Bulan: Juni 2016

Bakso dan Bulan Ramadhan

Tiap orang punya makanan favorit tersendiri, minimal makanan yang sangat diinginkan saat lepas dari kewajiban berpuasa. Bisa menikmati makanan favorit menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan karena selama sebulan tidak bisa menikmati makanan-makanan tertentu di siang hari.

Saya pun demikian, memasuki puasa hari ke-7 (tujuh) keinginan itu muncul. Dari semua makanan yang banyak dijajakan saya sangat ingin merasakan hangatnya kuah dan empuknya mie yang melengkapi kenyalnya daging bakso. Bakso sendiri berasal dari bahasa Hokkien Bak-So yang secara harfiah berarti ‘daging giling’. Seperti yang kita ketahui bersama bakso memang makanan dengan daging giling sebagai bahan utamanya.

Setelah seminggu berpuasa hasrat ingin makan bakso kian meninggi. Saya tidak bisa mengatakan bahwa bakso adalah makanan favorit saya. Hanya saja entah kenapa menikmati bakso di bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat pas, mungkin karena dari kecil ingatan akan bakso dan bulan Ramadhan sudah mengendap sebagai kenangan indah.

Salah satu bakso di Rappang Kabupaten Sid-rap (foto : cipuceb.blogspot.com)

Sehabis tarawih, bakso menjadi incaran utama banyak orang di kampung saya, Rappang. Warung penjual bakso akan dipenuhi pelanggan yang masih mengenakan mukena atau peci, pemandangan yang sangat khas di bulan Ramadhan. Bukan hanya warung bakso, bakso gerobak pun laris. Mas penjual bakso gerobak pun terkadang tidak perlu bersusah payah mendorong gerobaknya kemana-mana untuk mencari pelanggan. Seringnya hanya 2 kali pemberhentian di 2 tempat yang berbeda, persediaan bakso sudah habis terjual.

Larisnya bakso di bulan Ramadhan bukan karena tidak ada pilihan makanan lain.  Hanya saja mengembalikan tenaga dengan makan bakso setelah beribadah menjadi pilihan yang tepat. Harga yang cukup terjangkau dan penyajiannya yang cepat menjadi alasannya. Saya dan teman-teman memiliki istilah sendiri untuk kebiasaan ini yaitu ‘mabak’ singkatan dari makan bakso.

Biasanya bakso gerobak akan berhenti di sebuah perempatan di bawah lampu jalan. dimana sering ditempati anak muda berkumpul. Hanya dengan memukul mangkuk bakso menggunakan sendok, pelanggan berdatangan bak laron mencari cahaya. Mabak di pinggir jalan sambil jongkok dengan masih menggunakan sarung serta sajadah di pundak adalah hal yang saya rindukan. Tak peduli kaki kram karena kelamaan jongkok, debu-debu beterbangan karena kendaraan melintas, asalkan bisa merasakan lezatnya kuah pedas bakso. Keringat yang bercucuran di dahi karena sensasi pedas penanda klimaks ritual yang satu ini.

Tidak jarang bakso gerobak habis dalam satu pemberhentian, diborong oleh satu keluarga besar yang berkumpul di bawah rumah panggung dan mabak di atas ladda-ladda balai-balai dari bambu) dengan penerangan seadanya. Bila seperti ini saya harus saya mencari bakso gerobak lainnya. Terkadang juga habis di pemberhentian depan sebuah rumah yang sudah berkumpul puluhan anak muda sebaya.

Biasanya setiap titik tertentu berkumpul anak muda seangkatan yang asyik mengenang masa-masa sekolah dulu. Libur bulan Ramadhan menjadi waktu yang tepat bagi mereka berkumpul, bertemu dan bernostalgia sambil mabak. Sering kali salah satu di antara mereka menjadi korban ‘pemalakan’ karena harus membayar semua bakso. Saya? Menjadi salah satu pemalak.

Mungkin karena belajar dari pengalaman kehabisan jatah bakso, beberapa keluarga atau kelompok bahkan mem-booking salah satu penjual bakso gerobak untuk datang di sebuah tempat di jam tertentu. Cerdas!

Ada kenangan lucu dengan salah satu mas penjual bakso yang sering parkir di perempatan dekat mesjid An-Nur Rappang. Pernah ketika masih kecil saya bolos tarawih hanya karena tergoda makan bakso, dan berujung perut mules. Bisa jadi karena makanan buka puasa tadi sudah terdesak oleh bakso pentolan. Saya buru-buru pulang ke rumah yang tidak terlalu jauh dari mesjid untuk BAB. Saya jadi lupa harus mengisi buku Amaliyah Ramadhan. Alamak!

Sesekali saya dan keluarga juga mabak bersama di rumah, tidak dengan nonkrong di pinggir jalan atau memberhentikan penjual bakso gerobak. Biasanya saya dan adik bertugas pergi membeli bakso. Ah sangat jelas gambaran keadaan itu, di depan rumah yang juga sebagai toko, kami akan duduk terpisah dengan duduk di kursi plastik masing-masing, bakso yang sudah kami beli menggunakan wadah yang besar semacam rantang akan dibagi tidak rata. Bapak, saya, adik pertama mendapat jatah paling banyak, sedangkan Ibu, adik perempuan dan adik bungsu mendapatkan jatah lebih sedikit. Kami hanya membeli bakso tanpa mie dengan kuah yang banyak, yang kemudian akan kami campurkan dengan mie instan, salah satu jualan toko kami.

Di kampung saya Rappang, beberapa penjual bakso sudah menetap puluhan tahun. Saya kenal beberapa dari mereka mulai dari kecil dan masih menjual bakso sampai sekarang. Anak mereka pun ada yang lahir dan besar di Rappang. Saya pernah memacari salah satu anak penjual bakso. Untuk beberapa saat saya mendapatkan jatah bakso gratis.

*

Semua ingatan di atas membuat saya sangat menginginkan bakso. Sayangnya beberapa hari belakangan keinginan mabak gagal karena beberapa hal. Ajakan mabak di grup LINE ‘Anu’ yang berisikan 6 orang sahabat langsung saya iyakan, meski sudah ada janji dengan seorang teman yang merayakan ulang tahunnya di Kios Semarang menyantap sayap-sayap patah (chicken wings). Belum lagi ban motor saya bocor saat menuju lokasi mabak di Bakso Gowa yang ada di Jl. Korban 40.000 jiwa. Malam itu saya gagal total mabak dan berakhir di coffee shop hingga tengah malam, bermain UNO sampai bercanda dengan Kim Myung seorang warga Korea yang sedang berada di Makassar untuk residensi.

Malam berikutnya, ajakan mabak dari grup LINE yang sama juga gagal saya tunaikan, lokasi mabak kali ini di Bakso Mas Prie di Jl Rappocini. Kegagalan kali ini justru karena saya tidak ingin kemana-mana, malam itu memang sudah saya niatkan untuk mulai menyusun bahan thesis.

Beberapa hari belakangan keinginan mabak gagal karena kejadian yang tidak diduga, dan tanpa saya duga keinginan itu terwujud tanpa rencana. Ketika itu saya menghadiri undangan buka puasa sebagai syukuran wisuda seorang teman, ternyata salah satu menunya adalah bakso. Tanpa pikir panjang saya langsung menghampiri meja yang menyajikan bakso.

Bakso ketika menghadiri undangan buka puasa

Akhirnya doa saya terjawab, tuhan mewujudkan keinginan saya makan bakso dengan tambahan 5 bungkus burasa’ dan belasan bakso yang memenuhi hampir seluruh ruang yang ada di mangkuk. Saya kalap!

*

Catatan : jika berkesempatan berkunjung atau melintas di Rappang Kabupaten Sidrap, cobalah mengunjungi beberapa warung bakso yang beberapa orang menganggapnya bakso terenak di dunia. Bakso Primadona di Jl. Jenderal Sudirman, bakso Sido Dadi di Jl. Veteran, Bakso Mas Slamet di Jl. Ahmad Taufik adalah beberapa pilihan yang bisa kamu kunjungi. Mereka penjual-penjual bakso legendaris di kampung saya.

Puasa hari pertama bersama Ibu

Masih pagi sekali saat itu, saya ingat masih memakai handuk sehabis mandi, dengan rambut yang masih basah. Rambut memang selalu menjadi bagian yang paling terakhir saya keringkan. Belum juga sempat mengeringkan rambut telepon seluler berbunyi dan memunculkan nama “MAMA”, dengan sigap saya angkat sembari mengucapkan salam kemudian dibalas Mama, panggilan saya kepada Ibu. “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh nak,” berlanjutlah pembicaraan anak dan Ibu via telepon.

Seperti  pada umumnya pembicaraan dengan Ibu mengalir dengan menanyakan keadaan, kondisi kerjaan yang biasa kubalas dengan pertanyaan yang sama, tidak lupa kutanyakan kabar adik yang paling bungsu yang masih duduk di kelas 4 SD, dan tentu tidak lupa kutanyakan keadaan bapak. Tidak jarang saya atau Ibu bergantian curhat tentang apa yang kami alami sepekan terakhir.

Kemudian muncul pertanyaan yang membuat hati gundah

de’mulisu mappammula puasa nak?” ibu menanyakan apakah saya akan pulang untuk puasa pertama di kampung

iye mak, de’ulisu maega jama-jamang okko kantoro’e, de’ nappassengnga bos ku lisu” dengan berat hati saya  menjelaskan bahwa tugas kantor lagi banyak dan tidak ada izin dari bos.

“sayangna di, engka manengni silessurengmu okko bolae, ikomeni deggaga” Saya hanya bisa mengurut dada saat Ibu memberitahu jika semua anaknya sudah berkumpul tanpa saya.

“…….”

Percakapan singkat yang sukses membuat saya terdiam sepersekian detik, tapi mampu membawa saya ke dalam perjalanan waktu yang panjang. Dalam sepersekian detik, wajah Ibu terbayang. Wajah yang selalu melepas senyum meski lelah menyiapkan santapan berbuka kami sekeluarga.  Pun wajah bapak ikut terbayang, wajah yang menyimpan kasih sayang di balik ekpresi datar yang sering beliau tampilkan. Saya tahu, di balik wajah beliau tersimpan cinta pada anaknya melebihi apapun di dunia.

Sepersekian detik itu membawa saya membayangkan santapan sahur dan berbuka di rumah. Indera penciuman saya langsung menangkap aroma tempe goreng sambal tumis yang tidak pernah alpa mengisi santapan buka dan sahur kami sekeluarga, menu itu selalu hadir karena adik saya yang pertama agak rewel soal  lauk pauk. Dulu ketika kecil bahkan di acara pengantin pun dia tidak akan makan jika lauknya bukan tempe atau ikan kering. Satu lagi masakan Ibu yang selalu berhasil membuat saya rindu Nasu Palekko, sambal goreng berbahan dasar daging bebek, tapi Jangan paksa saya menceritakan nikmatnya Nasu Palekko.

Pada setiap Ramadhan meja makan di rumah menganggur, kami memilih berbuka puasa maupun sahur dengan duduk bersila di lantai. Kesepakatan yang tidak pernah dibicarakan ini sudah berlangsung bertahun-tahun sepanjang ingatan saya.  Entah mereka tahu atau tidak, sebuah jurnal di Eropa menyatakan bahwa makan dengan duduk bersila itu membuat hidup lebih lama.

Formasi duduk akan membentuk lingkaran dengan baki yang menjadi porosnya, Bapak duduk menghadap timur, Ibu di sebelah kanan bapak dan saya di sebelah kiri, Chandra (anak kedua) duduk di sebelah kiri saya dan Yenni (anak ketiga dan satu-satunya perempuan) duduk di sebelah kanan Ibu. Posisi duduk ini jarang berubah jika kami hadir lengkap saat buka puasa, namun beberapa tahun terakhir dikacaukan oleh Eghi (si bungsu) yang memilih duduk dimanapun dia mau.

Sepersekian detik itu membawa saya membayangkan suasana kampung ketika Ramadhan; sore hari menjelang berbuka adalah saat-saat yang ramai, ketika saya bersama teman-teman seumuran menghabiskan waktu di dekker-dekker sebuah perempatan  yang memotong jalan poros menuju Enrekang. Dari tempat itu saya bisa melihat lalu lalang kendaraan angkutan lintas kabupaten dari 4 penjuru arah. Tak jarang disela oleh rombongan bermotor pemuda yang ngabuburit dengan berkeliling tak tentu arah, sarung yang dikalungkan di leher serta peci di kepala membuat mereka tampak sama.

Sepersekian detik itu berlalu ketika Ibu dalam telepon mengatakan “tette’ siaga mulau makkantoro, meloni tette’ aruwa” spontan saya menoleh ke jam dinding saat Ibu bertanya jam berapa harusnya saya ke kantor. Saat itu jam dinding menunjuk kurang 30 menit pukul 8. “masih lama,” pikir saya,  perjalanan ke kantor bisa saya tempuh 15 menit dengan santai.

elli memengno pakkanreang ko wenniwi sebelum matinro, aja mallupai lao mattarawe, baca-bacai korang mu, sempajang lima wettummu aja mallupai nak” pesan-pesan yang tak bosan Ibu sampaikan mengalir tak berjeda. Ibu mengingatkan untuk menyiapkan makanan untuk sahur, tidak lupa tarawih, baca Al-Qur’an dan shalat lima waktu.

Untung saja Ibu tidak menyinggung tentang menantu buat dia, mungkin karena momen kali ini khusus Ramadhan. Saya mengangguk dan sesekali mengiyakan. Tak lupa saya meminta maaf kepada Ibu jika ada salah kata dan perbuatan.

“Maafku selalu ada untukmu nak, bahkan jika kau tidak minta maaf, pasti mama maafkan” jawab Ibu dalam bahasa Bugis,

“……….”

Untuk mencairkan suasana setelah sempat terdiam, saya meminta Ibu untuk bicara kepada bapak yang kebetulan berada dekat Ibu. Benar dugaan saya, pembicaraan kami hanya berlangsung singkat.

Bapak hanya bertanya apakah saya akan pulang untuk puasa hari pertama, jawaban yang sama saya berikan pada bapak. Setelah meminta maaf, bapak hanya meminta saya untuk selalu menjaga diri. Selesai.

Aaahhh saya menghela napas sebelum menutup telepon. Saya harus bergegas ke kantor jika tak mau dapat teguran dari bos karena terlambat.

Bersyukurlah mereka yang dapat berkumpul bersama keluarga di hari pertama puasa, merasakan kehangatan bulan Ramadhan d tengah-tengah keluarga, hikmatnya bersantap sahur di rumah sendiri atau sekedar berangkat taraweh bersama.

Tahun ini saya tidak bisa mendapat kesempatan itu di hari pertama puasa, tahun ini puasa pertama bersama Ibu, Ibukota.

Mengutip kata seorang teman Tuhan bersama kalian para perantau yang tidak berbuka puasa pertama bersama keluarga”

 – Selamat Berpuasa –