Bulan: November 2016

Lika-Liku Hidup Mahasiswa Keperawatan

Hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka, semua insan pasti pernah merasakannya. Begitu kira-kira lirik lagu yang didendangkan Camellia Malik dengan judul liku-liku, sebuah lagu yang membawa pesan bahwa tiap orang merasakan pengalaman hidup yang berbeda. Bagaimana dengan perjalanan hidup mahasiswa keperawatan?

Meski begitu terkadang kita memiliki alur perjalanan hidup yang hampir sama ketika menjalani hal yang sama pula, alur yang sama ini biasanya dipengaruhi oleh sistem, aturan, kebijakan atau peraturan-peraturan yang mengikat.

Begitu pula dengan alur hidup yang akan dijalani mahasiswa keperawatan, meski pada proses dan hasilnya bisa berbeda namun ada jalur yang sama yang akan dilewati oleh mahasiswa keperawatan. Ada yang melewati jalur dengan mudah, ada pula yang melewati jalur dengan susah payah bahkan terseok-seok. Saya yang pernah melewati jalur itu harus bilang itu tidak mudah.

Kuliah Keperawatan

Kita mulai dengan bagaimana sih kuliah keperawatan itu? Pendidikan keperawatan itu terdiri dari pendidikan Diploma 3 (D3) Keperawatan, S1 Keperawatan, Profesi Ners, S2 Keperawatan, S2 Spesialis Keperawatan. Sebelumnya pernah ada Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) namun dihapuskan oleh Kementerian Kesehatan (KEMENKES) pada tahun 1999 dan semua SPK dikonversi ke Akademi Keperawatan (D3). Adapun sekarang ini banyak Sekolah menengah kejuruan Kesehatan (SMK Kesehatan) sebenarnya bukanlah tingkatan dari sekolah keperawatan, karena siswa yang lulus dari SMK Keperawatan tidak bisa disebut sebagai perawat.

Untuk melanjutkan kuliah sudah pasti harus lulus SMA dulu, ada dua piihan. Bisa kuliah Diploma atau kuliah sarjana. Dilemanya begini, kalau kuliah D3 Keperawatan setelah lulus langsung bisa kerja tapi mentok sebagai Judi Slot Online yang Gampang Menang perawat pelaksana, untuk naik jabatan harus lanjut kuliah S1, biasanya disebut jalur konversi (Bergelar D3 lanjut S1, kuliah 3 semester). Kalau langsung kuliah S1 itu membutuhkan waktu 4 tahun, kalau kuliah D3 dulu kemudian lanjut S1 itu butuh waktu 4,5 tahun. Yah kalau begitu kenapa tidak langsung kuliah S1 Keperawatan saja?

Sayangnya gelar S1 Keperawatan tidak bisa digunakan melamar pekerjaan, jika itu berhubungan dengan pasien (kasarnya tidak boleh menyentuh pasien). Paling mentok kerja di kefarmasian bagias sales representative, atau kerja sebagai staf bagian administrasi di rumah sakit. Membingungkan memang, D3 Keperawatan boleh menyentuh pasien, eh justru sarjana keperawatan (yang tingkatannya lebih tinggi) justru tidak boleh menyentuh pasien. Untuk bisa menggunakan gelar S1 bekerja harus dilengkapi dengan Gelar Ners.

Ners adalah gelar profesi bagi keperawatan (sama seperti gelar profesi dokter untuk kedokteran), ners bisa dilanjutkan jika telah menyelesaikan pendidikan sarjana keperawatan. Kuliah 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana ditambah 1 tahun Praktek (Kuliah di lahan praktek) untuk mendapatkan gelar Ners.

Kalau diawali dengan kuliah D3 berarti butuh waktu 5,5 tahun untuk mencapai gelar ners, tentu saja kalau kuliahnya tidak ada masalah atau langsung melanjutkan kuliah tanpa putus. Kalau lulus SMA langsung kuliah sarjana itu butuh waktu 5 tahun untuk mendapatkan gelar Ners.

Biaya Kuliah

Pendidikan sekarang ini memang bukan barang murah, terutama di keperawatan. Makassar pada khususnya, untuk kuliah keperawatan itu kisaran antara 2,5 sampai 3,5 juta per semesternya (SPP). Itu belum menghitung sumbangan pembangunan (SP), belum termasuk biaya praktek (beberapa institusi memisahkan biaya kuliah dan biaya praktek, SPP hanya diperuntukkan untuk perkuliahan di kampus). Belum lagi buku penunjang kuliah yang harganya ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Kalau kuliah sarjana selama 4 (empat) tahun itu berarti 8 (delapan) semester, kita seragamkan, misalkan SPP kita ambil Rp. 3.000.000, berarti dibutuhkan Rp. 24.000.000 sampai selesai. Sumbangan pembangunan diperkiran Rp. 4.000.000, biaya buku diperkirakan minimal Rp. 2.000.000 per 2 semester berarti Rp. 8.000.000. Biaya praktek rata-rata Rp. 500.000 per praktek, jika praktek 9 kali akan berjumlah Rp. 4.500.000. Total sebanyak Rp. 40.500.000

Itu baru tahap sarjana keperawatan, kalau mau lanjut Ners beda lagi biayanya. Profesi Ners hanya berlangsung 2 semester, namun biaya yang dibutuhkan besar karena pelaksanaannya di lahan praktek. Rata-rata (menurut beberapa institusi keperawatan di Makassar) harus merogoh kocek hingga Rp. 20.000.000. Biaya kuliah sarjana ditambahkan biaya kuliah ners mencapai Rp. 60.500.000.

Hitung-hitungan biaya di atas adalah perkiraan saya sendiri, dasarnya adalah pembiayaan di beberapa insituti yang ada di Makassar. Kemungkinan jumlahnya lebih besar, tapi saya yakin hanya kemungkinan kecil lebih sedikit. Itupun mengabaikan biaya yang lain seperti biaya hidup sehari-hari, pelatihan, sewa kost, transportasi dan lain-lain.

STR dan Uji Kompetensi

Lantas, setelah selesai kuliah D3 Keperawatan atau Ners sudah bisa langsung kerja? Oh belum tentu, terutama jika kamu belum memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Untuk mendapatkan STR, masih ada satu ujian yang harus dilewati meski sudah dinyatakan lulus oleh kampus, yaitu Uji kompetensi (UKOM). Sebagai bentuk penjagaan kualitas dan ingin menetapkan standar nasional kompetensi keperawatan, uji kompetensi dilaksanakan sejak 2013 (diatur dalam UU No.36/2014 tentang Tenaga Kesehatan dan UU No.38/2014 tentang Keperawatan).

Uji kompetensi Ners adalah salah satu perjalanan mahasiswa keperawatan

Sejak pertama kalinya dilakukan di tahun 2013 hingga pelaksanan yang ke 6 (enam), masih ada sekitar 10% yang tidak lulus UKOM meski telah mengikuti UKOM sebanyak 6 kali. Pelaksanaan UKOM 2 kali dalam setahun, 6 kali ujian berarti menghabiskan 3 tahun. Uji kompetensi ini seakan menjadi momok bagi mahasiswa keperawatan, bagaimana tidak? Sudah dinyatakan lulus dari kampus tapi belum diakui kompetensi kalau belum lulus UKOM.
Barulah jika lulus UKOM punya hak untuk diberikan STR, tapi jangan berpikir proses pembuatannya cepat. Menunggu terbitnya STR butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan (salah satunya teman saya yang menunggu terbit STR setelah 1 (satu) tahun menunggu.(diatur dalam Permenkes No. 148 tahun 2010).

Mencari Pekerjaan

Mari berangan-angan UKOM sudah lulus, STR sudah di tangan. Apakah sudah bisa kerja? Tunggu dulu, secara legalitas mengantongi ijasah dan STR itu memang sudah bisa kerja, namun jangan lupa bahwa bukan cuma kita yang mencari kerja, ada banyak orang dengan tujuan yang sama.
Tiap tahunnya terdapat ribuan lulusan keperawatan, yang akan mencari kerja juga. Artinya siap-siap bersaing dengan ribuan lulusan itu. Data dari Asosiasi Institusi Penyelenggara Ners Indonesia (AIPNI), terdaftar sebanyak 288 Institusi penyelenggara pendidikan keperawatan. Anggap saja tiap institusi meluluskan 100 mahasiswa tiap tahunnya, itu berarti 28.800 lulusan keperawatan akan mencari kerja di sektor yang sama. Menurut pengamatan saya tidak ada kampus (di Makassar) yang meluluskan mahasiswa keperawatan hanya di bawah 100, itupun 2 (dua) kali wisuda tiap tahun. Hitungan 100/tahun hanya mengambil angka minimal.

Sementara itu pilihan bekerja juga tidak banyak, mau jadi PNS kuota sangat terbatas untuk tenaga kesehatan. Bekerja di rumah sakit swasta pun hanya bisa menampung puluhan orang, ingin jadi dosen pendidikan minimal S2. Membuka klinik harus punya modal banyak dan perijinan sana sini, itupun masih sebatas klinik untuk perawatan luka.

Bekerja tidak sesuai bidang ilmu? Yah ini banyak dengan terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmu, tuntutan ekonomi menyudutkan mereka harus menyimpang dari jalur keperawatan. Saya punya banyak teman yang bergelar Sarjana Keperawatan + Ners akhirnya bekerja di bank, bagi saya itu tidak salah karena semua orang punya kebutuhan yang harus dipenuhi.

Hebatnya adalah serumit itu dunia keperawatan, ternyata peminatnya tetap masih banyak. Saya ingat waktu ketika akan masuk kuliah keperawatan “Perawat itu selalu ada penerimaan PNS, selalu dibutuhkan, masa depan menjanjikan, karena orang sakit tidak akan pernah habis”. Kalimat yang akhirnya membuat keluarga meminta saya kuliah di keperawatan, supaya gampang cari kerja nantinya.

Sepertinya kalimat itu masih berulang ke beberapa orang yang akhirnya memilih jalur keperawatan. Bagi kalian yang yang berada pada jalur yang sama, SEMANGAT hidup kita sudah digariskan, sisa kita mencari di mana garis itu digoreskan.

Jangan Pelit, Belilah Jas Hujan.

Bulan oktober ini, hujan makin sering bahkan hampir tiap hari. Hujannya tidak menentu kadang pagi, kadang sore. baca tips beli jas hujan di bawah ini.

Bagi orang-orang yang sudah mampu membeli kendaraan roda empat, hal ini bukan masalah besar, bukan halangan. Bedalah dengan pengendara motor, panas kepanasan, yah hujan kehujanan. Kalau hanya kepanasan sih, motor masih bisa melenggang bebas di jalan raya, namun beda halnya saat musim hujan. saatnya beli jas hujan.

Saat hujan ada dua pilihan yang bisa dilakukan oleh pengendara motor, terus atau berhenti. Ketika memilih terus berarti siap dengan resiko kebasahan KECUALI kamu punya jas hujan, untuk melindungi badan dari guyuran air hujan. Kalau memilih berhenti, berarti kamu harus berteduh di suatu tempat, menunggu hujan reda sampai waktu yang tidak diketahui, kamu bisa kelaparan, kedinginan, kesepian, kemudian galau dan akhirnya memilih melanjutkan perjalanan dengan menembus hujan. Ujung-ujungnya basah!

Saya kadang heran dengan para pengendara motor yang tidak punya jas hujan, padahal kan mereka tahu kalau kendaraan (motor) mereka tidak bisa melindungi mereka dari hujan. Seringkali saya melihat banyak pengendara motor memilih menepi, berteduh di pinggir jalan ketika hujan. Dalam pikiran saya bertanya apakah mereka tidak mampu membeli jas hujan? Beberapa pengendara motor juga memilih tetap berkendara meski hujan tanpa menggunakan mantel hujan, mungkinkah mereka kurang bahagia di masa kecil?

Padahal yah, jas hujan adalah penolong yang sangat menolong saat kita butuh pertolongan di kala hujan. Coba pikir ketika hujan dan kamu harus berhenti untuk berteduh, kamu tidak tahu akan berteduh untuk berapa lama. Kamu juga bisa saja kedinginan karena hujan berlangsung lama, tambah apes kalau saat berteduh kamu dalam keadaan lapar dan lelah setelah bekerja atau kuliah seharian.

Untuk mereka yang mengalami hal seperti itu, saya PRIHATIN gaes.

Padahal kan enak kalau bisa pulang ke rumah meski dalam keadaan hujan. Di rumah bisa langsung seduh teh hangat, selimutan, rebahan atau ngemil makanan ringan sambil menyaksikan sinetron india yang sekarang ada banyak di tivi. Tapi untuk menikmati itu semua, kamu harus punya alat bantunya, BELI JAS HUJAN.

Berdasarkan keprihatinan,  pengalaman berkendara motor selama

bertahun-tahun dan jam terbang yang cukup banyak dalam dunia perhujanan Indonesia, saya ingin merangkum beberapa tips beli jas hujan bagi kamu yang belum punya atau sudah punya tapi belum klop di hati.

Beli jas hujan yang mahal

Sekarang pilihan jas hujan ada banyak, mulai dari bahan, warna, model hingga harga yang bervariasi. Mulai dari yang berbahan plastic kresek harga sepuluh ribuan hingga yang berbahan nylon campuran harga 300 ribuan. Kenapa saya menyarankan memilih yang mahal? Berdasarkan pengalaman menggunakan benyak jenis jas hujan, ternyata memang jas hujan yang mahal juga berbanding lurus dengan kualitasnya. Sekarang ini saya menggunkan jas hujan seharga 250 ribuan (setelah berjibaku menawar kepada penjualnya), jas hujan yang saya gunakan sekarang ini sudah bertahan hamper dua tahun.

Sebelumnya saya punya jas hujan mulai dari harga sepuluh ribu, 80 puluh ribu, 100 ribuan. Tapi tidak ada yang bertahan lama, paling banter bertahan satu kali musim hujan. Jas hujan berbahan plastic kresek adalah yang paling murah dan paling praktis dibawa kemana-mana , tapi ini seperti pemakaian sekali saja. Belum lagi di bagian tangan agak lebar menyebabkan air hujan bisa masuk ketika angin agak kencang, dan tentu saja gampang robek. Jas hujan yang harga 80 hingga ratusan ribu sih masih lebih bagus, mencegah badan kita basah, tapi sayangnya tetap terasa dingin karena lapisannya yang hanya satu, tapi tetap gampang robek, juga gampang jamuran.

Jas hujan yang saya miliki sekarang, punya dua lapisan. Lapisan paling luar untuk menampis air hujan, lapisan dalam berfungsi untuk menghangatkan badan. Komplitlah pokoknya. Harga yang mahal jadi terasa terbayarkan dengan kualitas dan pemakaiannya yang lama.

Beli jas hujan yang besar

Memililh jas hujan tidak seperti ketika kita memilih baju yang kita kenakan sehari-hari, selalu mencari pakaian yang fit atau pas di badan. Sebaiknya memilih jas hujan yang agak longgar atau besar dari badan kamu, naikkan satu size dari ukuran baju yang kamu gunakan sehari-hari. Saya pernah punya jas hujan yang fit di badan, kesannya sih keren karena seperti memakai jaket biasa, tapi ternyata useless jadinya. Karena barang bawaan saya tetap harus dibungkus menggunakan kresek agar tidak kena hujan, tidak praktis.

Peruntukan jas hujan bukan untuk melindungi badan kita agar tidak kebasahan tapi juga untuk melindungi barang bawaan kita. Karena tidak tahu kapan akan kehujanan, kita tidak bisa memutuskan akan membawa barang yang banyak atau sedikit ketika akan bepergian.

Seperti tidak berguna juga jadinya kalau jas hujan yang kita punya hanya bisa melindungi badan tapi tidak bisa melindungi barang bawaan kita.

Jas hujan yang agak besar bisa dimaanfaatkan untuk melindungi barang bawaan kita, apalagi ketika kita memakai tas punggung, berarti butuh space yang agak besar juga.

Pinjam Saja

Yah kalau kamu sudah kepepet, tidak punya jas hujan tapi musim hujan. Pinjam saja punya teman yang punya jas hujan dengan dua kriteria di atas. Jangan lupa dikembalikan agar dikemudian hari bisa pinjam lagi.

Demikian tiap memilih jas hujan, semoga ada manfaat, kalaupun tidak terima kasih sudah mampir di sini, sekalian baca tulisan lain yang lebih bermanfaat di blog ini.