Apakah saya senang Nge-Blog?

Pernah di tahun di 2009 saya menonton sebuah film action berjudul Wanted, pada salah satu scene pemeran utama bernama Wesley Gibson mengetikkan namanya pada pencarian google, dan mendapatkan “NO RESULT”Scene itu bukanlah sebuah bagian penting dari film itu, tapi cukup membekas di kepala saya.

Segera setelah selesai menonton film itu, saya kepikiran mengikuti apa yang dilakukan Wesley. Pada halaman pencarian Google saya mengetik “Ardian Adhiwijaya”, dan untunglah saya tidak bernasib seperti Wesley. Nama saya muncul di halaman Google, karena terdaftar di Dinas Pendidikan sebagai peserta ujian nasional pada tahun 2006. Hmmm, Apakah nama saya hanya akan tercatat di google sebagai peserta ujian nasional? Jika saya tidak mengenal blog, mungkin jawabannya adalah IYA, tapi sekarang tidak lagi, Silahkan ketik “Ardian Adhiwijaya” di pencarian google dan kamu akan menemukan banyak hal. Cuss.

Mulai saat itu saya kepikiran membuat blog, blog pertama (Agustus 2009) hanya menghasilkan 5 (lima) tulisan, sudah termasuk tulisan Hello World. Blog yang jika saya baca sekarang, langsung kerasa makna dari penyesalan itu datang belakangan, saya seakan tidak percaya pernah membuat susunan kalimat seperti itu. Rasanya mau muntah jika membuka blog, ada banyak kata gue dan elo bertebaran dimana-mana. Mau sekali menutup blog itu tapi ohh god saya lupa passwordnya, jadilah sekarang saya punya jejak alay di masa lalu. Jejak yang bisa diintip sewaktu-waktu, sekalian intip gan disini.

Asal kata elo gue itu sebenarnya gara-gara sering baca tulisan Raditya Dika, saya yang bukan pembaca buku saat itu merasa terhibur ketika membaca buku Radit yang bergenre komedi, kemudian keterusan menjelajahi blognya. Gara-gara Radit pula saya ingin ngeblog setelah mengetahui buku pertama Radit adalah kumpulan tulisan dari blog. Meski begitu tetap saja saya tidak menulis di blog.

Tercatat setelah blog pertama, saya kemudian membuat dua blog selanjutnya pada tahun 2010. Dua blog yang nasibnya hampir sama, hanya berisi dua tulisan, tulisan yang disalin dari tulisan orang lain, setelah itu dianggurin, ditinggalkan, dicampakkan kemudian saya lupa jalan pulang (lupa password). Setelah dua blog naas itu, saya kemudian betul-betul tidak pernah lagi menyentuh blog, berganti lebih sering main Facebook dan Camfrog. Oops.

***

Perjalanan waktu kemudian membawa saya ke tahun 2014, saya sudah selesai kuliah bahkan sudah bekerja di almamater sendiri sebagai dosen pengajar. Di tahun ini juga saya mulai berkomunitas, berkenalan dengan banyak teman baru, bertemu dengan banyak orang dengan minat yang berbeda-beda. Dari keaktifan saya di komunitas Berbagi Nasi Makassar, membuat saya terlibat dalam kepanitiaan Pesta Komunitas Makassar 2014. Pesta yang mempertemukan puluhan komunitas dalam satu tempat, salah satunya Blogger Anging Mammiri.

Di tangan saya sebuah pin bundar berwarna hitam, dengan gambar karakter bulat mirip icon smile, berwarna kuning dengan senyum lebar lengkap dengan dua mata mungil namun tanpa hidung, mungkin dia keturunan Voldemort. Dia memakai Passapu, penutup kepala berwarna merah seperti yang digunakan oleh Sultan Hasanuddin pada banyak gambar. Pin tersebut saya dapat secara cuma-cuma setelah merengek sama penjaga lapak Blogger Anging Mammiri di acara pesta komunitas, saya girang kemudian tertegun.

Saya girang karena dapat pin gratis, tertegun karena tulisan yang ada pada pin itu. Sejenak saya terdiam, jantung berdegup lebih kencang dari biasanya, angin bertiup sepoi, mungkinkah ini cinta? NGEBLOGLAH, AGAR NAMAMU TERANCAM ABADI. Begitu tulisan yang ada pada pin. Sebuah ancaman yang cukup menohok, tapi tidak membuat takut. Abadi, sebuah tawaran yang menggiurkan, tawaran untuk hidup kekal, Tawaran untuk hidup selamanya.

Meski saya tahu abadi yang dimaksud bukanlah hidup selamanya, tawaran tersebut tetap menggiurkan. Tulisan yang kemudian membuat saya kembali melirik blog, blog yang kesekian kalinya saya buat. Akhirnya lahirlah ardianadw.wordpress.com, sayang saya tetap saja belum bisa menulis apa-apa saa itu.

Barulah di bulan Mei 2015, setelah pesta komunitas 2015 selesai. Beberapa pegiat komunitas berinisiatif membentuk kelas menulis, agar bisa menulis tentang komunitas masing-masing. Kelas kepo, nama kelas menulis yang kami sepakati bersama. Tergabung di kelas kepo seperti mendapatkan atmosfir baru, atmosfir yang sangat berbeda. Keinginan ngeblog bertahun-tahun lalu muncul kembali dari istirahat panjangnya. Melalui kelas ini saya kemudian belajar sedikit demi sedikit bagaimana membuat tulisan, dimentoring oleh beberapa blogger senior dan banyak teman sharing membuat menulis menjadi kegiatan menyenangkan.

Berawal dari situ hingga sekarang, saya sudah berani menyebut diri sebagai blogger.

Apakah saya senang nge-blog?

Tiap memperkenalkan diri di kelas baru yang saya ajar, bertambah satu lagi informasi di profil yaitu alamat blog. Saya bisa menghabiskan waktu sekitar 30 menit hanya menceritakan tentang blog, manfaat blog yang dapatkan, seolah-olah seperti sudah expert dalam nge-blog, saya hanya ingin mereka sadar lebih cepat, mumpung masih muda mulailah menulis agar tidak berakhir biasa-biasa saja. Tidak berakhir seperti Wesley Gibson. Terkadang ada yang punya potensi tapi tidak punya inspirasi dan saya ingin mengambil peran itu. Tsah.

Di beberapa kesempatan, saya sering mengajak teman-teman kantor atau teman-teman pergaulan untuk menulis. Saya akan menceritakan manfaat blog, bagaimana puasnya saya ketika menyelesaikan sebuah tulisan, senang ketika dibaca banyak orang, bahagia ketika ada yang meninggalkan komentar, kegirangan ketika ada yang membagikan tulisan saya. Kadang saya berpikir apakah saya narsis? Karena yang saya ceritakan adalah diri sendiri, meskipun sebenarnya tujuan saya hanya ingin memotivasi mereka. Mengambil contoh diri sendiri atau tulisan saya paling tidak saya mengambil contoh nyata, manfaat blog yang saya rasakan, bukan perumpamaan-perumpamaan untuk membuat mereka kagum. Jikapun saya narsis setidaknya saya jujur.

Oh iya, dalam Film Wanted yang saya tonton. Wesley Gibson akhirnya menemukan jati dirinya sebagai pembunuh, serangan panik yang sering ia alami mulai teratasi sejak belajar membunuh. Ternyata dengan mengetahui siapa dia sebenarnya, ia lebih tenang dalam hidupnya. Melakukan hal yang ia suka dan kuasai (meskipun itu sebagai pembunuh), membuatnya lebih hidup. Bukankah itu yang kita inginkan dalam hidup? Melakukan hal yang  kita kuasai dan membuat hidup lebih berwarna?

Nge-blog membuat hidup saya lebih berwarna, setidaknya dari kegiatan monoton di kantor. Blog secara tidak langsung memberikan banyak manfaat bagi saya, misalnya saja menambah jaringan pertemanan, sesuatu yang tidak bisa diganti dengan uang. Nge-blog juga menambah kepekaan diri, sesuatu yang dilakukan setiap hari tidak lagi hanya sebagai rutinitas belaka, melainkan menjadi sumber ide yang bisa dikonversi menjadi tulisan. Meski baru sekali, saya juga sudah dapat tambahan uang jajan dari blog, jumlahnya memang tidak banyak tapi paling tidak saya jadi tahu ada yang memperhatikan blog saya, dari situ saya merasakan satu dari sekian banyak manfaat blog.

Semua itu menambah kepercayaan diri di kehidupan sehari-hari, lebih yakin ketika bercerita tentang sesuatu hal apalagi hal yang pernah saya tulis. Kepercayaan diri adalah modal utama di pekerjaan saya sebagai dosen, tanpa itu tidak mungkin bisa menstransfer ilmu kepada mahasiswa dengan menyakinkan. Percaya diri membuat saya berani mengambil resiko ataupun peluang yang ada di depan saya, entah itu dalam pekerjaan atau di kehidupan sehari-hari.

Kemudian pertanyaan apakah saya senang nge-blog?

Yang jelas manfaat blog telah banyak saya rasakan dan saya masih ingin menemukan lebih banyak lagi.

*ini ada VLog tentang saya bercerita tentang blog dan manfaat blog. cekidot yah

Similar Posts