Bulan: November 2015

Perawat itu Pembantu!

Mulai dari memandikan, menyuapi, hingga membersihkan kotoran pasien. Belum lagi menerima perintah dari dokter. Perawat memang pantas disebut pembantu!

Ketika mengunjungi sebuah rumah sakit, dengan mudah kita akan menjumpai petugas kesehatan yang berpakaian putih-putih. Jumlahnya paling banyak dan kelihatan paling sibuk, sibuk di lorong-lorong rumah sakit sampai di dalam ruangan perawatan. Mondar-mandir ketika dokter datang dan harus sigap menerima perintah dari dokter. Sudah menjadi yang paling sibuk, amarah pasien maupun keluarga pasien juga harus diterima oleh mereka. Merekalah perawat.

Saya sendiri mengalaminya semasa praktek di rumah sakit, tidak jarang untuk pasien tertentu harus saya mandikan, suapi, bahkan membersihkan kotorannya. Terkadang harus mengerjakan pekerjaan dokter. Mau bagaimana lagi? Meski semasa kuliah tidak ada mata kuliah khusus memandikan dan membersihkan kotoran, hal tersebut tidak bisa dihindari jika berhubungan dengan kebutuhan pasien. Namun, apakah dengan begitu saya lantas bisa disebut sebagai pembantu? Atau secara umum kita bisa menyebut perawat itu pembantu?

Jika hanya menilai itu saja kemudian perawat disebut pembantu, maka kita hanya melihat satu sisi dari perawat. Hanya saja yang namanya pendapat publik itu tidak bisa dibendung dengan mudah, publik hanya akan menilai yang terlihat saja. Masyarakat terlanjur mengecap perawat sebagai pembantu atau yang paling sering terdengar perawat adalah pembantu dokter. Kenapa sih ada yang menyebut perawat sebagai pembantu dan pembantu dokter? Untuk menjawab itu pertama mari kita ketahui dulu perbedaan mendasar dari perawat dan dokter.

Cure and Care.

Perawat dan dokter sudah tentu berbeda. llmu, pekerjaan, tanggung jawab, maupun kewenangan adalah sedikit dari perbedaan antara dua profesi ini. Mari saya jelaskan secara singkat perbedaan mendasar perawat dan dokter menggunakan dua kata, Cure and Care. Cure adalah pekerjaan utama dokter, sedangakan care adalah pekerjaan utama perawat.

Jika diterjemahkan secara langsung maka cure berarti menyembuhkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  menyembuhkan/me·nyem·buh·kan/ v menjadikan sembuh; mengobati dan sebagainya supaya sembuh. Tidak salah jika ada yang sakit berharap mendapatkan kesembuhan setelah bertemu dengan dokter. Setelah melakukan pemeriksaan awal kepada pasien, dokter akan menentukan diagnosa medis kemudian memberikan obat ataupun tindakan yang bertujuan untuk mencapai kesembuhan pasien. Misal pasien datang dengan patah tulang, dokter akan memberikan obat anti nyeri serta melakukan pemasangan Gips ataupun menyambungkan tulang yang patah.

Care jika diterjemahkan secara langsung berarti peduli, hal ini juga bisa berarti merawat, mengurus, memelihara dan memperhatikan. Dalam KBBI merawat berarti /me·ra·wat/ v memelihara; menjaga; mengurus; membela (orang sakit). Kewenangan perawat bukanlah memberikan resep obat, tapi lebih kepada masalah apa yang didapatkan oleh pasien karena masalah utama yang dialami.

Misalnya pasien datang dengan patah tulang, diagnosa keperawatan akan lebih fokus mengatasi gangguan rasa nyaman : Nyeri, berhubungan dengan fraktur tadi. Diagnosa lain yang bisa muncul dengan masalah patah tulang adalah gangguan aktivitas berhubungan dengan adanya patah tulang. Untuk mengatasi nyeri, perawat akan mengajarkan tekhnik relaksasi napas dalam untuk mengurangi rasa nyeri saat datang, memberikan posisi yang nyaman untuk mengurangi nyeri. Perawat juga akan mendampingi pasien untuk bergerak secara aktif meski susah untuk bergerak agar menghindari kekakuan otot pada anggota tubuh yang sehat.


Pada intinya bisa disimpulkan bahwa perawat ingin mencegah terjadi masalah lain di luar masalah utama yang dialami pasien. Sejalan dengan pendapat Florence Nightingale (1895), seorang pelopor perawat modern yang mendefinisikan  Perawat adalah orang yang menjaga pasien, mempertahankan kondisi terbaiknya terhadap masalah kesehatan yang menimpanya.

Jelas bahwa perawat dan dokter masing-masing memilik kewenangan yang berbeda, masing-masing punya fokus yang berbeda. Kemudian ada yang mengatakan perawat adalah pembantu dokter mungkin karena melihat perawat ‘seakan-akan’ diperintah oleh dokter. Perawat dan dokter adalah mitra kerja yang memiliki tujuan yang sama, kesembuhan pasien. Mereka berkolaborasi dalam pelayanan kesehatan, dokter menentukan diagnosa medis yang kemudian menjadi acuan bagi perawat dalam menentukan diagnosa keperawatan. Prof. Dr. dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS dalam acara The 2nd International Nursing & Health Science Student & Health Care Proffessional Conference 2015 mengatakan bahwa “Perawat adalah teman sejawat, mitra kerja dokter yang tidak bisa dipisahkan dalam mencapai pelayanan yang optimal kepada pasien, asal tidak membawa ego profesi masing-masing kita adalah tim yang hebat”.

Kok ada yang beranggapan perawat itu pembantu ?

Dalam pelaksanaan tugas perawat seperti yang dijelaskan di atas, tidak jarang perawat harus memberikan bantuan maksimal kepada pasien berdasarkan derajat ketergantungan pasien.  Ketergantungan pasien dibagi atas tiga besar, yaitu ketergantungan minimal, ketergantungan partial, dan ketergantungan maksimal atau total. Pasien dengan ketergantungan maksimal adalah pasien yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, makan susah, bergerak susah, juga tidak bisa memenuhi kebutuhan eliminasi (buang air kecil dan besar).

Perawat yang mandapatkan pasien dengan ketergantungan maksimal tentu saja harus memberikan perawatan maksimal pula, pasien tidak bisa makan disuapi, pasien yang tidak bisa berjalan ke kamar mandi dimandikan di tempat tidur, pasien yang tidak bisa memenuhi kebutuhan eliminasi sehingga buang air kecil dan besar di kasur mau tidak mau dibersihkan juga oleh perawat. Semua hal itu dilakukan agar tidak terjadi masalah lain yang menyertai masalah utama pasien, disuapi agar bisa memenuhi kebutuhan makan pasien, dimandikan agar pasien merasa segar dan tidak kotor, dibersihkan kotorannya agar pasien tetap bersih dan tidak menderita penyakit lain karena kotorannya sendiri.

Saran untuk perawat

Mendengar atau membaca kalimat perawat itu pembantu tentu saja membuat perawat naik pitam, tapi mari berpikir dingin mungkin mereka tidak tahu saja betapa berjasanya perawat kepada pasien. Sambil menunggu masyarakat mengerti, mari tunjukkan kalau perawat itu kompeten. Jangan ragu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pasien tentang kondisinya. Salah seorang dosen saya di S2 Keperawatan Universitas Hasanuddin, Ns. Rini Rahmawati MN., PhD mengatakan “Perawat dipandang sebelah mata oleh pasien karena kesalahan perawat itu sendiri, ketika pasien bertanya tentang kondisinya perawat sering menjawab dengan mengatakan “tunggu dokternya yah”, hal ini tentu saja menurunkan kredibilitas perawat di mata pasien”.

Menuntut kesetaraan ataupun ingin disebut sebagai mitra kerja dokter tentu dibutuhkan kompetensi yang seimbang juga, sangat naif rasanya jika menuntut hal itu tapi kompetensi dan pengetahuan kita jauh di bawah.

Mari membungkam mulut orang/media yang memandang rendah profesi kita dengan prestasi, bukan hanya retorika belaka.

PERAWAT ITU BUKAN PEMBANTU PASIEN, TAPI MEMBANTU PASIEN!

PERAWAT ITU BUKAN PEMBANTU DOKTER, TAPI MITRA KERJA DOKTER!

Blog Marketing, Halus tapi Kena

Memanfaatkan momentun hari kesehatan gigi nasional, sebuah produsen pasta gigi menggandeng beberapa universitas ternama dengan mengadakan Bulan Kesehatan Gigi Nasional. Terhitung 20 kampus yang memiliki Fakultas Kedokteran Gigi bekerjasama dalam kegiatan ini, tersebar hampir di seluruh Indonesia. Tidak tanggung-tanggung produsen pasta gigi ini memberikan pemeriksaan maupun perawatan gigi gratis, melakukan praktek menyikat gigi yang baik di banyak sekolah dasar, membagikan pasta gigi, kaos, ataupun sikat gigi secara gratis pula. Sebuah tekhnik marketing yang sangat hebat, halus tapi kena.

Hasilnya adalah tiap kali kita berpikir tentang pasta gigi ataupun menyikat gigi, pikiran kita akan langsung mengarah ke pasta gigi dengan kemasan warna putih dan merah. Meski banyak pilihan pasta gigi lainnya, kita akan lebih cenderung mencari pasta gigi tersebut. Tekhnik marketing ini yang saya maksud sebagai tekhnik yang halus tapi kena.

Lantas, apa hubungannya dengan blog marketing?

Blog marketing bagi saya berarti memanfaatkan blog untuk memasarkan sebuah produk. Cerita-cerita personal dalam blog disisipi sebuah promosi yang tidak terlalu frontal, sehingga kesan promosinya tidak terbaca dengan jelas tapi halus dan tepat sasaran. Konten marketing dalam blog memang harusnya tidak frontal, sehingga para pembaca tidak jengah dengan promosi-promosi berlebihan. Bagi saya pribadi lebih senang mendengarkan orang bercerita atau membaca pengalaman seseorang tentang sebuah produk daripada membaca entah itu selebaran, spanduk, majalah tentang keunggulan produk tertentu.

Produsen pasta gigi yang saya ceritakan di atas tahu bahwa ketika mengadakan acara tersebut, masyarakat secara sadar akan berpikir tentang pemeriksaan, perawatan gigi gratis. Namun, secara tidak sadar masyarakat telah dirasuki alam bawah sadarnya dengan produk pasta gigi. Konten marketing dalam blog pun harusnya demikian, pembaca secara sadar tertarik akan tulisan yang ada di blog, tertarik membaca pengalaman si penulis. Namun, secara tidak sadar unsur-unsur konten marketing di dalamnya akan merasuki pikiran mereka. Sehingga mereka memiliki referensi sebuah produk secara tidak langsung. Kedua hal tersabut bisa terjadi karena dilakukan dengan halus, lembut tapi kena.

Konten marketing dalam blog yang baik :

Keterwakilan Individu

Blog marketing harus bisa memberi kesan mewakili individu sebagai pembaca. Sifat blog yang individual mempengaruhi traffic, kunjungan blog juga spesifik, hanya orang yang memiliki kepentingan yang membacanya. Merasa terwakili dengan tulisan yang ada di blog, pembaca akan larut dalam tulisan. Momen ini yang dimanfaatkan untuk memasarkan sebuah produk atau jasa, sehingga pesan pemasaran pun terlalrut dalam pikiran pembaca.

Ketika seseorang merasa terwakili oleh sesuatu, maka dia akan menjadi pengikut setia. Lihat saja para pengikut calon presiden beberapa waktu lalu, sampai sekarang pun masih ada yang membela calonnya meski telah berlalu cukup lama. Itu semua diawali karena keterwakilan individu.

Menemukan pemecahan masalah.

Dewasa ini, internet semakin menjadi pilihan dalam menemukan pemecahan masalah. Ketika sebuah persoalan tidak terjawab, jari-jemari lincah mengutak-atik smartphone berselancar di dunia maya. Berharap mendapatkan jawaban dari masalah yang tengah dihadapi. Menurut data yang dihimpun oleh We Are Social, pada bulan agustus 2015 pengguna Internet seluruh dunia mencapai angka 3,1 Miliar dari total populasi 7,3 Miliar. Jumlah sebanyak itu tentu saja menjadi peluang yang besar untuk ‘menangkap’ pelanggan.

Blog yang bisa memberikan pemecahan masalah tentu saja akan mempengaruhi pembaca, konten marketing yang tersisip pun akan sampai pada pembaca.

 

Pic : wearesocial.net

Alternatif Pilihan

Beberapa orang dibingungkan karena tidak memiliki pilihan lain, beberapa orang lainnya dibingungkan karena terjebak antara dua pilihan. Namun, tentu saja lebih baik terjebak di antara dua pilihan karena masih bisa melakukan pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam memilih. Bingung ketika tidak memiliki pilihan lain, sama saja tidak memilih.

Tulisan di blog harus bisa menjadi alternatif pilihan bagi pembaca, paling tidak pembaca mendapatkan sebuah referensi lain dari kebiasan mereka. Dengan begitu, pada saat kebingungan dalam menetukan pilihan konten marketing dalm blog akan menjadi pilihan lain bagi si pembaca.

Alam bawah sadar

Blog yang bisa mewakili para pembaca dengan kisah-kisah yang lebih personal, bisa memecahkan masalah, menjadi alternatif akan mempengaruhi alam bawah sadar. Konten marketing dalam blog yang mempengaruhi alam bawah sadar secara otomatis akan menggiring pembaca untuk membeli produk yang dimaksud. Sama seperti saat kita akan membeli air mineral, meski kita ingin membeli air mineral lain tapi entah kenapa kita latah memilih atau paling tidak menyebut satu merek.

Skema Konten marketing Halus tapi kena

Konten marketing yang baik intinya adalah dekat dengan para pembaca, ini penting untung menjaga kepercayaan pembaca. Kepercayaan yang tertanam tentu saja akan merangkul pembaca agar tidak kemana-mana.

Pelaksanaan Blogger Camp beberapa lalu di Makassar saya anggap salah satu contoh blog marketing yang halus tapi kena, puluhan Blogger yang mengikuti kegiatan tersebut menghasilkan puluhan tulisan juga yang tentu saja berisi konten marketing. Strategi ini keyamudian saya katakan berhasil karena setelah membaca tulisan beberapa teman, pesan-pesan marketing tidak terbaca dengan jelas namun tetap berbekas dengan baik. Seperti tulisan oleh Nur Al Marwah Asrul, Sekilas membaca tulisan ini tidak ubahnya membaca tulisan tentang liburan, ketemu dengan teman-teman baru, keseruan Blogger Camp. Pada bagian akhir ditulis dengan apik dan halus berisi konten marketing namun tetap tidak mengurangi esensi dari ‘pengalaman’ penulis. Tulisan tersabut betul-betul halus tapi kena!

Berjuang ala Valentino Rossi dan PSM Makassar

Rossi yang memulai start paling buntut di sirkuit Valencia menyelesaikan balapan di posisi keempat, di tempat terpisah beberapa jam sebelumnya PSM Makassar memilih walk out dari pertandingan pada perhelatan Habibie Cup di Pare-Pare Sulawesi Selatan.

Dua peristiwa di atas memiliki latar belakang yang sama, meski jenis olahraga dan tempat berbeda. Sama-sama memiliki indikasi kecurangan. Dua peristiwa di atas terjadi di hari yang sama, Minggu 8 November 2015. Meski memiliki beberapa persamaan, namun ada perbedaan yang sangat mencolok atas dua peristiwa tersebut.

Valentino Rossi memulai balapan di urutan paling belakang, sebagai hukuman setelah menjatuhkan Marc Marquez di balapan sebelumnya. Namun banyak yang berpendapat,  bahwa kejadian itu bermula karena terjadi konspirasi terselubung antara Jorge Lorenso dan Marc Marquez. Publik penikmat balapan Moto GP berpikir Rossi dicurangi.

Terpisah benua, PSM Makassar yang mengikuti perhelatan Habibie Cup di Pare-Pare berhasil melenggang ke babak Semifinal menghadapi Sidrap United. Pertandingan tidak berjalan lancar, PSM Makassar memutuskan Walk Out (meninggalkan lapangan dan tidak meneruskan pertandingan). Kejadian ini adalah buntut dari pemikiran manajemen PSM yang merasa wasit terlalu berpihak kepada lawan, merasa dicurangi manajemen PSM memilih menarik pemain dimenit ke-60.

Valentino Rossi merupakan calon juara dunia Moto GP setelah mengumpulkan poin tertinggi (296 Poin), disusul rival kuatnya Jorge Lorenso dengan perolehan 285 Poin. Namun hukuman start paling belakang menipiskan peluang Rossi menjadi juara dunia, sementara sang rival terkuat start paling depan. Sikap ksatria dan kedewasaan Rossi ditunjukkan dengan tetap mengikuti balapan, mengejar asa yang semakin tipis, mencoba meraih peluang yang masih ada. Selama ban motor masih berputar, segala kemungkinan masih bisa terjadi.

PSM Makassar memiliki peluang sebagai finalis Habibie Cup. Menghadapi Sidrap United di semifinal, PSM Makassar membawa nama besar salah satu klub bola tertua di Indonesia. Satu langkah lagi PSM Makassar menginjakkan kaki di final Habibie Cup. Namun sayang, sikap manajemen yang memutuskan Walk Out dari pertandingan tidak menunjukkan sikap ksatria dan kedewasaan, ironis jika mengingat PSM Makassar sudah berumur 100 tahun. Beda dengan Rossi, peluang PSM Makassar masih sangat terbuka. Pertandingan masih tersisa 30 menit saat mereka Walk Out, Sidrap United baru unggul 1 gol. Selama bola masih bundar, bukankah segala kemungkinan masih bisa terjadi?

Sikap ksatria dan kedewasaan Rossi berhasil merebut hati banyak penikmat Moto GP, meski tak bergelar juara dunia Rossi telah memenangkan hati para pengangumnya. Meski start dari urutan belakang, Rossi menyelesaikan balap di posisi keempat. Terhitung 21 pembalap berhasil dilewati satu persatu.


Sikap tidak berbesar hati manajemen PSM Makassar berhasil membuat suporter dan penikmat bola kecewa. Meski suporter berpendapat sama tentang keberpihakan wasit, mereka tetap menginginkan PSM Makassar menyelesaikan pertandingan. Berjuang di sisa-sisa menit yang ada, mencoba mengubah keadaan meski keadaan tidak memihak. Manajemen PSM Makassar harusnya tetap membiarkan para pemain bertanding, memperlihatkan arti sebenarnya dari pepatah “Kualleangi Tallanga Natowalia”. Menurut Iqbal seorang wartawan yang meliput jalannya pertandingan, para pemain masih ingin melanjutkan pertandingan namun dihentikan oleh manajemen klub. Permainan keras Sidrap United masih ingin diladeni para pemain PSM namun manajemen klub berpikir lain, Sumirlan selaku direktur tekhnik sampai harus masuk lapangan ‘mengusir’ para pemain PSM untuk tidak melanjutkan pertandingan.