnya, seperti matahari yang selalu memberi hangat. Kira-kira seperti itu alasan seniornya menyematkan nama mata matahari kepadanya.

Tulisan yang paling mencuri perhatian di blognya adalah cerita bersambung tentang Gunung dan kawanku, meski saya sudah pernah mendengar versi lengkap dari cerita ini, langsung dari mulutnya namun tetap ada letupan-letupan kejutan di tulisan itu. Tulisan ini (katanya) untuk mengekalkan ingatan, ingatan yang mungkin saja bisa tenggelam satu persatu. Tulisan yang akan menghimpun kisah untuk didongengkan kembali pada Aufa dan Althaf.

Andi Nasser Otto, Lelaki yang tingginya 174 Centimeter, matanya tajam, badannya kurus, sikapnya dingin, namun mampu menghangatkan teman sekelilingnya dengan perhatian dan kelembutan yang dia sengaja sembunyikan di balik raganya.

*Tulisan ini sebagai bagian dari tugas di Kelas Menulis Kepo, #BakuSekam (baku tulis Senin Kamis), tugas ini adalah review blog sesama murid Kelas Menulis Kepo dengan menggunakan interval waktu senin – kamis, kamis senin. 

#BatuSekam : Menulis Mengasah Otak

Apa yang membuat keinginan menulis tetap membara? Apakah karena ada ide yang menggenang dalam pikiran? lingkungan yang sesuai? Kisah hidup ataupun kisah cinta yang baru saja di alami? Atau bakat menulis yang mengalir di dalam darah?. Menurut Muhammad Zia Ul Haq, keinginannya untuk menulis yang baru membara sejak bulan Juni 2015 ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Sejak bergabung di kelas menulis Kepo, keinginan menulis yang sudah ada sejak ia masih kuliah di semester 5 seperti menemukan titik terang. Titik terang yang menuntunnya dari alam gelap gulita menuju alam yang terang benderang, hallah.

Titik terang yang ditemukan oleh Ian, nama panggilan yang menurut saya tidak nyambung dengan nama aslinya, Muhammad Zia Ul Haq itu berbentuk kelas menulis Kepo. Kelas menulis yang terbentuk atas keinginan beberapa pemuda dan pemudi yang beberapa diantaranya tidak memiliki dasar menulis. Ian salah satu pemuda itu, dari arsip blog mzuh.wordpress.com terlihat bahwa tulisan ian memang baru dimulai ketika kelas menulis Kepo dibentuk (Juni 2015).

Meski demikian,  dunia penulisan bukan hal yang baru bagi ian. Beberapa tulisan sudah ia hasilkan di tahun 2014 lalu melalui sebuah citizen media di kompasiana.com. Hanya saja menurut Ian, kala itu ia hanya iseng-iseng menuliskan tentang fenomena yang terjadi di sekelilingnya. Hanya dua tulisan yang sempat ia hasilkan di media warga tersebut, kemudian vakum “vakum karena panas-panas tai ayam” menurut Ian yang semangatnya hanya di awal saja.

Muhammad Zia Ul Haq

Tahun 2010 sebenarnya ia punya kesempatan yang baik jika ingin menulis. Di tahun itu Ian sempat bekerja di sebuah jasa desain web, programing, instalasi jaringan dan pengadaan barang IT. Di tempat itu Ian mengaku sangat dibekali pengetahuan mengutak-atik web dan fasilitas internet yang memadai, sayangnya ia lebih senang menggunakan kesempatan itu untuk bermain game online. Meski fasilitas yang ada sangat memadai, namun atmosfir lingkungan yang ada disekitarnya belum mendukung untuk menulis. Atmosfir saat itu lebih mendukung untuk bermain game online.

Namun kini dengan atmosfir yang mendukung di kelas menulis Kepo, Ian mulai menulis lagi di blognya sekarang mzuh.worpress.com. Tulisan pertama Ian di blognya kini, menuliskan tentang curhatan tentang kekasih hatinya yang memusatkan perhatian kepada kegiatan yang mendaulatnya menjadi sekretaris. Pada tulisan ini Ian menemukan jalan masuk yang baik untuk mereview kegiatan tersebut, menggunakan alasan diduakan oleh acara tersebut, Ian kemudian curhat tentang berkurangnya waktu makan malam mereka berdua karena kesibukan Nunu (pacar Ian) di kegiatan tersebut, kemudian menuliskan pengamatan tentang bagaimana Kegiatan tersebut berlangsung. Gara-gara PKM 2015, saya diduakan!

Sembilan tulisan sudah berhasil Ian tambatkan di blognya kini, sembilan tulisan itu ia tuliskan dengan baik. Ciri khas dari tulisan Ian adalah tulisan yang disertai dengan data atau fakta seputar tulisan tersebut, tidak jarang Ian mengutip kata-kata dari buku atau dari seorang tokoh. Data, fakta ataupun kutipan tersebut, membuat tulisan berkarakter karena tidak hanya berlandaskan opini semata. Tentu ciri khas tulisan Ian tidak di dapat begitu saja, Ian yang bekerja sebagai Akademisi di Universitas Muhammadiyah Makassar suka membaca buku yang berbasis data dan buku tentang pendidikan, seperti buku Paulo Friere tentang “Pendidikan Kaum Tertindas”.

Entah ada hubungannya atau tidak, buku Paulo Friere yang menjadi buku favorit Ian mengiringnya bergabung di suatu komunitas yang konsen terhadap pendidikan anak-anak pedalaman, 1000 Guru. Dari pengalamannya di 1000 Guru juga lah Ian menemukan beberapa ide tulisan yang sempat ia tuliskan di Kompasiana dan blog yang dikelola sekarang.

Hobinya yang suka bertualang dengan mendaki gunung, cukup tersalurkan di komunitas yang ia ikuti itu. Latar belakang pendidikan di S1 Bahasa Inggris dan S2 Bahasa Inggris juga sangat berguna di komunitas itu, 1000 guru memang punya program andalan yaitu Traveling and Teaching, dua hal yang sering mengisi hari-hari Ian. Beberapa tulisan Ian pun tidak jauh dari kedua hal tersebut, bahkan kedua topik itu mendominasi tulisan di blognya.

Hidup itu hampa tanpa karya, tulisan adalah sebuah karya. Kalimat yang menjadi satu dari banyak alasan Ian tertarik untuk menulis, dari menulis Ian merasa mendapatkan manfaat untuk dirinya dan juga kepada orang yang membaca tulisannya. Dengan menulis Ian merasa tertantang untuk terus memperbarui pengetahuannya, MENULIS ITU MENGASAH OTAK.

“Menulis tidak perlu banyak, yang penting tulisan kita bisa dijadikan bahan rujukan bagi sebagian orang, dengan begitu tulisan kita bisa disebut tulisan berkualitas”

~ Muhammad Zia Ul Haq ~

*Tulisan ini sebagai bagian dari tugas di Kelas Menulis Kepo, #BakuSekam (baku tulis Senin Kamis), tugas ini adalah review blog sesama murid Kelas Menulis Kepo dengan menggunakan interval waktu senin – kamis, kamis senin. 

Perempuan Arab yang Tak Berketurunan Arab.

“Sebuah review blog seorang teman di kelas menulis Kepo”

Ketika mendapat pertanyaan “orang mana?”, kita akan cenderung menyebutkan tempat kelahiran kita. Tempat kelahiran sering menjadi identitas seseorang jika berurusan dengan pertanyaan itu. Namun tidak sedikit juga yang menjawab pertanyaan itu dengan menyebutkan suku, biasanya karena faktor keluarga meski lahir di tempat yang berbeda dengan daerah yang didiami suku tersebut. Seperti teman saya yang mengaku orang/suku bugis meski dia lahir di Toraja yang juga merupakan salah satu suku di Sulawesi selatan.

Sama halnya dengan Nur Al Marwah Asrul, yang lebih akrab dengan panggilan Nunu. Meski lahir di Riyadh pada tanggal 23 Mei 1990, serta menghabiskan sebagian masa kecilnya di salah kota di Arab tersebut. Dia lebih senang dianggap sebagai orang Parepare “orang tuaku asli Parepare soalnya, kebetulan aja lahir dan besar disana, hahaha” kata Nunu yang merasa hanya menumpang lahir di Riyadh. Parepare adalah salah satu kotamadya yang ada di Sulawesi Selatan, tempat kelahiran presiden ketiga Republik Indonesia Baharuddin Jusuf Habibie. Tekad yang kuat Abah Nunu di tahun 80-an yang pindah mencari kerja ke Riyadh ternyata membuat tiga saudara lainnya pun lahir disana. Nunu pun mengecap pendidikan SD dan SMP di Sekolah Indonesia Riyadh (SIR), sekolah menengah atas (SMA) ia lanjutkan di kota kelahiran abah dan umminya, Kota Parepare.

Nunu adalah seorang perempuan yang lahir di arab meski tidak ada keturunan arab, orangnya gampang diajak bergaul, easy going kalau bahasa gaulnya. Alasan kenapa memilih Blog Nunu untuk saya review, Nunu juga aktif di sebuah komunitas sosial, Sahabat Indonesia Berbagi (SIGI) yang konsen pada edukasi anak-anak. Selain itu, Nunu pernah menjadi volunter di komunitas 1000 Guru yang peduli dengan pendidikan anak-anak di daerah terpencil. Bukan hanya easy going, nunu juga ternyata care terhadap lingkungan sosial di sekelilingnya, terbukti dengan kegiatan-kegiatan komunitas yang ia ikuti.

Nur Al Marwah Asrul ; Nunu.

Salah satu modal besar yang dimiliki Nunu dalam pergaulannya karena ia lincah, mandiri dan punya semangat yang besar. Setidaknya begitu menurut Muhammad Zia Ul Haq (ian) yang setahun belakangan menjadi kekasih hati Nunu. Kepribadian itu jugalah yang mungkin memikat hati ian memilih perempuan berkacamata dan murah senyum itu sebagai kekasihnya. Yah diluar kebiasaanya yang cepat lapar dan cerewet (suka bercerita apapun), maka curhatan siapapun yang sampai ke Nunu akan sampai ke telinga Iyan. Semoga secepatnya kisah cinta mereka berlanjut ke pelaminan, aaamiin.

Sudah bercerita tentang Nunu, mari membicarakan tentang Blognya. Kebiasan menulis di blog bukanlah aktifitas baru untuk Nunu. sejak kelas 2 SMP Nunu sudah pernah menulis di blog dengan alamat geocities.com, yang dia akui adalah blog yang bisa terbilang ababil dengan background yang suka ganti-ganti gambar kartun kesukaannya saat itu. Meski sempat vakum dalam menulis di blog, november 2012 Nunu kembali mulai menulis di blog yang masih dikelola sekarang, nuralmarwah.com.

Tulisan-tulisan di blog nuralmarwah.com banyak bercerita tentang keseharian dan aktifitas yang dijalani Nunu. tulisan tentang pencapaian mendapat gelar akademik Sarjana dengan judul Namaku Bertambah Panjang misalnya, atau tulisan tentang komunitas yang ia ikuti Bahagia itu Sederhana. Beberapa tulisannya juga sarat akan pengetahuan sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ia jalani, S1 jurusan biologi dan S2 jurusan Biomedik, seperti pada tulisan Mari Makan Pelan-Pelan. Bukan hanya tentang aktifitas yang ia tulis dalam blog ini, Nunu ternyata cukup peka melihat fenomena yang terjadi di sekelilingnya, lihat bagaimana dia menanggapi penggunaan kata ta’jil yang sering kita pakai untuk menggantikan kata makanan untuk berbuka puasa, Berbagi Ta’jil?.

Nunu juga cukup lihai membuat cerita fiksi pendek, di blognya terdapat 18 tulisan fiksi yang diberi kategori flash fiction . 18 tulisan fiksi itu mencerminkan Nunu memilki imajinasi yang luas. Dari sekian banyak tulisan yang ada di blog Nunu, saya paling suka mengikuti cerita tentang kepolosan adik bungsunya Uud. Uud yang tinggal bersama abah dan ummi di Riyadh mengharuskan Nunu LDR-an dengan adik bungsunya itu. Pertemuan yang sangat terbatas dengan adik bungsunya itu, selalu menghasilkan cerita tersendiri yang bisa ia tuangkan di blognya. Membaca tulisan tentang Uud membuat saya ingin bertemu dengan Uud, mungkin sesekali mencubit pipinya karena gemes. Cerita tentang Uud.

Tulisan di blog Nunu jika ingin diberi kategori umur seperti yang ada di tayangan televisi, bisa diberi label untuk semua umur (SU). Menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana tanpa perlu penafsiran yang tinggi, membuat tulisan Nunu bisa dibaca siapa saja. Pembaca tidak perlu memiliki pengetahuan bahasa yang luas untuk memahami tulisannya, deskripsi lingkungan, suasana maupun perasaan tergambar jelas dalam setiap tulisannya. Latar belakang pernah tinggal di arab juga sesekali menghiasi tulisan Nunu, membuat tulisannya kaya akan pengetahuan baru bagi pembaca. Beberapa tulisan tentang trip/traveling menambah ragam tulisan yang ada di blognya. Sungguh blog yang kaya.

Semenjak tergabung di kelas menulis Kepo bersama Nunu, saya selalu menyempatkan membaca tulisan yang diposting di blognya. Dari membaca tulisan Nunu saya juga bisa banyak belajar bagaimana mendeskripsikan suatu keadaan, hal yang masih sulit saya lakukan. Sesuai tagline yang digunakan di kelas menulis Kepo ;

“Guru siapa saja, Murid siapa saja, Kelas di mana saja”

– Kelas Menulis Kepo –

Berani Bermimpi!

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

(Andrea Hirata, Sang Pemimpi)

Sekitar dua puluh sembilan menit lagi, jam digital finger print di kantor akan menunjukkan waktu pulang.  Notifikasi aplikasi chating di smartphone  saya menunjukkan ada pesan yang masuk, dengan agak malas karena perasaan ngantuk yang mendera, saya membuka aplikasi chating berwarna hijau tersebut. Ada pesan yang cukup panjang di antara pesan-pesan pendek lainnya. Pesan yang berhasil mengusir kantuk saya sore itu, pesan yang cukup menginspirasi tapi berhasil mengiris hati saya.

“Teman-teman. Saya mau cerita sesuatu.

Beberapa jam yang lalu saya ditelepon Andan, teman yang kebetulan jadi kurator untuk program pertukaran seniman Indonesia-Korea (yang mendatangkan Hyeongman dan Myung kemarin). Tadinya dia berniat mendaftarkan saya untuk residensi di Korea selama 2 bulan, tapi ketika tahu kalau umurku sudah 38 dia bilang kayaknya susah karena yang dicari adalah yang umurnya di bawah 35.

Yang saya mau bilang adalah ; selagi kalian masih muda, perluaslah wawasan, keterampilan dan pergaulan. Pilih satu bidang yang kalian minati dan focus di sana. Jangan sia2kan masa muda kalian dengan sekadar hura-hura. Cari ilmu sebanyak mungkin.

Saya cukup menyesal melewatkan banyak usia muda saya dengan kegiatan monoton di kantor. Tidak ada salahnya dengan kerja di kantoran, tapi di luar itu harus banyak2 menyerap ilmu dari mana saja, mengasah terus kemampuan supaya jadi ahli di bidang yang kalian pilih.

Dan jangan lupa, menulislah! Karena menulis membuat otak kalian tidak berkarat.

Selamat sore, semoga menginspirasi.”

Pesan ini diteruskan di grup chat kelas menulis Kepo, yang berisi kebanyakan anak-anak muda berusia 20-an. Kelas menulis yang berisi anak-anak muda yang punya keinginan menulis, namun belum memiliki banyak ilmu dalam dunia penulisan. Di grup tersebut juga terdiri dari para pendamping, salah satunya Syaifullah Dg. Gassing yang akrab kami panggil Daeng Ipul, orang yang menuliskan pesan panjang di atas.

Saya sebagai salah satu murid di kelas itu, cukup teriris hatinya setelah membaca pesan Daeng Ipul. Pesan yang mengingatkan saya akan mimpi ketika masih sekolah. Mimpi yang membuat saya memilih jurusan Hubungan Internasional saat mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa di universitas negeri. Mimpi yang melecut semangat saya kuliah di jurusan keperawatan agar nantinya bisa bekerja di luar negeri, setelah gagal melewati tes masuk universitas negeri. Mimpi tentang berkeliling dunia, atau paling tidak melihat belahan dunia lain. Bagaimana kabar mimpi itu sekarang? Tulisan ini tidak akan ada jika dulu saya mampu mengejar mimpi itu.

Kemudian saya teringat seseorang  saya kenal baik, seseorang yang pernah menjadi tetangga saya bertahun-tahun lamanya.  Ia berhasil mewujudkan mimpinya, mimpi yang mulai terbangun sejak masih di sekolah dasar. Syaifuddin Suaib yang lebih dikenal dengan nama Cipu, tinggal hanya lima langkah dari tempat tinggal saya di kampung. Rumahnya cukup sering saya kunjungi, kebetulan saya belajar sampai menamatkan al-Quran di rumahnya, Ibu Cipu adalah guru ngaji saya. Cipu mengecap pendidikan setelah lulus SMA di luar negeri, tepatnya di University Of Melbourne. Penasaran dengan cerita kesuksesannya, saya pun menghubunginya lewat chat segera setelah membaca pesan Daeng Ipul di atas.

Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan balasan dari pesan yang saya tinggalkan, melalui aplikasi chat Cipu bersedia meluangkan waktu untuk menjawab rasa penasaran saya.  Mimpi untuk kuliah di luar negeri ternyata bukan hal yang baru bagi Cipu, mimpi itu sudah lama terpatri dalam hidupnya.

Di sekolah dasar dulu ia pernah membaca buku cerita tentang anak yang ikut bapak sekolah di Perth, bayangan tentang luar negeri juga ia dapatkan setelah membaca buku Totto Chan yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, buku anak-anak yang bercerita tentang nilai pendidikan yang didapatkan penulis selama menempuh pendidikan di Tomoe Gakuen, Jepang (setara dengan SD). Deskripsi tentang suasana di Jepang dalam buku Totto Chan berhasil Cipu visualkan melalui matanya sendiri, ketika akhirnya ia pada tahun 2004-2005 mengikuti program student exchange ke Jepang.

Rintangan tentu tidak lepas dari perwujudan mimpi Cipu, menimba ilmu di luar negeri hampir saja ia wujudkan ketika masih duduk di bangku SMA. “saya sebenarnya pernah ikut seleksi pertukaran ke luar negeri pas SMA tapi ga jadi berangkat karena bapak meninggal” kata Cipu, impian yang harus ikut terkubur bersama kepergian bapak tercinta. Tak patah arang ia tetap berusaha mengejar mimpi itu, meski Ibunya melarang ia kuliah di luar negeri, tapi ia  cuek dengan larangan itu karena berpikir toh belum tentu lolos, meski awalnya Ibu terkejut saat mengetahui Cipu lolos seleksi kuliah di luar negeri namun akhirnya menjadi kebanggan tersendiri bagi Ibunya.

Saifuddin Suaib, gagah kan?

Sistem pendidikan yang bagus, beasiswa yang banyak, network yang luas serta bisa sekalian traveling adalah alasan kenapa akhirnya Cipu memutuskan untuk mewujudkan mimpinya. Tentu ini bukan sekadar aji mumpung, ini adalah jawaban dari usaha yang telah ia lakukan selama ini. Mencari informasi beasiswa, mencari informasi Negara target, kampus serta jurusan yang sesuai, permantap bahasa inggris adalah persiapan kecil yang ia lakukan. Senada dengan yang diucapkan Sahabuddin Jumadil, yang kini mengecap pendidikan S2 di Jepang.

Sahabuddin Jumadil adalah teman SMA saya, bahkan pernah sekelas di kelas tiga. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di jurusan Geologi Universitas Hasanuddin, ia melanjutkan pendidikan S2 di Faculty Of International Resource Science, Akita University. Segera setelah mendapat kabar tersebut, saya yang cukup dekat dengan Sahabuddin langsung menghubunginya. Perbincangan kami dimulai ketidakpercayaan saya ia sekarang ada di Jepang, maklumlah kami sempat lost contact.

Keinginan kuliah di Jepang juga sudah mulai dimimpikan Saha (begitu dia akrab dipanggil) ketika masih di SMA, namun tergiur oleh tawaran kuliah di Jurusan Geologi melalui Jalur Pemanduan Potensi Belajar (JPPB) atau singkatnya jalur bebas tes. Meski form pendaftaran beasiswa ke Jepang sudah di tangan, Saha lebih memilih tawaran JPPB yang sudah pasti akan menerima kuliah di Universitas Hasanuddin. Mimpi kuliah sarjana di Jepang ternyata terwujud setelah dia Sarjana “Allah ternyata memberikan kesempatan itu berkat saya kuliah di jurusan Geologi Unhas” kata Saha menimpali pertanyaan saya, apakah ia menyesal tidak mendaftarkan diri ke Jepang waktu SMA?.

Saha sangat tertarik dengan Jepang sebagai salah satu negara maju, selain itu Jepang juga memiliki empat musim, hal yang tidak ia dapatkan di Indonesia. “Alasan terakhir setelah sekian banyak alasan yaitu pengen jalan2, hehe” alasan yang sukses bikin saya iri. Masih ingat di SMA dulu Saha sering kami gelar dengan julukan “pendekar alis tebal” lantaran ia memiliki alis yang lebat dari siapapun di sekolah, pendekar alis tebal itu kini ada di Jepang memperdalam ilmu pendekarnya.

Sahabuddin Jumadil, lebat kan?
berfoto dengan latar belakang salju dan orang yang sedang kencing hahaha

kisah kesuksesan meraih mimpi dua orang yang saya ceritakan di atas, bisa menjadi pembakar semangat para pemimpi yang belum terbangun dari mimpinya. Bukan hanya kisah sukses yang bisa dijadikan sebagai pemecut semangat, karena masih ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari sebuah penyesalan. saya salah seorang yang termasuk menyesal karena tidak bisa memenuhi mimpi, titik kegagalan saya adalah usaha yang tidak maksimal. Tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri yang berujung kepada keputusan untuk tidak bertindak lebih jauh. Semester awal kuliah di keperawatan, saya pernah tekun belajar bahasa inggris, alasannya karena untuk bekerja di luar negeri saya harus mampu berkomunikasi dalam bahasa inggris. Ini juga yang saya jadikan motivasi setelah awalnya menggerutu karena kuliah di jurusan yang dipilihkan ibu.

Usaha yang saya lakukan tidak maksimal, saya hanya belajar bahasa inggris secara otodidak dengan membeli buku yang judulnya sangat menjanjikan “Menguasai bahasa inggris dalam seminggu” atau “Menguasai Bahasa Inggris tanpa kursus”. Tidak ada salahnya belajar secara otodidat, hanya saja saya tidak pernah menamatkan tiga judul buku yang saya beli. Jenuh dengan hasil yang tidak seberapa, mimpi saya menghilang seiring tumpukan tugas kuliah.

Begitupun dengan Daeng Ipul, pesan yang dilontarkan grup chat hari ini bernada penyesalan. Daeng ipul menyesal waktu masih muda hidupnya terlalu monoton, dan tidak ada usaha untuk menambah pengetahuan di luar. Sama seperti saya, Daeng ipul juga pernah mimpi ke luar negeri namun tidak pernah berusaha mewujudkannya, hal yang kemudian Daeng Ipul sesali. Luar negeri itu keren terutama Eropa, apalagi jika bisa keliling dunia, menurut Daeing ipul. Pikiran yang mungkin dipengaruhi oleh salah satu tokoh kartun kesukaannya yang juga suka bertualang, Tin Tin.

“Cara terbaik belajar dari penyesalan/kegagalan seseorang adalah dengan tidak mengikuti apa yang orang gagal itu lakukan”

Terkhusus bagi yang ingin kuliah ke luar negeri, Saha pernah berpesan ; kuncinya adalah jangan menyerah, meski banyak tawaran beasiswa tapi tidak ada yang mudah. Prosesnya sangat melelahkan sehingga hanya orang yang bertekad kuat dan mampu bertahan yang akan berhasil.

Pesan Cipu beda lagi, sering mendapatkan pertanyaan bagaimana cara lulus seleksi beasiswa ke luar negeri, ia menuliskan sedikit saran di blognya dengan judul Give A Shotyang saya pahami bisa bermakna LAKUKAN SAJA!

“Bermimpi itu mudah, semudah membayangkan diri kita berada di suatu tempat yang indah. Namun tidak banyak pemimpi yang berani bangun dan menghadapi kenyataan bahwa esensi dari sebuah keindahan berarti perjuangan tak kenal lelah”

~ Ardian Adhiwijaya ~

Arisan, ajang pamer istri

“Menangiska di malam pertamaku, menyesalka menikah” kata teman saya Mashuri yang baru menikah lima bulan lalu. Tentu saja saya yang bertanya kaget dengan jawaban yang diberikan Uri, panggilan untuk Mashuri. Pertemuan dengan Uri terjadi saat arisan teman SMA, arisan yang berlangsung sekali dalam sebulan.

Ide arisan ini muncul sebenarnya hanya agar bisa bertemu teman-teman SMA, arisan inilah yang kami jadikan alasan untuk bertemu setidaknya sekali dalam sebulan. Sebagai perantau di kota Makassar bertemu dengan teman SMA punya kesan tersendiri, kesibukan pekerjaan, pergaulan dengan teman baru, membuat intensitas pertemuan tersisih. Arisan ini kami sebut sebagai arisan angkatan, arisan yang anggotanya adalah alumni SMA negeri 1 Panca Rijang, Kabupaten Sidrap khusus angkatan 2006. Jumlah uang yang terkumpul pun dalam arisan tidak banyak, seratus ribu per-orang atau satu juta delapan ratus ribu rupiah sekali arisan, yah sekali lagi arisan ini memang diadakan hanya sebagai alasan untuk bertemu. Meski sudah tiga kali arisan diadakan, belum pernah sekalipun semua teman hadir, tak apalah minimal ada usaha untuk saling bertemu.

Bulan agustus ini menjadi pertemuan arisan yang keempat, setelah panjang lebar membahas tempat yang akan dijadikan lokasi arisan, akhirnya diputuskan suatu cafe yang di kawasan Panakkukang. Saya datang belakangan dari yang lainnya, nampak lima teman SMA saya sudah duduk di tengah cafe itu. Semuanya laki-laki, entah apa yang membuat teman-teman perempuan tidak bisa hadir dalam arisan ini. Meski yang datang hanya laki-laki, arisan ini tidak hanya betul-betul dihadiri ‘mahluk batangan’, ada tiga sosok ‘mahluk halus’ juga. Yah tiga perempuan itu adalah istri dari tiga orang teman.


“Wah kayaknya arisan kali ini ajang pamer istri dih” celetuk saya begitu tiba di tempat mereka duduk. Entah karena bercanda atau iri, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut saya. Basten teman saya mengiyakan yang saya katakan “Iyo, na bawa semua istrinya” kata Basten bernada kesal, Basten memang masih lajang sama seperti saya. Zainal yang juga masih lajang hanya tertawa kecil, mungkin dia juga kesal tapi entahlah, hati orang siapa yang tahu.

Pada arisan kali ini ada tiga teman yang membawa serta istri mereka, pertama ada Arfah dan Selvi yang sedang hamil tiga bulan, mereka menikah bulan Januari tahun 2015 ini, kemudian ada Imam dan Rahmah yang baru saja melangsungkan pernikahan Bulan Agustus 2015 ini, terakhir Mashuri dan Rere yang saya ceritakan di awal tulisan ini, Rere juga sudah sedang hamil 4 bulan. Senang rasanya melihat teman-teman membawa serta istri mereka. Paling tidak, bisa mengingatkan kalau memang sudah waktunya berkeluarga.

para istri (Rahma, Rere, Selvi)

Maka topik pembicaraan pada arisan kali ini, tidak jauh dari urusan berumah tangga. Imam mengaku hidupnya lebih teratur setelah menikah, bangun pagi tidak lagi dibangunkan sama alarm, sarapan sederhana sudah siap sebelum berangkat kerja. Arfah tak jauh beda, ia mengatakan setelah menikah lebih terurus daripada sebelumnya. Uri beda lagi, menanggapi pertanyaan saya bagaimana persiapan dia sebagai calon bapak “biasaji, bagusnya dia tidak merepotkanji” sambil menunjuk istrinya yang duduk di depannya. “tapi menyesalka menikah ces, menyesalka kenapa baru menikah sekarang, enak pale” kata Uri dengan mimik yang nampak mengejek, mengejek saya, basten dan Zainal para lajang yang hadir di arisan kali ini.

Saya paham ‘enak’ yang dimaksud Uri adalah terpenuhinya kebutuhan biologis, namun pernikahan tentu saja bukan hanya tentang hubungan suami istri. Pernikahan tentu merujuk kapada hal yang lebih kompleks, menyempurnakan ibadah, mendapatkan keturunan, belajar bertanggung jawab adalah sebagian kecil dari makna yang terkandung dalam sebuah pernikahan. Meski Uri hanya bercanda mangatakan kalimat itu, bagi yang lajang ini adalah sebuah sindiran halus yang bisa bermakna KENAPA BELUM MENIKAH? MENIKAH ITU ENAK!

Pernikahan teman tentu adalah kabar gembira, tapi di sisi lain bagi yang belum juga menikah ini seperti tamparan. Pernah sekali saya diberi nasihat oleh seorang tua, menikah itu adalah bentuk tanggung jawab kamu sebagai laki-laki, kamu tidak bisa dibilang laki-laki yang bertanggung jawab kalau belum menikah. Bos saya di kantor berkata “penting itu adil untuk orang lain, tapi kau juga harus bisa bertindak adil untuk dirimu sendiri, menikah ko supaya kau bisa adil sama dirimu sendiri”. Bagi  kamu yang membaca tulisan ini dan belum menikah, I FEEL YOU BRO!. Oh iya arisan kali ini, nama yang muncul mendapatkan arisan adalah Mita, dia tidak sempat hadir.

para peserta arisan

Sampai ketemu di arisan selanjutnya kawan!

Tentang Pot dan Nilai Budaya di Dalamnya

Beberapa malam lalu saya mengikuti sebuah kelas menulis dengan materi autoetnografi dalam praktek. Pada kesempatan itu dijelaskan bahwa autoetnografi adalah tekhnik menulis dengan menggali pengalaman ataupun interaksi diri sendiri untuk memahami budaya, jadi sebenarnya semua orang bisa menulis karena memiliki pengalaman dan budaya. Autoetnografi bisa dibilang bahwa sebuah tulisan yang menceritakan diri sendiri, interaksi, lingkungan ataupun konflik yang dialami. Hal  yang tentunya terjadi pada setiap orang. Semua orang memiliki budaya.

Penjelasan materi kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan “Lantas mahluk apa itu budaya?”. Budaya adalah pengetahuan, nilai, kepercayaan, tingkah laku, artifak yang semuanya berasal dari manusia. Sesuatu yang berasal BUKAN dari manusia tidak bisa disebut sebagai budaya, budaya bisa dipelajari dan dibagi oleh orang lain maka budaya itu adalah sebuah konteks sosial. Ciri budaya yang paling menonjol adalah sering diterima apa adanya atau sudah dari sononya, seperti banyak pamali yang sering kita lakukan tanpa mencari tahu kenapa pamali itu ada, misal kepercayaan orang bugis yang tidak membelohkan bepergian ketika perjamuan makan sedang berlangsung, karena dipercaya akan mendapat musibah. Orang bugis tidak pernah tahu, apa korelasi antara meninggalkan orang yang sedang makan dengan keselamatan saat bepergian. Kepercayaan itu diterima begitu saja karena sudah dilakukan turun temurun, itulah budaya.

Penjelasan selanjutnya tentang budaya bahwa budaya itu bisa berubah, bisa juga bukan berasal dari dalam atau asli, seringkali merupakan pengaruh dari faktor eksternal. Budaya bukan hanya tentang karya seni. Budaya yang sering kita pahami adalah sesuatu yang bersifat kedaerahan atau etnis, padahal budaya tidak melulu berasal dari etnis tertentu.

Penjelasan tentang budaya yang dikemas dalam materi autoetnografi ini sungguh membuka pikiran saya tentang budaya. Selama ini ada banyak budaya yang kita lakukan tanpa sadar itu adalah budaya, banyak perilaku menyimpang yang kita lakukan secara sadar, tanpa mengerti bahwa itu akan menjadi budaya.

Setelah mendapatkan materi tentang budaya, baru-baru ini saya tersadar akan satu budaya yang terjadi di sekitar saya. Berawal dari suatu pagi yang biasa saja, saya yang hari itu melakukan supervisi ke lahan praktek mahasiswa keperawatan menemukan sesuatu yang mengganggu pikiran. Mendengarkan keluh kesah mahasiswa tentang sikap dan perilaku pembimbing di lahan praktek membuat saya naik pitam. Bagaimana tidak, saya merasa mahasiswa saya diperas oleh oknum tertentu hanya untuk kepentingan pribadinya, sebuah kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan proses belajar yang sedang dijalani mahasiswa.

Mahasiswa yang saya maksud adalah mahasiswa Profesi Ners Situs Judi Slot Online yang Gampang Menang (perawat), selama pendidikan mereka akan ditempatkan di berbagai fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, panti sosial ataupun di tengah masyarakat. Tugas mereka adalah belajar secara ril, mempraktekkan teori/skill yang sudah mereka dapatkan selama duduk di bangku kuliah, langsung ke pasien yang sebenarnya. Untuk mengakomodasi itu maka akan dilakukan kerja sama dengan pihak  penyedia fasilitas kesehatan. Selain dibimbing oleh dosen institusi yang kemudian disebut pembimbing institusi, mahasiswa juga dibimbing oleh staf/perawat yang ada di lahan praktek yang kemudian disebut pembimbing lahan. Mahasiswa akan dievalusi oleh pembimbing institusi dan pembimbing lahan, sederhananya mahasiswa mendapatkan nilai dari kedua pembimbing tersebut.

Sebelumnya seorang mahasiswi yang sedang menjalani pendidikan profesi ners pada suatu kesempatan menemui saya, mengeluhkan nilai praktek dari pembimbing lahan belum juga keluar. “Kenapa bisa?” balas saya agak bercanda, kemudian mahasiswi bersangkutan bercerita ia bersama teman-temannya diminta membeli pot bunga besar sebagai kenang-kenangan, sebelum nilai dikeluarkan. Dahi saya mengkerut, bukan karena panasnya cuacanya di Makassar akhir-akhir ini, saya kaget sekaligus heran hal seperti ternyata terjadi di bawah pengawasan saya. Teringat beberapa bulan lalu cerita yang hampir sama sampai di pendengaran saya, mahasiswa di tempat yang berbeda diminta patungan membeli lemari es untuk disimpan di ruang perawatan tempat mereka melakukan praktek, sebelum mereka mendapatkan nilai.

Mencoba mencari kebenaran kabar yang saya dengar, saya menemui beberapa mahasiswa yang sekolompok mahasiswi yang melapor tadi. Entah kompak atau memang terjadi, cerita yang sama saya dapatkan dari beberapa orang mahasiswa. Namun, alangkah salahnya saya jika membenarkan kabar ini jika tidak mendengarkan dari sisi lainnya. Saya pun mencoba menelpon pembimbing lahan yang dimaksud, tentu dengan tidak langsung menanyakan perihal ‘pot bunga’ yang diminta. Mencoba menggali informasi dengan tetap menjaga perasaan, saya hanya menanyakan kenapa nilai mahasiswa belum dikeluarkan padahal mahasiswa sudah selesai praktek satu minggu lalu. “Masih ada yang perlu saya bicarakan dengan mereka pak” kata pembimbing lahan di seberang telepon, meski memang kalimat tersebut mengandung banyak makna, saya  menyimpulkan bahwa cerita mahasiswa benar adanya.

Cerita yang berawal dari pot bunga pun berkembang, seorang mahasiswi yang tidak hadir praktek selama 2 hari karena sakit, diminta membeli jam tangan untuk menggantikan ketidakhadiran itu. Tidak tanggung-tanggung jam tangan yang diminta adalah jam tangan bermerk, Alexander Christie. Melalui telepon mahasiswi bersangkutan membenarkan kabar tersebut, pembimbing lahan meminta jam tangan yang dimaksud dengan alasan anaknya tidak lama lagi akan berulang tahun, dan ia berniat menghadiahkannya sebuah jam tangan. Dengan tegas saya melarangnya untuk memenuhi permintaan itu.

Sepulang di rumah saya menuliskan sebuah status di Facebook tentang kejadian yang baru saya dengar. Benar dugaan saya, masalah seperti ini bukan pertama kali terjadi. Beberapa teman facebook menceritakan pengalaman mereka, bisa dibaca disini.

Saya tidak menampik bahwa mahasiswa juga punya andil dalam hal ini, beberapa mahasiswa malah menyukai cara seperti ini. Menawarkan barang atau sejumlah uang untuk melicinkan proses pendidikan yang dialami. Bisa saja awal dari praktik seperti ini karena memang mahasiswa sendiri yang menciptakannya. Namun siapa yang tahu dari mana asal muasal kejadian seperti ini hingga menjadi budaya. Tapi seharusnya pembimbing lahan sebagai pendidik punya kedewasaan dalam menyikapi hal seperti ini, bukan malah menyambutnya dengan tangan terbuka.

Mahasiswa tidak seharusnya mencari jalan pintas dalam menjalani pendidikan, ikuti proses yang ada pasti tidak akan ada masalah. Kalaupun karena satu dan lain hal terlibat dalam masalah, seharusnya berkonsultasi dengan institusi pendidikan, toh sudah ada alur pemecahan yang sudah disiapkan. Paling tidak institusi pendidikan akan mencari jalan keluar, jika memang masalah yang dialami belum termuat dalam sebuah aturan. Saya yakin tidak ada institusi pendidikan yang ingin melihat mahasiswa mereka gagal, karena kegagalan mahasiswa adalah cerminan gagalnya pembinaan yang dilakukan institusi pendidikan.

Pembimbing institusi ataupun pembimbing lahan tidak seharusnya menerima apalagi meminta, dengan begitu budaya ini tidak akan tercipta. Tidak ada yang salah dengan meminta, tapi apakah harus dengan tindakan intimidatif? Menahan nilai misalnya. Nilai yang merupakan titik lemah dari mahasiswa, nilai berupa angka yang akan menentukan masa depan mereka. Titik lemah ini yang mengundang mahasiswa dan pembimbing untuk ‘bermain’.

Awalnya saya berpikir mungkin ini adalah imbas dari keluhan perawat tentang gaji kecil yang mereka dapatkan, tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Selama ini perawat memang masih merasa hasil jerih payah mereka belum terbayarkan sebagaimana mestinya, pendidikan yang mereka jalani sama dengan pendidikan yang dijalani dokter, tapi gajinya jauh dari yang didapatkan dokter. Pikiran tersebut terbantahkan oleh ‘ini perbuatan oknum’, tidak bisa digeneralisasi kepada semua perawat atau pembimbing lahan. Dengan gaji yang sama, masih banyak pembimbing lahan yang melakukan fungsi mendidik dengan baik tanpa mengharapkan barang dari mahasiswa. Ini bukan tentang materi tapi tentang Moral.

Hal seperti ini bukan hal baru, sadar atau tidak dari dulu sudah sering dilakukan. Orang tua membawakan telur kepada kepala sekolah dengan maksud akan menyekolahkan anaknya di sekolah dasar yang dipimpimnya. Tawaran bantuan dana untuk operasional sekolah agar seorang siswa bisa mewakili sekolah dalam acara nasional, jambore pramuka misalnya. Pemilihan jurusan di SMA dicemari oknum guru dengan memberikan tarif tertentu pada jurusan favorit. Ratusan juta untuk masuk kuliah di sebuah institusi pendidikan yang katanya ada ikatan dinas dengan pemerintah. Contoh-contoh hal yang terjadi di sekitar kita, menguatkan bahwa ini budaya yang sudah lama ada. Hanya bentuk dan pelakunya yang berbeda.

Lantas bagaimana sikap kita yang tidak terlibat di dalam lingkaran budaya itu? Hal yang paling gampang kita lakukan adalah jangan diam, jangan acuh, bertindak!. Jangan karena tidak berimbas langsung kepada kita yang tidak terlibat, kita memilih memdiamkannya. “Toh yang rugi bukan kita”, “biarlah nanti dibalas di akhirat”, “nanti akan dapat ganjarannya kok” adalah buah pemikiran yang salah. Secara tak langsung budaya seperti yang saya ceritakan di atas bertahan karena kita yang tidak terlibat membiarkannya terjadi di depan mata.

“Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik.”

Pilihan Antara Harapan dan Keinginan

Anak mana yang tidak ingin membahagiakan orang tuanya, membuat mereka bangga dengan prestasi, jabatan, karir tentu pernah terlintas di kepala semua anak. Salah satu cara membahagiakan orang tua adalah dengan memenuhi harapan mereka, entah itu harapan tentang prestasi, karir, maupun jodoh. Namun seringkali harapan orang tua tidak sejalan dengan pemikiran anak, seringkali harapan dari orang tua merupakan perwujudan harapan masa lalu mereka yang tidak terwujud atau merupakan perwujudan harapan dari tekanan-tekanan sosial. Hal ini terjadi kepada saya ketika akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah.

Sebagai anak pertama (sekaligus cucu pertama) harapan besar seperti membebani pundak saya, tentu saja orang tua, kakek-nenek atau sebut saja keluarga besar ingin melihat anak-cucu-ponakannya lebih baik dari mereka ; di keluarga bapak hanya satu tante saya yang menyandang gelar sarjana, di keluarga Ibu tak ada satupun yang menyandang gelar sarjana. Sebagian besar keluarga dari bapak dan ibu adalah petani, beberapa diantaranya berjualan barang kebutuhan sehari-hari di pasar sentral, itupun hanya menempati kios-kios kecil seperti ratusan kios lainnya. Salah satu jalan untuk menjawab harapan itu dengan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Pertengahan tahun 2006, pendidikan SMA saya selesaikan dengan cukup memuaskan. Nilai Ujian Akhir Nasional yang saya dapatkan berada di atas rata-rata. “patterrui sikola mu nak” kata-kata pengharapan yang diucapkan bapak agar saya melanjutkan sekolah, girang bukan main saya pada saat itu yang dari awal memang ingin sekali melanjutkan kuliah, Apalagi ada gengsi yang memenuhi kepala saya melihat teman sekolah akan melanjutkan kuliah juga. Belum lagi gengsi orang tua melihat anaknya sukses agar bisa mengangkat derajat keluarga di mata masyarakat

Persoalan gengsi dalam menyekolahkan anak bukan hal yang baru di kampung saya, beberapa orang tua rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit demi melihat anaknya kuliah di tempat yang konon katanya sudah jelas masa depannya. Meski harus melalui jalur khusus yang bisa dibilang curang. Salah satu sekolah yang diagungkan-agungkan adalah STAN (Sekolah Tinggi Administrasi Negara), sebuah institusi pendidikan tinggi di bawah binaan kementeriaan keuangan. Lulusan  sekolah ini sudah pasti mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, kalau sudah bekerja ‘biaya’ yang dikeluarkan pun akan kembali dengan mudah. Setidaknya seperti itu persepsi yang berkembang sehingga menjadiakan STAN seperti pintu harapan menuju hidup yang lebih baik.

Entah mana yang punya pengaruh paling besar membentuk keinginan saya untuk kuliah, membagiakan orang tua? harapan keluarga? Gengsi? Atau memang saya ingin menuntut ilmu lebih jauh?, yang jelas faktor-faktor itulah yang bercampur menjadi satu kemudian muncul dalam bentuk keinginan yang menguasai raga dan pikiran saya. Saya harus lanjut kuliah.

Konflik kemudian muncul ketika akan memutuskan jurusan mana yang akan saya pilih. Saat itu saya sangat tertarik dengan jurusan ilmu komunikasi dan Jurusan hubungan internasional, agak kontradiktif dengan jurusan IPA yang saya jalani di SMA mengingat dua jurusan yang saya minati termasuk dalam golongan kelompok IPS. Orang tua khususnya Ibu, dari awal ingin saya mengambil jurusan kesehatan, karena mengingat biaya kuliah kedokteran hanya akan menambah beban ekonomi keluarga, maka pilihan jurusan keperawatanlah yang sangat mungkin.

Entah berapa kali saya harus berdebat dengan Ibu tentang pemilihan jurusan, masing-masing mengeluarkan argumen dan alasan untuk jurusan yang dipilih. Beberapa tetangga yang sudah bekerja sebagai perawat, peluang kerja yang terbuka lebar dan kebutuhan tenaga perawat yang tidak pernah habis menjadi alasan alasan pamungkas Ibu. Saya yang hanya bermodalkan minat dan keinginan dalam menentukan jurusan bingung bagaimana harus menyakinkan mereka.

Mencoba win-win solution, saya menawarkan kesepakatan dengan Ibu. Saya akan mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dengan jurusan yang saya minati tapi apabila tidak lulus seleksi maka saya akan menerima pilihan Ibu tanpa perlawanan. Ibu setuju dengan kesepakatan yang saya tawarkan. Waktu demi waktu berlalu, ujian SPMB selama 2 hari saya ikuti setelah mengikuti bimbingan belajar selama satu bulan. Hasilnya? Saya dinyatakan tidak lulus dari pilihan jurusan yang saya minati.

Mungkin memang doa Ibu lebih didengarkan oleh Tuhan dibanding saya yang shalatnya pun masih bolong-bolong. Mungkin memang doa Ibu adalah yang terbaik untuk anaknya. Empat tahun lamanya mengecap pendidikan di sekolah keperawatan ditambah satu tahun profesi saya jalani dengan suka cita. Bahkan pekerjaan sekarang berasal dari jurusan yang dipilihkan Ibu. Sejak akhir tahun 2010 saya terdaftar sebagai Dosen Tetap di STIKES Nani Hasanuddin Makassar bahkan dipercaya sebagai Ketua Program Studi Profesi Ners, yang setahun belakangan saya emban.

Terkadang pemilihan keputusan yang akan kita ambil, tidak harus benar-benar berasal dari keinginan sendiri. Pertimbangan keluarga, lingkungan sosial dan kemampuan diri bisa dimasukkan poin dalam membuat keputusan.

Perempuan Dengan Rambut Terurai

Karet gelang berwarna merah yang saya dapati di bawah bangku taman, kini bermain di jemari, menyilang kanan-kiri atas-bawah hingga berwujud sebuah bentuk, kubus, bintang, ketapel sampai bentuk menara Eifell. Permainan masa kecil yang sempat membuat saya tenggelam dalam masa lalu.

Tiga puluh menit berlalu sejak saya disini, di salah satu dari sedikit ruang terbuka hijau di kota ini. Taman ini cukup ramai di sore hari, selain diperuntukkan sebagai tempat berolahraga, beberapa keluarga memanfaatkan taman ini untuk piknik sederhana. Di sudut timur taman nampak sebuah keluarga kecil yang terdiri dari suami, istri, dan dua anak mereka. Mereka duduk santai sembari bercengkrama satu sama lain dengan beberapa makanan ringan yang digelar di atas tikar plastik. Sungguh potret keluarga yang harmonis. Dari pakaian yang mereka kenakan, saya berasumsi mereka adalah keluarga yang menganut agama islam dengan baik, anak gadis mereka yang kira-kira baru berusia tiga tahun sudah dibiasakan menggunakan hijab seperti yang dikenakan Ibunya.

Mencoba menikmati suasana sore di taman, saya sandarkan punggung di bangku taman yang nampak lapuk termakan usia dan cuaca, lusuh dan tak terawat. Beberapa sudutnya pun sudah cacat menampakkan warna asli kayu. Saya sedang menyaksikan awan di langit yang bergerak dan berubah bentuk mengikuti arah angin ketika dia datang. Perempuan yang berhasil mencuri hatiku dan memenjarakannya dalam waktu yang relatif singkat.

“Aduh maaf telat, jalan agak macet karena ada perayaan Muktamar, sudah lama menunggu sayang?” saya hanya membalasnya dengan senyuman, saya cukup terpana untuk membalasnya dengan kata-kata. Terpana dengan salah satu karya sublim tuhan, rambut panjang yang dia biarkan terurai, bulu mata lentik, mata indah bola pingpong serta senyum merekah yang bisa meruntuhkan ideologi seorang filsuf. Belum lagi cara berdandan dan berpakaian yang sederhana, namun tetap menampilkan keanggungannya sebagai perempuan. Tidak habis rasanya kekaguman untuk dirinya, dan dari semua yang bisa kulakukan padanya saya paling senang membelai rambut panjangnya.

Pada bangku taman yang lapuk, dia kemudian duduk cukup rapat hingga tak menyisakan ruang di antara kami. Sambil membelai rambutnya, Saya merangkulnya untuk mempertahankan posisi itu. Kepalanya bersandar di pundak saya, seperti sebuah isyarat dia suka posisi ini. Dia pun mulai bercerita seperti biasanya, pertemuan seperti ini pasti akan didominasi oleh dia. Saya cukup menjadi pendengar, sambil sesekali melemparkan senyuman tanda paham. Perbincangan atau lebih tepat monolog dimulai dengan curhatan dia tentang tugas mata kuliah psikologi yang susah dia kerjakan, teman kuliah yang punya masalah dengan keluarga, isu kekinian tentang gender yang lagi heboh di Amerika, hingga hal sepele seperti warna kabel charge yang baru-baru saya beli, menurut dia harusnya saya membeli kabel charge yang original meski harganya lebih mahal daripada membeli kabel charge palsu dengan harga lebih murah tapi cepat rusak juga.

Seandainya saja pagi belum menjemput dan saya harus berangkat kerja. Mungkin kita akan berbincang lebih intim, mungkin kita akan bertindak lebih intim lagi. Ahhh mimpi yang indah.