Bulan: Desember 2015

5 Tips Hari Pertama Dinas di Rumah Sakit Untuk Mahasiswa Keperawatan

Selalu ada yang pertama untuk setiap hal, termasuk hari pertama pertama dinas. Bagi kalian yang berprofesi perawat ataupun mahasiswa perawat, tentu sering mengalami hal ini. Ada yang mengatakan kesan pertama itu harus mengesankan dan meninggalkan bekas yang baik,  karena akan menjadi penilaian pertama. Semakin baik kesan yang kamu tinggalkan, semakin lancar dinas akan berlangsung.

Ini ada lima hal yang bisa kamu lakukan supaya bisa meninggalkan kesan yang baik.

JANGAN TERLAMBAT

Apapun alasannya jangan sampai datang terlambat, apalagi di hari pertama. Terlambat akan meninggalkan kesan yang tidak baik untuk dirimu sendiri, kamu akan ditandai sebagai orang yang tidak disiplin. Kepala ruangan akan meminta perawat-perawat disana untuk mengawasi mu lebih ketat, karena secara tidak langsung kamu akan di cap sebagai tukang terlambat. Bisa diakali dengan tidur lebih awal atau minimal mengatur jam alarm di jam-jam tertentu agar bisa bangun lebih awal.

Kalau punya orang pacar, bisa minta pacar kamu bangunkan lebih awal. Itu jika pacar kamu juga bisa bangun pagi, kalau pacar kamu tidak bisa bangun pagi ganti saja dengan yang lain. Bagi yang tidak punya pacar, yah cari dulu. Bisa juga kan minta sama teman yang lebih rajin bangun di awal pagi.

BHSP

BHSP atau Bina Hubungan Saling Percaya,  biasanya digunakan untuk melakukan pengkajian kepada pasien, tapi tidak ada salahnya teknik ini kita pakai untuk mendapatkan kepercayaan perawat-perawat senior. Hubungan yang berlandaskan kepercayaan akan membangun koordinasi yang baik sesama perawat dengan mahasiswa, tapi jangan juga jadi penjilat karena justru bisa menjatuhkan kredibiltas kamu.

Kalau sudah mendapatkan kepercayaan, perawat juga tidak akan ragu untuk membimbing kamu saat  saat melakukan tindakan keperawatan. Jangan lupa BHSP sesama mahasiswa praktek yang kebetulan dinas di rumah sakit tersebut, kan lumayan kalau ada yang kasusnya sama, bisa diskusi, atau paling tidak minta contekan Laporan. (hayo ngaku, pasti sering melakukannya)

IKUTI ATURAN MAIN

Pekerjaan perawat beda dengan kerjaan lain pada umunya, di rumah sakit nantinya kamu bisa pegang prinsip, “mending tidak tahu, daripada sok tahu”. Jangan juga jadi mahasiswa yang pasif,  tapi jangan karena ingin mengesankan kakak perawat atau gebetan mahasiswa kampus lain kamu berani ambil tindakan yang kamu sendiri tidak kuasai.

Baguslah kalau berhasil, tapi bakalan malu sekali kalau salah. Apalagi kalau sampai pasiennya menderita karena tindakan kamu, jadi apa yang harus dilakukan? kalau ternyata kamu belum tahu tindakannya tapi ingin sekali melakukannya, minta bimbingan dari perawa di ruangan.
Oh iya, terkait aturan main masing-masing tingkatan ada kapasitas dalam mengambil tindakan, kalau masih observasi (biasanya di tingkat 1) jangan langsung berani ambil tindakan mandiri. Tapi kembali lagi KECUALI ditemani dan dibimbing oleh perawat senior. Sekali lagi pelaksanaan prekatek “MENDING TIDAK TAHU DARIPADA SOK TAHU”

Know The Rules

KENALI LINGKUNGAN KERJA 

Kenapa harus mengenali lingkungan kerja? Hal ini penting sekali, terutama bagi kalian mahasiswa perawatTiap rumah sakit memiliki banyak ruangan dan bangunan yang terpisah-pisah, kenali tempat-tempat yang ada di rumah sakit. Akan terkesan tidak cekatan jika kamu diminta mendatangi pasien di ruangan tertentu, ternyata kesasar ke ruangan lain. Terutama kertika diminta mengantar pasien ke ruangan lain, seperti ruang pemeriksaan rontgen, ruang operasi, laboratorium, sebenarnya bisa saja kalian bertanya kepada perawat yang ada, tapi akan lebih kelihatan cekatan, jika kalian sudah menghapalkan ruangan-ruangan yang ada di rumah sakit tersebut. Hal ini tidak akan susah dilakukan, anatomi tubuh manusia saja kan dihapal letak-letaknya. Jadi penting sekali mendengarkan (biasanya) kepala ruangan saat kalian orientasi ruangan.

BELAJAR DARI PENGALAMAN

Tips terakhir, supaya tidak mati kutu nantinya. Cobalah bertanya ke kakak senior kalian yang sudah ada pengalaman praktek, terutama senior yang praktek di rumah sakit yang kalian tempati nanti. Paling tidak senior kalian bisa memberikan gambaran bagaimana kondisi di rumah sakit itu, termasuk memberikan gambaran-gambaran bagaimana watak perawat-perawat disana.  Bisa juga minta tips juga bagaimana menghadapi mereka, coba deh cerita – cerita saja sama seniornya, okey!

Terlepas dari 5 tips di atas, kalian pasti ada cara-cara khusus untuk menghadapi hari pertama praktek. kalian juga lebih tahu mana yang cocok untuk diri kalian sendiri. Finally, selamat menjalani praktek klinik, jaga nama baik alamamater yah!

Lalat Takut Dengan Bayangan Sendiri?

Musim hujan seperti ini paling enak memang menyantap makanan berkuah, bakso adalah pilihan yang paling memungkinkan. Sehabis menunaikan ibadah shalat jumat, saya bersama beberapa teman kantor langsung menuju warung bakso yang tak jauh dari mesjid. Setelah memesan, perhatian saya langsung tertuju pada kantung plastik berwarna putih berisikan air yang tergelatak begitu saja di meja warung.

Awalnya saya mengira ini adalah es batu yang dibungkus kantung plastik, kemudian mencair karena kelamaan diabaikan. “Mas, apa ini?” tanyaku penasaran sambil mengangkat kantung plastik tadi, “untuk mengusir lalat, mas” jawab mas penjual bakso dengan singkat. “takutka lalat sama kantung plastik? Jangan-jangan lalat ini aktivitis lingkungan yang nda suka kantung plastik” balas saya bercanda diikuti tawa kecil teman-teman kantor.

“Bukan mas, lalat takut melihat bayangannya sendiri” jawab mas penjual bakso sembari menyiapkan pesanan kami.

LALAT TAKUT DENGAN BAYANGAN SENDIRI? Ini informasi baru bagi saya. Seorang teman kantor yang ikut makan bercerita bahwa di Pulau Jawa itu hampir semua warung pakai metode ini untuk mengusir lalat, ada yang digantung, ada juga yang diletakkan di meja, kantung plastik ini akan memantulkan bayangan lalat sementara lalat takut sama bayangan sendiri.

Jumat barokah. Baru saja dapat pencerahan agama sama pak ustadz, sekarang dapat pengetahuan baru tentang lalat. Tapi apakah itu benar, lalat takut sama bayangan sendiri? Kalau teman yang takut dengan masa lalunya sendiri sih saya pernah dengar.

Mari kita coba telaah bersama-sama.

Menurut Wikipedia, lalat termasuk ke dalam ordo Diptera atau serangga dengan dua sayap. Ordo diptera ini sering pula dinamakan dengan serangga terbang sejati (true flies). Lalat mampu terbang dengan frekuensi kepakan sayap mencapai minimal 200 kepakan per detik, dengan kemampuan terbang yang luar biasa. Lalat mampu terbang seketika langsung dengan kecepatan yang tinggi tanpa perlu melaju di landasan sebagaimana pesawat terbang, atau tanpa perlu dengan kecepatan bertahap sebagaimana helikopter. Lalat juga terkenal dengan kemampuan manuver terbangnya yang sangat luar biasa, mampu melakukan gerakan jungkir balik dan akrobatik tanpa cacat, dan mampu mendarat dengan sempurna di suatu permukaan benda.

Kehebatan terbang lalat ternyata didukung juga oleh fungsi penglihatannya yang luar biasa, lalat punya mata yang dikenal sebagai mata mejemuk. Mata majemuk merupakan mata yang memiliki ribuan reseptor warna individual (penerima warna), setiap reseptor ini memiliki lensa masing-masing. Bandingkan dengan manusia yang hanya memiliki satu lensa di tiap biji mata, oh iya sebagai tambahan lensa berfungsi untuk memfokuskan gambar. struktur mata mejemuk lalat ini memungkinkan lalat bisa melihat dengan sudut lebar (lebih dari 90 derajat). Lapang pandang mata manusia maksimal hanya sampai 90 derajat, itupun jika manusia melihat ke arah samping.

Aih, pantas saja susah memukul atau menangkap lalat yah.

Setangguh-tangguhnya Superman, tetap saja lemah jika berhadapan dengan batu Krypton, sehebat-hebatnya lalat, tetap saja lemah jika berhadapan dengan kantung plastik berisi air. Kehebatan mata lalat, ternyata sekaligus menjadi celah untuk kelemahan lalat.

Ketika kantung plastik berisi air digantung, air akan membiaskan cahaya. Pada dasarnya mata memang hanya menangkap cahaya, alasan kenapa kita tidak bisa melihat di tempat gelap. Cahaya yang datang akan dibelokkan saat cahaya tersebut melewati air, dengan demikian bayangan yang muncul juga akan bergeser dari letak objek sebenarnya. Pembiasan ini yang mendasari penggunaan kantung plastik air, pembiasan ini ternyata menggangu indera penglihatan lalat. Gambar yang ditangkap mata lalat tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, hingga membuat lalat bingung saat terbang. Penggunaan kantung plastik air ini adalah ilusi optik, yang diharapkan membuat bingung lalat sehingga terbang menjauh.

Berarti pernyataan lalat takut bayangan sendiri itu salah, kantung plastik bukan memantulkan bayangan lalat tapi justru memantulkan secara bias lingkungan yang ada di sekeliling. Si lalat bingung dengan ilusi ini dan terbang menjauh, mungkin kalau lalat tidak terbang menjauh akan muntah-muntah karena mabuk terbang yah. Padahal hampir saja muncul anggapan lalat takut bayangan sendiri karena malu dengan wajah sendiri.

Meski yang dikatakan mas penjual bakso tidak benar, saya tetap harus berterima kasih. Paling tidak saya jadi tahu kalau kantung plastik berisi air bisa mengusir lalat, sudah terbukti pula ketika saya makan bakso di warungnya tidak pernah sekalipun saya terusik oleh kehadiran lalat.

Tahu RJP, Kamu Bisa Menghidupkan yang ‘Mati’!

Ilmu pengetahuan sudah sangat maju, teknologi pun semakin canggih, namun tidak ada yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Namun, bagaimana jika kamu bisa memiliki kemampuan menghidupkan yang ‘mati’?

Apa yang kita lakukan ketika mendapati seseorang kecelakaan,  tergeletak di jalanan, tidak bergerak, tidak sadarkan diri? Kalau yang sering kita dapati, korban kecelakaan ditutupi kertas koran, dibiarkan tetap di tempatnya dan tidak ada berani menyentuhnya. Paling banter jikapun ada yang berani menyentuhnya hanya sebatas meminggirkan korban dari jalanan. Hal ini terjadi karena seringnya kita berpikir korban mati di tempat. Padahal bisa saja ada kemungkinan korban bisa tertolong, jika saja ada yang tahu dan berani melakukan pertolongan pertama.

Nah, bagaimana jika suatu saat kita benar berada pada kondisi seperti itu? Apa yang akan kita lakukan? Menutup korban dengan koran, hanya melihat saja atau yang banyak dilakukan sekarang mengambil gambar korban, kemudian mengunggah di aosial media disertai ucapan kasihan untuk korban? Saat ini pilihan-pilihan di atas menjadi wajar karena ketidaktahuan. Mari kita apa sih sebenarnya yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk kondisi seperti itu.

Pada saat bertemu dengan seseorang yang tidak sadar, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memeriksa apakah orang itu bernapas atau tidak? Tidak perlu alat  khusus kok untuk mengetahui hal ini, cukup dengan mengecek respon kesadaran. Caranya, Tepuk bahu korban sambil memanggil namanya jika kebetulan kenal dengan korban, bisa juga dengan cara meminta korban membuka mata. “Pak/Bu bangun, bangun, bangun, buka matanya pak/bu”.  apabila ada respon sekecil apapun atau korban bisa membuka mata maka bisa dipastikan korban tersebut masih bernapas.

Namun ketika korban tidak ada respon, tidak bisa langsung dikatakan tidak bernapas, bisa saja dia hanya pingsan. Orang yang pingsan masih bernapas loh, maka dari itu lakukan pemeriksaan lain untuk memastikan korban bernapas. Gunakan tangan anda untuk mengecek pernapasan. Cukup dengan mendekatkan punggung tangan anda di hidung dan mulut. Rasakan ada tidaknya napas yang keluar dari hidung dan mulut sambil memperhatikan pergerakan dada. Jika tidak ada napas dan pergerakan dada, berarti korban tidak bernapas atau lebih dikenal dengan henti napas. Sebelum mencari bantuan, tindakan yang paling pertama dilakukan ada memastikan korban bernapas atau tidak.

Anggaplah korban saat ini tidak bernapas, barulah kemudian mulai mencari bantuan. Telepon rumah sakit terdekat atau memanggil orang yang lebih tahu melakukan pertolongan. Tapi jangan tinggalkan korban! Mintalah orang lain untuk mencari bantuan, saat ini anda adalah penolong.

Baringkan korban dengan posisi terlentang, sebagai penolong berlututlah di samping korban. Korban sementara ini henti napas, tapi masih ada satu hal lagi yang perlu dipastikan. Apakah jantung korban berdetak? Periksa nadi korban dengan mengecek arteri karotis, arteri karotis berada di leher atau pada laki-laki berada di samping-bawah jakung. Lakukan kurang dari 10 detik, apabila tidak ada detak berarti jantung korban berhenti bekerja, kondisi ini disebut henti jantung.

Seseorang yang mengalami henti napas dan henti jantung, secara klinis sudah mati. Kondisi inilah yang disebut sebagai mati klinis, mati klinis adalah ketika seseorang tidak lagi bernapas (henti napas) dan jantung tidak lagi berdetak (henti jantung). Keadaan mati klinis bersifat sementara, masih ada kemungkinan untuk hidup kembali (reversibel). Inilah waktunya kita sebagai penolong memainkan peranan.

Letakkan kedua tangan (saling bertautan) anda di atas dada korban, tepat di tengah dada dan sejajar dengan ketiak. Posisi tangan lurus dengan badan penolong berada di atas tubuh korban. Pompa dada pasien dengan posisi seperti yang dijelaskan, tekan sedalam 5 cm dengan kecepatan 100 – 120 pompaan dalam satu menit. Tindakan ini disebut kompresi. Pompaan dilakukan untuk membantu sirkulasi (Circulation) pernapasan korban. Sampai di sini mungkin ada yang langsung terbayang film yang pernah ditonton, sebuah adegan mirip dengan penjelasan di atas.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pompaan yaitu kedalaman, kecepatan dan recoilRecoil adalah memberi kesempatan dada mengembang sempurna setelah dilakukan pompaan, setelah recoil lakukan pompaan selanjutnya. Pompa – recoil – pompa– recoil – pompa, dengan tetap mempertahankan kedalaman dan kecepatan pompaan.

Pompaan dilakukan 30 kali kemudian diikuti tiupan 2 kali, tiupan ini yang sering disebut napas buatan atau praktisi kesehatan menyebutnya ventilasi. Sebelum melakukan tiupan, kita harus memastikan jalan napas korban aman dan tidak ada sumbatan. Jalan napas itu dimulai dari mulut, tenggorokan dan leher. Untuk membebaskan jalan napas bisa dengan menekan dahi korban hingga kepala korban mendongak (Head Tilt), kemudian angkat dagu pasien dengan tangan yang satunya (Chin lift).

Ada satu kondisi korban yang sangat bahaya, pada kondisi ini korban tidak boleh dipindahkan sembarang, tidak boleh ditekan dahi atau diangkat dagunya. Praktisi kesehatan menyebutnya Fraktur Servikal, sederhananya patah tulang leher. Patah tulang leher ini biasa ditandai adanya lebam di tulang selangka.

Orang pada patah tulang leher diberi tindakan yang namanya Jaw Thrust, tindakan ini memastikan jalan napas korban tetap terbuka tapi dengan penanganan yang sangat hati-hati karena adanya patah tulang leher.  Untuk jelasnya lihat pada gambar atau video di bawah.

Jika tidak ada tanda-tanda patah leher, lakukan tekan dahi dan angkat dagu. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan membebaskan jalan napas (Airway) korban. Setelah memastikan jalan napas korban tidak ada masalah, kemudian dilakukan tiupan ke mulut korban dengan posisi tangan masih melakukan tekan dahi dan angkat dagu. Berikan tiupan sebanyak 2 (dua) kali dengan jarak satu detik, tangan yang menekan dahi juga difungsikan untuk menutup hidung dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Tiupan yang baik akan membuat dada korban mengambang, jika tidak mengembang posisi atau cara memberi tiupan ada kesalahan.

Sampai di sini mungkin sudah ada yang membayangkan melakukan pompaan dan tiupan, yah memang tindakan ini sering muncul di film, sinetron ataupun drama korea.