Bulan: April 2019

Kenapa Anak-Anak Dilarang Masuk Rumah Sakit?

Seorang ibu yang kira-kira berumur 50tahunan, tergesa-gesa menuju pintu Unit Gawat Darurat (UGD) sebuah rumah sakit. Ia hendak menjenguk seorang kerabat yang baru saja masuk UGD, namun langkahnya terhenti oleh halangan security di UGD tersebut. anak-anak dilarang masuk rumah sakit sebuah kalimat di depan UGD.

“Maaf bu, tidak bisa masuk anak-anak di sini” kata security ketika melihat Ibu itu ingin masuk UGD sambil menggendong anaknya yang masih berusia 6-7 tahunan.

“Kenapa tidak boleh pak, itu yang sakit di dalam tantenya kasihan” balas si Ibu

“iye bu, tidak boleh memang anak-anak masuk karena bisa kena penyakit nanti” kata pak security

“kasi masuk saja pak, kalau anak saya kena penyakit saya yang tanggung” tantang si Ibu.

Security tersebut tidak juga luluh, ia tetap kekeuh tidak membolehkan si ibu masuk bersama anaknya, untung ibu itu datang bersama kerabat lainnya untuk minta bergantian menjaga anaknya di luar UGD sembari ia masuk ke UGD.

Bukan satu kali saya mendapati kejadian yang hampir sama dengan cerita di atas, bahkan hampir tiap hari ketika dinas di rumah sakit, beberapa kali harus menegur atau meminta keluarga agar anaknya jangan dibawa serta masuk ke dalam rumah sakit. Namun nyatanya, secara kasat mata kita bisa melihat banyak anak-anak berkeliaran di rumah sakit. Padahal rumah sakit bukan tempat yang aman bagi anak, malah bisa dibilang tempat berbahaya. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak sadar akan hal itu, didukung oleh aturan rumah sakit yang terkadang bisa diatur di tempat. Mereka tidak sadar rumah sakit adalah ‘sarangnya penyakit’.

Dalam dunia kesehatan dikenal yang namanya Infeksi Nosokomial (Inoks), adalah infeksi yang didapat dan berkembang saat seseorang berada di lingkungan rumah sakit. Saat kita datang ke rumah sakit dalam keadaan sehat, namun ternyata pulang dengan keadaan sakit atau membawa penyakit, maka saat itu juga kita mendapatkan infeksi nosokomial. Inoks tentu saja bisa terjadi kepada siapa saja, tua-muda, pria-wanita, anak-dewasa, bahkan petugas kesehatan pun bisa terkena infeksi. Namun kenapa hanya ada larangan untuk anak-anak?

Kenapa harus anak-anak?

Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan menderita sebuah penyakit, selain karena mereka masih dalam proses tumbuh kembang, sistem pertahanan tubuh mereka masih belum sempurna. Mari kita misalkan di dalam tubuh terdapat 1000 jenis sistem pertahanan, untuk orang dewasa mungkin iya sudah memiliki 1000 pertahanan tersebut. Namun bagi anak-anak kemungkinan mereka baru memiliki sepertiga dari 1000 pertahanan tubuh yang harusnya dimiliki. Nah, di rumah sakit kemungkinan 1000 macam sumber penyakit ada di sana, maka ketika anak-anak berada dalam lingkungan rumah sakit, kemungkinan melawan penyakit akan sangat kecil dan kemungkinan resiko terkena penyakit jadi sangat besar.

Rumah sakit punya tanggung jawab akan hal itu, makanya di rumah sakit kita akan melihat larangan membawa anak. Biasanya dituliskan “anak-anak di bawah umur 12 tahun, dilarang masuk” terpajang di dinding-dinding rumah sakit. 12 tahun adalah batasan yang dipakai untuk anak-anak, hal ini sesuai dengan batasan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Depkes). Menurut Depkes, anak-anak adalah mereka yang berumur 5 (lima) tahun sampai dengan umur 11 (sebelas) tahun. Untuk umur 12-16 tahun digolongkan dalam fase remaja awal, sehingga dianggap sudah memilki lebih banyak sistem pertahanan tubuh untuk proteksi diri selama berada di rumah sakit.

Namun bagaimana jika anak-anak yang sakit? Jikapun anak sakit dan harus masuk rumah sakit, seharusnya dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), karena jumlah jenis penyakit yang dirawat di RSIA lebih sedikit dibanding rumah sakit umum. Sehingga perbandingan jumlah sumber infeksi juga lebih kecil. Kemungkinan inilah yang menjadi salah satu dasar ada beberapa macam jenis rumah sakit, yaitu untuk memperkecil kemungkinan infeksi nosokomial.

Sayangnya banyak masyarakat kita yang bandel, tetap membawa anaknya ke rumah sakit padahal sudah tau resikonya. Ada juga yang suka marah-marah ketika dilarang, meski beberapa lainnya juga terkadang patuh. Hal yang paling ironis adalah, banyak petugas kesehatan yang justru membawa serta anaknya saat bekerja. Bahkan saat anaknya masih balita, sampai-sampai terkadang harus menyusui di rumah sakit. Padahal mereka yang lebih tahu aturannya, saayng sekali justru menjadi contoh yang tidak baik.Hal ini menjadi penghalang penegakan aturan, karena masyarakat melihat kejadian itu dan membentuk pemikiran bahwa ternyata membawa anak sebenarnya tidak masalah.

Jika bukan keadaan yang sangat darurat, sebaiknya tidak usah membawa anak ketika berada di rumah sakit. Kasihan jika anak harus menderita penyakit yang sebenarnya bisa kita hindari.

5 Hal yang Dialami Anak Pertama

Tentu saja kita tidak bisa memilih akan dilahirkan oleh siapa, dilahirkan di mana atau dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan. Begitu juga urutan lahir, kita tidak akan tahu akan dilahirkan sebagai anak pertama, kedua atau terakhir. Tiba-tiba begitu dilahirkan ternyata sebagai anak pertama, atau malah dilahirkan buntut atau terakhir. Beruntunglah kalau kamu bisa membca tulisan ini, itu artinya kamu dilahirkan sebagai manusia.

Mau itu anak pertama, kedua, ketiga atau keempat belas, semua memiliki keuntungan masing-masing. Tidak ada yang lebih unggul, juga tidak ada yang lebih rugi. Kebetulan saya anak pertama, jadi pada tulisan ini saya kan mencoba menuliskan apa saja yang saya alami sebagai anak pertama. Semua yang tertulis berikut bukanlah sebuah riset yang menggunakan metode penelitian ilmiah, hanya berdasar dari pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang saya alami.

Jikapun ada yang tidak sesuai, yah mohon maaf karena ini berdasarkan pengalaman pribadi. Jikapun ada kesamaan nama, peristiwa, tempat dan kejadian, semua itu hanyalah kebetulan semata. Yuk disimak apa saja.

Sebagai nama penggilan orang tua

Dalam sebuah arisan ibu-ibu kompleks, salah seorang ibu angkat bicara “sepertinya masih kurang satu orang yah? Siapa yang belum hadir?”

“Mama Dini belum datang” kata ibu yang lain.

Meski orang tua kita memiliki nama masing-masing, ketika sudah memiliki anak, mereka akan memiliki nama julukan yang mengikuti nama  anaknya. Misalnya mama ani, bapak aco, dan itu menjadi panggilan sehari-hari dari tetangga atau sesama orang tua. Bahkan cenderung tidak lagi memakai nama asli mereka, berubah menjadi mamanya ini, bapaknya itu.

Hanya anak pertama yang memiliki keistimewaan ini, biarpun nanti sudah besar bahkan berkeluarga. Orang-orang sekitar tidak akan lupa dengan nama julukan itu, secara tidak langsung membuat orang-orang sekitar terus mengingat nama anak pertama. Bahkan tidak jarang nama anak pertama menjadi nama dagang atau nama toko jika kebetulan orang tua mereka berwirausaha.

Sebelum invasi minimarket yang menjamur orang tua saya menjual barang kebutuhan sehari-hari di sebuah ruko di dekat pasar sentral. Nama tokonya menggunakan nama saya TOKO DIAN (Dian : Nama kecil)

Dapat barang baru

Orang tua memberikan anaknya barang baru tentu saja adalah suatu hal yang wajar, karena merupakan bentuk kasih sayang dan kebahagiaan mereka. Mulai dari pakaian baru, mainan baru, sepeda atau barang-barang yang dibutuhkan si anak ataupun barang yang diminati oleh anak. Untungnya sebagai anak pertama, akan merasakan kebaruan dari barang-barang tersebut, beda dengan anak kedua atau ketiga, terkadang mereka memakai pakaian lama yang pernah anak pertama gunakan.

Misalnya baju yang sudah kekecilan namun masih bagus, akan disimpan baik-baik untuk dipakai oleh anak selanjutnya. Paling sering barang-barang seperti sepeda yang bisa bertahan dalam waktu yang lama, anak kedua dan selanjutnya kadang hanya memakai sepeda bekas dari anak pertama.

Merasakan perjuangan keluarga

Umumnya anak pertama hadir dalam sebuah keluarga di tahun-tahun pertama pernikahan, meskipun beberapa keluarga harus menunggu beberapa tahun untuk hadirya sang anak. Tahun-tahun pertama pernikahan dalam sebuah keluarga adalah waktu-waktunya berjuang dan membangun. Anak pertama yang hadir di tahun awal pernikahan akan ikut meraakan bagaiaman orang tua mereka berjuang, membangun rumah, hidup sederhana dan seadanya.

Itulah kenapa anak pertama selalu dianggap lebih dewasa dan lebih sabar dari adik-adiknya, mereka mengerti bagaimana susah dan berliku-likunya perjuangan orang tua mereka dulu. Saya sendiri masih ingat bapak dan ibu awalnya berjuang dengan berkebun cengkeh, kemudian beralih menjadi  pedagang kebutuhan sehari-hari, karena invasi minimarket bapak akhirnya menjadi petani kemudian toko berubah menjadi toko hewan. Begitulah hidup selalu berproses.

Tulang Punggung Keluarga

Mau tidak mau, siap tidak siap, akan tiba waktunya ketika tanggung jawab orang tua berpindah ke pundak anak pertama. Entah itu secara perlahan dan sedikit demi sedikit atau bahkan bisa secara tiba-tiba dan keseluruhan. Sebagai  yang tertua anak pertama akan mengemban beban dan tanggung jawab ketika sudah dewasa nanti, ketika orang tua tidak lagi mempu mencari nafkah, atau ketika orang tua sudah berada di alam yang berbeda.

Tanggung jawab mencari nafkah berpindah secara alami, tidak ada aturan yang menjelaskan bahwa harus anak pertamalah yang memikul tanggung jawab. Tak jarang si sulung harus betul-betul menggantikan peran orang tua yang mencari nafkah, mengurus adik-adiknya bahkan memastikan dapur tetap berasap.

Beberapa bahkan membiayai kuliah adik-adiknya, biasanya sih ini terjadi kalau jarak antara anak pertama dengan adiknya agak jauh. Jadi waktunya pas, si kakak sudah bekerja dan si adik sudah usia masuk kuliah. Selain sebagai tulang punggung keluarga, anak sulung juga membawa nama besar keluarga. Apa yang ia lakukan dan raih akan membawa serta nama keluarga, begitu pula ketika tindakan yang berdampak buruk juga akan berimbas ke nama keluarga.

Begitu besar tanggung jawab yang dipikul, maka tidak salah jika ada yang bilang, KALAU CARI YANG BERTANGGUNG JAWAB, CARILAH ANAK PERTAMA kayak saya.

KAPAN NIKAH?

Mau anak pertama, kedua atau ketiga belas, pertanyaan KAPAN NIKAH akan selalu hadir membayangi hidupmu. Tapi eitsss tentu saja pertanyaan ini akan dihadapi lebih cepat oelh anak pertama. Bahkan bisa lebih horor karena bisa menyerempet kemana-mana?

“kamu kapan nikah? Kasihan adekmu itu nda bisa nikah kalau kau belum menikah”

“Umur sudah cukup, penghasilan sudah ada, kenapa belum nikah? Normal kan?”

“baca artikel terus, baca buku nikah kapan”?

*Tulisan ini diikutkan dalam #tantangan5 kelaskepo.org

Sebelum Marah-marah di UGD, Kamu Harus Tahu Ini.

Bekerja di Unit Gawat Darurat (UGD) berarti siap-siap bekerja dengan segala tekanan yang ada. UGD adalah ruangan yang memiliki tekanan pekerjaan yang tinggi dibanding ruangan lainnya. Bukan hanya berhadapan dengan pasien yang beragam dan gawat, petugas kesehatan juga mesti berhadapan dengan keluarga pasien. Kedatangan pasien di UGD tidak bisa ditebak waktu dan jumlahnya, sehingga petugas UGD harus siap tiap saat.

Kadang terdengar komentar negatif kepada petugas kesehatan, khususnya yang bekerja di UGD bahwa mereka tidak peka, cuek, lamban. Harapan pasien datang di UGD tentu ingin mendapatkan pelayanan yang cepat, namun terkadang tidak demikian.

Unit Gawat Darurat (UGD) adalah ruang pertama yang dituju pasien ketika mendapatkan masalah-masalah kesehatan, namun yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang adalah sistem kerja di UGD. Sistem kerja di UGD bukanlah “First In, First Out”, bukan pula sistem antrian, yang pertama datang yang mendapat pelayanan pertama.

Seorang bapak tiba-tiba marah di ruang UGD karena merasa anaknya yang sakit diabaikan, sementara pasien yang baru saja masuk langsung mendapatkan penanganan. “kenapa yang baru masuk langsung ditangani?, sementara anakku hanya ditanya-tanya kemudian ditinggal!”. Bapak ini membawa anaknya masuk dengan keluhan demam tinggi beberapa jam lalu, sementara pasien yang baru masuk mengeluh sesak napas, nampak dari caranya mengambil napas yang dalam. Sistem kerja UGD akan mengutamakan pertolongan kepada pasien yang kedua, sementara pasien pertama tadi dilakukan observasi dan persiapan untuk penanganannya. Sistem ini disebut triage (baca : triase).

Apa itu TRIAGE?

“triage is the process of determining the priority of patients’ treatments based on the severity of their condition”. Sederhananya begini, triage adalah penentuan prioritas pasien, dalam proses triage akan ditentukan pasien mana yang harus mendapatkan pertolongan segera/pertama sesuai dengan kondisinya. Penentuan ini berdasarkan pengkajian awal petugas kesehatan terhadap pasien, kondisi yang dapat mengancam nyawa pasien atau paling tidak beresiko menimbulkan kecacatan atau komplikasi lanjut, harus segera mendapatkan pertolongan.

Ketika UGD kedatangan banyak pasien dalam waktu bersamaan, triage yang menentukan pasien yang akan diberi pertolongan segera. Bahkan pada saat sepi pun, triage tetap digunakan untuk menentukan waiting time pasien sesuai kondisinya.  Untuk membantu proses triage digunakan pelabelan warna sesuai dengan kondisinya, merah, kuning dan hijau. Beberapa rumah sakit bisa kita jumpai jalur triage dengan jelas pada lantainya, ada juga yang memodifikasi misal dengan gelang berwarna dan tidak jarang kita tidak menjumpai tanda apapun terkait dengan triage.

Triage Tape

Pelabelan warna akan memudahkan penilaian kepada pasien yang membutuhkan pertolongan segera. Pasien dengan label warna merah berarti pasien gawat darurat, membutuhkan pertolongan segera dan tidak dapat ditunda. Pasien dengan label warna kuning berarti pasien darurat, membutuhkan pertolongan namun dapat ditunda. Pasien dengan lebal warna hijau berarti pasien gawat, membutuhkan pertolongan minimal dan dapat ditunda. Mari mengambil contoh untuk patah tulang (fraktur) : patah tulang leher berarti label merah, patah tulang pada kaki atau tangan berarti label kuning, patah tulang jari berarti label hijau.

Pada patah tulang leher diberi label Situs Judi Slot Online Sering Menang warna merah karena patah tersebut akan mengganggu kepatenan jalan napas, bisa mengancam nyawa pasien jika tidak mendapatkan pertolongan segera. Patah tulang pada kaki atau tangan diberi label kuning, karena terputusnya tulang pada anggota tubuh yang mengakibatkan nyeri yang sangat hebat dan mengganggu pergerakan, tapi tidak membahayakan nyawa. Patah tulang jari diberi label warna hijau karena tidak membahayakan nyawa dan tergolong minor. Adapun jika menemukan label warna hitam berarti pasien sudah meninggal atau tidak dapat tertolong lagi.

Pernah sekali kejadian ketika saya tugas jaga di UGD RSUD Labuang Baji, seorang anak usia belasan tahun meronta-ronta, ngamuk, dan berteriak keras “kenapaki ndak tolong bapakku kodong, tolong bapakku jangan berdiri saja, kenapaki diam saja“. Bapak anak ini masuk UGD dengan luka tusukan di beberapa tempat, termasuk paru-paru.  Tidak ditemukan adanya tanda-tanda vital, tidak ada denyut nadi, tidak ada respon pupil, tidak ada pengembangan dada, tidak ada suara napas. Tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan. Bapak ini termasuk dalam label warna hitam.

Proses triage juga digunakan pada penanganan korban bencana alam atau pada kecelakaan massal yang melibatkan banyak korban. Proses triase bisa meminimalkan korban meninggal dengan melihat tingkat kegawatdaruratan korban atau peluang hidup. Korban-korban dengan label warna merah akan diberi pertolongan pertama dengan segera sedangkan korban dengan label warna hitam akan ditangani paling akhir.

triage bencana/kecelakaan

– – – – –

Proses triage pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syekh Yusuf Kabupaten Gowa dilakukan dengan warna pada status pasien. “UGD di sini terbagi dua, di depan ketka pasien baru tiba adalah ruang triage, ada satu perawat yang bertugas melakukan pengkajian awal, kemudian menentukan tingkat kebutuhannya dengan menggunakan status pasien yang berwarna” Ungkap Thamrin selaku perawat penanggung Jawab Ruang UGD.

Triage di RSUD Syekh Yusuf

“Ada beberapa keluarga pasien yang kadang tidak sabar untuk dirawat, karena nakira duluanki datang, langsung juga mau dirawat, padahal kan haruski utamakan yang darurat dulu” Lanjut Thamrin.

Penilaian triage pada RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa difokuskan ke pengkajian jalan napas, bisa terlihat di papan alur triage yang menekankan pada kebutuhan resusitasi pasien. Resusitasi berarti mengembalikan jalan napas pasien yang terganggu. Pasien yang mengalami masalah pada pernapasan menjadi prioritas utama, agar banyak nyawa yang dapat tertolong. Pada intinya adalah menyelamatkan banyak nyawa, meski kemudian triage berkembang dengan banyak spesifikasi kebutuhan pasien.

Alur Triage

Dengan mengetahui prinsip kerja triage, kita dapat lebih maklum. Tidak perlu marah-marah ataupun membentak petugas kesehatan di UGD, memaki mereka lamban, cuek dan tidak peka. Petugas kesehatan juga harus memberikan pemahaman kepada pasien ataupun keluarga pasien, sehingga tidak perlu terjadi kesalahpahaman. Tidak salah jika dikatakan peningkatan pelayanan kesehatan adalah sinergitas yang baik antara petugas kesehatan dan masyarakat.

——-

Tentu saja untuk menghindari pasien atau keluarga pasien yang “marah-marah” di UGD, petugas kesehatan perlu menjelaskan dengan baik dan sabar tentang sistem kerja tersebut. Pemahaman serta penguasan konsep Triage petugas kesehatan juga menjadi salah satu faktor kesuksesan berjalannya Triage.

Honor 9 Lite, Smartphone Canggih nan Elegan

 

Zaman sekarang ini hampir semua orang punya smartphone, bahkan tidak mengenal kasta, tidak mengenal umur dan golongan. Saya pernah melihat anak SD punya smartphone sendiri, bukan punya orang tua mereka. Dulu saya umur SD satu-satunya gadget (jika boleh dibilang gadget) adalah gimbot game tetris.

Yah namanya zaman sudah berubah, semua orang harus mengikuti perkembangan yah, berkembang atau punah (ketinggalan). Mungkin begitu yang dipikirkan Bapak dan Ibu saya, mereka juga ingin mengikuti perkembangan zaman. Selama ini mereka punya HP yang sekadar bisa nelpon dan SMS sudah cukup. Sekarang mereka minta dicarikan smartphone untuk mereka gunakan.

Kebetulan sekali di feed instagram saya muncul satu gambar smartphone berwarna biru, sangat cantik kelihatan, namun seperti baru pertama kali saya melihatnya. Saya pun mencoba menelusuri akun instagram yang mengunggah foto itu. Ternyata HP biru yang saya lihat adalah smartphone bermerk HONOR 9 LITE. Karena penasaran saya pun mencoba mencari tahu spesifikasi dari HP ini, siapa tau cocok untuk Bapak dan Ibu saya.

 

 

Honor 9 Lite adalah smartphone keluaran terbaru dari produsen Honor, Smartphone kelas menengah dengan kualitas tinggi tapi dengan harga terjangkau. Honor 9 Lite secara tampilan sangat cantik dengan lebar layar 5.65 inch Full View FHD + Screen. Sangat cukup untuk Bapak dan Ibu yang sudah mulai berumur jelas melihat gambar atau teks dalam smartphonenya karena disuguhi Display dengan ratio 18:9 dan ukuran 2160 x 1080 FHD. Selain itu bodi smartphone ini terlihat mengkilap elegan dengan adanya lapisan kaca pada bagian belakang.  Mungkin agak heran nih, kok di depan dan di belakang masing-masing ada dua kamera?

Yah Honor 9 Lite memang dilengkapi dual kamera depan dan belakang, dimana masing-masing kameranya dalah 13MP+2MP dengan fasilitas kecepatan focus yang baik bisa mengambil gambar mirip dengan aslinya. Selain itu kamera honor 9 Lite dilengkapi dengan wide aperture mode supaya hasil jepret bisa focus ke objek yang diinginkan dan bisa dapat efek bokeh, ituloh efek foto yang belakang objeknya bisa blur-blur, cocok sekali untuk dipost di instagram hasil fotonya.

Harusnya ini dibahas di awal, tapi tak apalah kita bahas disini. Bapak dan Ibu saya bisa kaget melihat kecanggihan tekhnologi yang ditawarkan oleh Honor 9 Lite ini, kenapa? Karena untuk membuka Smartphone bisa menggunakan fitur pengenalan wajah (face unlock) dan tentu saja identifikasi menggunakan sidik jari juga ada namun dengan kecepatan 0,25 detik  smartphone bisa diakses. Pokoknya Bapak dan Ibu kalau mau buka HP nya nanti sisa majuin mukanya ke HP atau pake sidik jari, kebuka deh HP nya. Aman dari stalker-stalker yang mengintai.

Software yang digunakan adalah EMUI 8.0  yang berbasis pada Android 8.0 Oreo. Sehingga kinerja HP tidak lemot, main game bisa lancer tanpa ada kendala. Kemampuan itu didukung dengan Baterainya juga lumayan kuat dengan kapasitas 3000 mAh, dan tekhnologi smart battery saving sehingga memungkinan HP ini digunakan seharian tanpa perlu di charge* penting nih untuk Bapak dan Ibu, supaya mereka tidak perlu nge-charge.

 

 

Secara keseluruhan sebagai paket sebuah smartphone, Honor 9 Lite bisa dibilang Smartphone yang mengerti kebutuhan konsumen zaman now, kekinian banget dengan segala kecanggihan dan tampilan yang menawan. Seperti ini akan menjadi jawaban Handphone seperti apa yang akan saya belikan untuk Bapak dan Ibu saya. Kalau untuk orang tua saja cocok, lebih cocok lagi dong sama anak muda

Kebetulan sekali akan ada event  penjualan perdana Honor 9 Lite di MTC KAREBOSI JAKARTA CELL lt 1 blok L1-L11 tanggal 28 April 2018 jam 12:00 wita. Serunya lagi pada event tersebut. Ada penawaran Khusus bagi 100 pembeli pertama karena akan langsung mendapatkan kupon undian dimana kamu berkesempatan memenangkan banyak hadiah menarik termasuk “1 UNIT HONOR 9 LITE!! Jadi, kalau beruntung, bisa langsung bawa pulang 2 UNIT HONOR 9 LITE dengan cuma membayar 1 UNIT!

Bapak dan Ibu let’s Go MTC Karebosi beli Honor 9 Lite.

Ada yang hilang dari Rappang

rappang

 

Saya mulai meninggalkan Rappang, daerah kelahiran saya pada tahun 2006. Keinginan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, adalah alasan utama, pada saat itu tidak ada pilihan untuk kuliah selain ke Makassar. Tentu saja ada perasaan berat meninggalkan kampung halaman, terutama karena ini adalah pengalaman pertama jauh dari rumah. Ada perasaan was-was bagaimana kondisi di ibukota, apakah akan senyaman disini, apakah saya akan betah, bagaimana dengan orang-orang di kota?

Rappang, sebuah desa kecamatan yang berada di sebelah selatan Kabupaten Sidrap, berbatasan langsung dengan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang. Sangat gampang menemukan lahan persawahan disini, maklum mata pencaharian utama adalah petani. Di beberapa titik terdapat kandang ayam, saya tidak tahu pasti tapi peternak ayam juga merupakan profesi yang lumayan banyak di sini.

Tiap libur kuliah entah itu hanya 2 hari atau lebih lama, saya pasti tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pulang kampung. Kembali ke rumah ibu, menyantap makanan ibu, bertemu teman-teman sekolah, nonkrong di tempat biasa, jajan di warung langganan dan segala hal yang tidak bisa saya lakukan di kota.

Kota Makassar menyajikan begitu banyak kemewahan, namun rappang sebagai kampung halaman dengan segala kesederhanaannya selalu berhasil membuat rindu.

Tahun 2012 saya diterima bekerja di makassar. Jadilah saya menetap untuk waktu yang lebih lama, pulang sudah jarang, karena liburpun tidak sebanyak dulu. 13 tahun berlalu, saya sudah menikah punya dua anak. Kesempatan untuk pulang kampung lebih sedikit lagi. Kadang malah hanya setahun sekali, Paling wajib pulang di saat libur lebaran, takut durhaka kalau tidak pulang atau malah di cap bang toyib.

13 tahun berlalu saya juga menyadari ada banyak perubahan di kampung saya ini, ada yang hilang dan tidak pernah kelihatan lagi, ada beberapa kebiasaan yang tidak lagi biasa terlihat. Ketika ngobrol dengan teman sekolah kadang kami bernostalgia masa-masa itu, memunculkan ruang-ruang rindu akan masa penuh kenangan.

Setidaknya ini beberapa hal yang tidak lagi pernah saya dengar atau lihat di rappang.

 Gema Muharram

Saya lupa tepatnya tahun berapa, tapi kemungkinan di rentang tahun 2000 hingga tahun 2004. Ada sebuah acara yang selalu digelar pada bulan penanggalan islam yaitu Muharram. Gema Muharram namanya, acara yang diinisiasi oleh remaja masjid dan pengurus Masjid Annur, paling tidak begitu seingat saya.

Gema Muharram ini kumpulan lomba-lomba yang bertema islam, baca Al-Qur’an, lomba adzan dan ada pagelaran yang diselenggarakan pada malam hari di panggung pementasan, antaranya sholawat badar, peragaan busana muslim, gerak dan lagu islam, teater/drama, lomba ini  diikuti mulai dari tingkatan SD hingga tingkatan SMA dan perwakilan remaja masjid.

Pada masa awal munculnya gema muharram ini, betul-betul menjadikan hiburan baru dan segar bagi warga rappang, pada malam pementasan warga rappang dan sekitarnya tumpah ruah di pinggir jalan lokasi pementasan. Jadi ajang kumpul-kumpul muda-mudi, ajang ketemuan. Pihak sekolah bahkan menaruh perhatian lebih untuk menyambut Gema Muharram ini. Persiapan latihan berbulan-bulan, persiapan kostum yang mewah. Semua untuk menjadi yang terbaik dibanding sekolah lain, ketika itu menjadi juara di gema muharram adalah sebuah prestasi membanggakan.

Pada masa ini pula, penyanyi lagu-lagu islam terkenal di kampung saya. Haddad Alwi dan Sulis adalah yang paling dikenal, berikut dengan lagu-lagu mereka, menjadi pilihan utama untuk katergori lomba gerak dan lagu islam. Saya masih ingat beberapa lagu mereka seperti Yaa Thoybah, Lil Abii Wal Ummi,  Salam alaika, Ummi. Lirik-liriknya bahkan masih saya hapal hingga sekarang.

Dulu, tiap sekolah atau perwakilan remaja masjid memperlihatkan kreativitas luar biasa dari kategori lomba gerak dan lagu serta Sholawat Badar, ada banyak koreografi yang indah bermunculan di panggung, dan berbeda dari sekolah lain. Saya melihat sebagai proses kreatif, sebuah hal yang bagus untuk memantik jiwa-jiwa kreatif anak muda rappang. Mulai dari sini tidak menutup kemungkinan mereka yang terlibat dalam prosesnya bisa memunculkan hal-hal baru yang kreatif juga.

Itu dulu, sekarang gema muharram redup. Jadi rindu masa-masa itu.

Remaja Mesjid

Seiring redupnya Gema Muharram, kegiatan remaja masjid di rappang juga ikutan redup. Sepengamatan saya  tidak lagi pernah melihat muda-mudi usia sekolah nonkrong di masjid saat sore hari. Dulu, ketika mau menjumpai teman sebaya, cukup datang ke masjid dekat rumahnya di sore hari sehabis ashar. Meraka akan berkumpul di sana bersama dengan teman-teman remaja masjid lainnya.

Entah mana yang mempengaruhi, Gema Muharram redup dan mempengaruhi eksistensi remaja masjid, atau hilangnya remaja masjid yang menjadikan Gema Muharram redup. Jelas keduanya saling bertautan, Gema Muharram bisa berlangung karena penggerak di belakangnya adalah remaja masjid, sebaliknya remaja masjid adalah salah satu partisipan dalam lomba-lomba di gema muharram.

Padahal yah, positif sekali jika muda-mudi ini aktif di kegiatan remaja masjid. Selain mendekatkan diri kepada Allah, juga mereka melakukan interaksi langsung dengan teman-temannya di luar sekolah dan melakukan kegiatan-kegiatan positif. Tidak seperti sekarang yang mainnya cukup di HP saja melalui game online.

Festival Musik

Dulu senang sekali nonton festival musik dekat rumah, hanya berjarak 50 meter dari rumah panggung yang megah dan kerlap-kerlip berdiri. Sayapun selalu begadang jika ada festival band yang berlangsung, untungnya selalu diadakan di malam minggu. Cuma saya selalu tidak paham dengan jenis aliran musik yang dimainkan kala itu, hanya seperti teriak-teriak dengan suara yang hampir parau, musik keras dan kencang, bahkan ada yang gigit kepala merpati hingga putus, di atas panggung. Sepanjang ingatan saya, itu terjadi antara tahun 1996-2000, musik-musik metal mendominasi. Lagu yang paling saya ingat itu lagu bendera kuning punya Betrayer.

Sayang sekali ingatan saya tentang waktu itu payah, saya tidak bisa mengingat tepatnya kapan lagu-lagu festival band mulai didominasi rock hingga slow rock, kira-kira tahun 2000-2001 lah. Di masa ini lagu yang paling saya ingat, sering dibawakan adalah lagu milik Band Jamrud dan lagu Cinderella punya Band Radja. Bahkan salah satu teman kelas di SMP,  pada jam istirahat selalu menyanyikan lagu ini bermodalkan sekop sampah dan sapu lidi yang diatur layaknya drum.

pada masa ini juga sudah banyak teman-teman sekolah yang tampil di panggung, mungkin karena aliran musiknya sudah mulai bisa diterima kebanyakan orang. Di tempat-tempat nonkrong yang ada ‘dekker-dekker’ tidak jarang dijumpai pemuda sedang bermain gitar atau belajar bermain gitar. Pada masa ini juga studio musik yang menyiapkan satu set alat musik laris sebagai tempat latihan. Dulu anak cowok yang keren itu standarnya adalah bisa main gitar dan lebih keren lagi kalau bisa manggung di festival. Saya tidak termasuk.

Ada dua tempat yang sering dijadikan lokasi panggung festival ini, di depan Pasar Sentral Rappang (lama) dan di depan kandang (sebutan untuk bekas terminal di rappang). Namun sekarang tidak pernah lagi terdengar atau terlihat ada festival musik seperti dulu. karena jarang pulang kampung saya pun tidak tahu penyebabnya apa, yang jelas tidak lagi sering dijumpai anak muda nonkrong dengan gitarnya di pinggir jalan. Satu hal yang jika ingin disebut sebagai penyebab hilangnya festival musik ini adalah

Club anak muda

Antara tahun 90an hingga 2000an, club anak muda di rappang ada banyak dan aktif. Entah aktif dalam sebuah kegiatan anak muda atau aktif dalam perang antar club. Beberapa club anak muda yang saya ingat diantaranya Matadoor Club Rappang, Cobra Club Rappang, Radur, Mandolay, Armyl dan masih banyak lagi yang tidak saya ingat lagi namanya. Club ini punya wilayah kekuasaan masing-masing, beberapa club ada yang berkoalisi ada juga yang musuhan.

Pada masa itu persaingan antar club ini sangat sengit, menyebrang ke wilayah kekuasan club musuh berarti cari mati, mati dalam arti yang sebenarnya. Tidak jarang di depan rumah, yang merupakan terminal menjadi lokasi perang antar club, perang berdarah yang bermodalkan senjata tajam, parang.

matadoor club rappang

Dulu, anak muda ataupun anak sekolah dengan bangga, menyebut dirinya anggota club jika bergabung di club. Sekarang saya tidak lagi melihat itu, anak-anak muda sekarang lebih terkotak-kotakkan karena sekolah. Tidak seperti dulu, dalam satu sekolah bisa anak dua club yang bersaing menjadi penguasa sekolah, kalau ada perkelahian pasti mereka yang terlibat.

Adanya club-club inilah yang menjadikan festival musik eksis pada masa itu, paling minimal mereka mengadakan festival musik pada saat club mereka berulang tahun. Sekarang club-club itu hilang, tidak namanya tapi hilang eksitensinya. Mungkin itu juga menyebabkan festival musik tidak ada lagi, agak miris juga sih, karena festival musik ini sebenarnya jadi ajang penyaluran bakat anak muda yang ada di daerah.

Harusnya club-club ini tetap ada, tentu saja bukan untuk perang. tapi menjadi pelopor kegiatan-kegiatan positif seperti festival musik dan pertandingan-pertandingan olahraga,

Stasiun Radio  FM

“selamat malam para pendengar 98,9 Pandawa FM, sekarang kamu ditemani oleh vokalnya Raditya yang akan menemani kamu semua selama 1 jam ke depan, tentu saja dengan musik-musik pilihan kamu, jangan lupa menelpon di nomor……………”

Pernah sekali waktu saya belajar menjadi penyiar di salah satu stasiun radio dekat rumah. Siaran di jam 1 malam supaya tidak ada yang mendengarkan, maklumlah masih pemula. Dulu, di rappang ada beberapa stasiun radio FM yang didirikan oleh sekumpulan pemuda-pemuda yang peduli musik. Tsah. Tentu saja ini stasiun radio yang tergolong liar, yang tiap menjelang pemilu harus dinonaktifkan kalau tidak mau dirazia, setidaknya begitu  kata teman. setidaknya ada dua stasiun radio tempat saya pernah belajar bercuap-cuap dengan para pendengar, Pandawa FM dan Praja Muda FM.

Jaman musik-musik masih didengarkan melalui kaset berpita, dengan alat seadanya sebuah stasiun radio bisa berdiri. Meski ada beberapa, tetap saja tiap stasiun radio ini punya pendengar. Entah didengarkan melalui radio di rumah atau melalui Walkman yang masih merupakan barang mewah saat itu. Entah kenapa rasanya beda jika lagu kesukaan diputar sendiri atau diputar di stasiun radio setelah request sebelumnya.

Menjadi penyiar radio juga menjadi ajang keren-kerenan, tentu saja untuk mendapatkan nilai tambah di mata gadis-gadis remaja. Bahkan ada anggapan kalau penyiar radio itu playboy.

Pada masa ini juga ada banyak singkatan-singkatan muncul berdasarkan lokasi tempat tinggal, singkatan yang dipakai ketiak request lagu. Tentu saja singkatan yang keren untuk menggantikan lokasi tempat tinggal pada saat request lagu. Seperti JEPANG (Jijina Pasae Lao Rijang), Monas (MONri bolana anAS), Denpasar (DEpaN PASAR), Yoko (Yolo toKO), sakura (SAmping KUbuRAn) dan masih banyak lainnya.

Sekarang stasiun-stasiun radio itu tidak lagi terdengar, entah karena penggiatnya yang hilang atau tergerus oleh zaman, dimana mendengarkan musik sekarang sudah sangat mudah.

Apapun itu perubahan-perubahan yang terjadi di rappang ini tidak bisa dicegah, memang harus berubah. Namun sayang jika perubahan itu menghilangkan banyak hal positif, sebenarnya untuk menghidupkan beberapa hal yang telah hilang itu hanya butuh beberapa orang yang berinisiatif. Pertanyaannya kemudian, siapakah dia?

Sidrap, yang Katanya Lumbung Narkoba

“Kegaki melli minya’ tana okkoe?”

Seorang pemuda yang menggunakan motor 2 tak, membawa jerigen 5 liter di tangan kirinya bertanya kepada seorang bapak usia 50an. Pemuda ini menanyakan di mana ia bisa membeli minyak tanah, diawali dengan senyum kecil bapak itu menimpali

“Lebbi magampangngi isappa sabu-sabue okkoe, naiyya minya’ tanae dik”

Pemuda itu pun melaju dengan penuh kebingungan, setelah mendapatkan jawaban yang sama sekali tidak membantunya. Tentu saja pemuda itu kebingungan, ia menanyakan tempat beli minyak tanah, malah diberi tahu kalau lebih gampang mendapatkan sabu-sabu daripada minyak tanah di daerah itu.

Sebuah cerita yang saya dapatkan di kisaran tahun 2010an, cerita yang tidak dibuat-buat. Cerita yang diplesetkan sebagai candaan tapi mengandung cerita pilu, tentang kondisi dan perilaku para pemuda di daerah itu. Sebuah daerah yang dikenal dengan lumbung padi, sarang para peternak ayam, asal dari nasu palekko, daerahnya para passompe’ (perantau). Sepotong cerita itu bahkan menenggelamkan pemikiran tentang tipikal orangnya yang keras, berani dan pekerja keras. Mengubah stereotipe orang di sana. Cerita itu lahir dan terjadi di sebuah daerah bernama Sidenreng Rappang (Sidrap).

Jika dulunya Sidrap dikenal sebagai daerah penghasil beras dan telur, sampai diberi julukan lumbung padi di Sulawesi Selatan. Kini julukan itu berubah menjadi sidrap lumbung sabu (narkoba), dan kampungnya passobis. Sepertinya kecenderungan pemuda yang tidak memiliki pekerjaan di Sidrap mencari jalan pintas meraup rupiah, menjadi penyebabnya. Di tahun 2016 ini saja, tidak jarang portal berita menyebutkan nama Sidrap, bukan karena berita prestasi tapi berita kriminal seputar penangkapan bandar sabu, penyergapan pesta sabu atau penggerebekan markas passobis. Pilu hati ini.

Saya pernah sekali mewakili Sidrap dalam sebuah lomba tingkat 2 Gerakan Pramuka se-Sulawesi Selatan. Salah satu yel-yel andalan kami adalah “SIDRAP BERAS” Beras adalah akronim dari Bersih, Elok, Rapi, Aman dan Sejahtera. Juga ketika mulai kuliah di Makassar, saat saya menjawab Sidrap ketika ditanya daerah asal, teman atau dosen langsung menimpali “Wah juragan beras”. Sidrap memang memiliki lahan pertanian (sawah) yang luas, sekira 23 persen dari luas wilayahnya. (data BPS tahun 2015,  sawah 44.689 Ha, luas wilayah 1.8883,25 Km2).

Seorang tetangga saya yang berumur kisaran 50 tahun pernah berkata

“Muddaniki sedding mitai ana-ana’e malaga” jika diartikan langsung berarti “Rindu rasanya melihat anak muda di sini berkelahi”. Loh kok rindu melihat kekerasan (berkelahi)?, ternyata setelah saya minta dijelaskan, tetangga saya bercerita.

“Iye biasanna, lai yita ana-ana’e betta, sijjagurui atau siwwettai, iye makkokko de’na yisseng kega betta ko depa nai tikkeng polisi” benar juga apa yang dikatakannya, dulu pemuda yang nakal itu bisa kelihatan, berkelahi lah, atau tiba-tiba pulang dengan luka bekas sabetan parang di badannya. Sekarang, kita tidak bisa tahu siapa yang nakal, tiba-tiba saja ditangkap polisi dan mendekam di penjara dengan kasus narkoba. Kira-kira begitu maksudnya.

Ada banyak geng pemuda di kampung saya, masing-masing memiliki anggota dan wilayah tersendiri. Mereka juga memiliki nama geng yang cukup dikenal di masyarakat, Matadoor, Cobra, Radur 45, Bento, Mandolay adalah beberapa geng yang cukup besar. Hampir sama dengan film, mereka susah untuk duduk bersama dengan tenang. Di depan rumah saya yang kebetulan terminal, sering menjadi medan pertempuran dua kelompok besar, Matadoor vs Cobra, memang wilayah mereka hanya dibatasi oleh terminal itu.

Ketika terjadi perkelahian (yang biasanya malam hari), suasananya akan mencekam, semua rumah menutup rapat pintu, tidak ada orang yang berkeliaran, tidak ada kendaraan yang lewat padahal jalanan depan rumah adalah jalan poros menuju Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Toraja. Pemicunya mulai dari hal sepele sampai hal besar, mulai dari ketersinggungan sampai urusan balas dendam. Saya dan keluarga biasanya menuju lantai tiga rumah untuk menyaksikan pertempuran itu, bersenjatakan parang atau benda tajam lainnya mereka akan saling menyerbu, saling melukai, bahkan saling membunuh. Geng ini masih ada sampai sekrang, namun perkelahian antar geng sudah jarang bahkan tidak pernah lagi terdengar. Meski terdengar kejam, hal-hal seperti ini tidak ada lagi dan mulai “dirindukan”.

Meski berkelahi juga bukan sesuatu yang bagus, tapi paling tidak mereka menampakkan diri untuk menunjukkan kenakalannya. Mereka punya sesuatu yang diperjuangkan, memiliki tekad untuk mempertahankan keyakinannya. Jika mau memaksakan baiknya, mereka yang tergabung dalam geng punya sifat kekeluargaan yang tinggi, solidaritas yang kuat, hubungan sosial yang terjaga, setidaknya mereka tidak perlu bersembunyi. Beda dengan pemakai sabu-sabu, untuk menggunakannya harus berada di tempat sepi, sendiri, melayang bersama angan-angan, begitu terbangun sudah berada di balik jeruji besi. Jika harus memilih, saya lebih memilih Judi Slot Online Gampang Menang Deposit Pulsa kampung saya dikenal dengan pemudanya yang suka berkelahi daripada jadi pengecut dengan alat hisap di tangannya.

Tujuh belas tahun saya berada di Kabupaten Sidrap, di salah satu kecamatannya yaitu Panca Rijang. Sebelum akhirnya kuliah dan bekerja di Makassar dari tahun 2006. Di sini stereotipe orang Sidrap berubah, bukan lagi juragan beras atau penjual telur. saya pernah sekali hendak membeli mantel hujan di salah satu kios kecil di jalan menuju pasar daya, pemiliknya seorang pemuda yang tingginya sekira 180an cm, rambutnya panjang melewati bahu. Setelah melihat beberapa mantel yang terpajang dan berdiskusi dengan adik saya dalam bahasa Bugis, pemuda gondrong itu bertanya

“Orang Bugis manaki?” saya menjawab Bugis Sidrap, tepatnya di Rappang.

“Oh, Rappang. Pernahka ke situ dulu, ada temanku naajakka nyabu, banyak sabu-sabunya, sidrap lumbung sabu memang dih”.

Saya pun berlalu dengan kecewa tanpa membeli mantel jualannya.

Bahkan pernah sekali teman kuliah saya bertanya hal yang tidak saya sangka

“Iyan, jujurko sama saya, lama maki kenal, satu rumahki juga, massabu-sabu ko iyo?” saya hanya ketawa, berusaha menjawab dengan tenang

“eh jangan kau kira karena badan saya kurus langsungko bilang saya pemakai”

Teman saya ini katanya pernah mendengar seorang polisi berkata bahwa fokus pengejaran pengedar dan pemakai narkoba itu di daerah Rappang, di sekitaran pasar sentral Rappang. Tepat di lokasi rumah saya, namun bukan berarti saya berada di lokasi tersebut dan memiliki badan kurus bisa dibilang pemakai.

Saya tidak memungkiri adanya pemakai atau pengedaran sabu-sabu di kampung saya, namun tidak setuju jika itu selalu dikaitkan dengan orang sidrap manapun atau diberi julukan sidrap lumbung sabu. Bukankah keadaan seperti itu sudah terjadi secara masif di banyak daerah di negeri kita ini? Sampai-sampai keluar tajuk berupa “Indonesia Darurat Narkoba”. Sidrap masih seperti dahulu, penghasil beras, banyak peternak ayam, warganya banyak yang merantau, penjual nasu palekko dimana-mana, asalnya ayam ketawa. Sidrap lumbung sabu hanya julukan media, tidak seperti kedengarannya. Saya percaya para pemuda yang ada di Sidrap masih lebih  banyak yang ‘waras”.

Meski banyak yang beranggapan sidrap lumbung sabu, saya tetap bangga menjadi warganya. Saya selalu menanti waktu libur kerja untuk pulang kampung, bertemu orang tua, teman-teman masa kecil, tempat-tempat penuh kenangan dan mantan. Menikmati panganan tradisional seperti putu, burasa, sambala kaniki dan tentunya masakan ibu.

Mengasuh anak, bukan tugas ayah!

Baru seminggu umur Gaizka waktu itu, putri dan anak saya yang pertama. Kehadirannya  membuat hari-hari  lebih cerah dan bersemangat, beberapa hal bahkan menjadi kebiasaan baru. Salah satunya adalah mencari baju anak yang lucu dan cantik di instagram. Baru tahu setelah punya anak, ternyata instagram bisa jadi surga belanja online. Suatu waktu beberapa online store saya intip satu persatu, dari satu toko ke toko yang lainnya dan akhirnya tertarik untuk melihat lebih lama di salah satu toko, setelah melihat beberapa baju yang dijual akhirnya saya menentukan pilihan. Liat di bio ada kontak whatsapp, saya pun segera menghubungi penjual via whatsapp.

Saya : “saya minat baju ini, harganya berapa yah?” (sambil mengirimkan capture baju yang saya maksud)

Penjual : “baik bunda, terima kasih telah menghubungi kami” (dan seterusnya)

Seketika saya heran, kok panggil bunda yah? Padahal kan foto saya jelas, nama saya pun laki banget. Apa memang membeli baju untuk anak adalah tugas bunda?

Ini bukan yang terakhir saya berada dalam percakapan seperti ini, satu kejadian yang serupa dengan cerita yang berbeda. Dimulai ketika saya hendak mencari informasi jasa foto anak untuk bayi baru lahir. Akhirnya ketemu dan saya pun menghubungi via WA. Percakapan berakhir hampir sama, penjual membalas dengan sapaan “SALAM BUNDA”. Saya merasa agak aneh, antara mau mengoreksi dan terjebak di pertanyaan “jangan-jangan hal seperti ini memang harusnya diurus sama Ibu?” bahkan hingga membawa saya ke pernyataan “mungkin mengasuh anak bukan tugas ayah”

percakapan WA

Pernyataan itu kadang muncul di kepala saya, bukan hanya karena beberapa percakapan yang saya ceritakan sebelumnya. kebiasaan lain setelah punya anak saya mem-follow beberapa akun parenting, tujuannya sih supaya saya juga belajar bagaimana mengasuh anak, tapi lagi-lagi postingan-postingan parenting selalu diarahkan ke IBU. Postingan-postingan semisal Tips menangani anak sakit, tips mendidik anak, hingga tips memilih mainan semua ditujukan ke Ibu. Padahal kan ayah juga perlu dan butuh informasi-informasi seperti itu.

Tidak jarang juga saya mencari informasi-informasi di internet tentang hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan anak ataupun kesehatan anak, dan lagi-lagi artikel seakan-akan ditujukan kepada IBU saja. Dari kalimat pembuka hingga akhir, yang disebut itu IBU, MOM atau BUNDA. “Pasti BUNDA tidak mau anaknya sakit karena salah penanganan kan?” begitu salah satu kalimat pembuka sebuah artikel.

Mungkin karena Ibu yang lebih banyak berada di dekat anak, sehingga kebanyakan artikel tujuannya ke ibu. Saya mencoba berpikir positif. Sampai pada akhirnya saya dan istri berencana travelling membawa anak kami yang saat itu usianya 6 bulan. Saya pun mencari artikel tentang tips membawa anak dalam pesawat atau apa yang harus dilakukan ketika membawa anak dan beberapa hal yang ingin saya ketahui tentang membawa anak ketika travelling.

“BUNDA berencana membawa anak menggunakan pesawat terbang?” kalimat pembuka sebuah artikel yang kemudian saya skip.

“baru pertama kali naik pesawat bersama anak? Jangan khawatir MOM” kalimat lainnya.

Beberapa artikel selanjutnya yang saya buka pun hampir sama, seakan-akan artikel tersebut hanya boleh dan akan dibaca oleh ibu. Sampai di sini jika ada yang berpikir mengurus anak itu yah tugas ibu, tidak salah juga. Ada banyak hal yang mendukung dan mensugesti kita secara tidak sadar, tapi dilakukan secara terus menerus. Artikel lah, iklan di tivi lah, poster tentang ibu dan anak. Semua hal itu yang kemudian membuat banyak orang terutama saya, berpikiran mengasuh anak memang tugas ibu, bukan ayah.

Pernah sekali waktu ketika Gaizka umur satu bulan, di ruang tunggu dokter anak sambil menunggu giliran. Saya mencium bau tidak sedap, yang merupakan pertanda ada masalah di popok . Segeralah kami menuju nursery room yang berada di klinik tersebut. Di dalam nursery room tersebut, sudah ada seorang ibu dan anaknya sudah selesai menyusui, kami dipersilahkan masuk, istri langsung mengambil pompa ASI untuk menyiapkan ASI dan saya mendekat ke meja popok di sudut ruangan. Dengan beberapa gerakan tangan dan manuver-manuver sederhana saya selesai membuka popok, membersihkan dan memasang popok baru serta membedong anak saya. Tiba-tiba Ibu itu angkat bicara

“Lincahna suami ta dih ganti popok, nda kaku, bagus lagi cari na mabbedong, rapi ki, kalau suamiku deh biar mau naliat itu diganti popok anaknya nda mau juga” ibu itu tiba-tiba curhat.

Pemikiran mengasuh anak bukan tugas ayah, diperkuat dengan banyaknya ayah yang tidak tahu cara mengurus anak. Entah tidak tahu atau memang tidak mau tahu. Sehingga ketika ada ayah yang bisa, menjadi sebuah hal yang luar biasa. Padahal bagi saya, yang (merasa) bisa mengurus anak itu biasa-biasa saja. Tidak ada  yang spesial. Kemampuan-kemampuan tersebut bisa diasah kalau memang mau mencoba. Semua ibu baru pun awalnya kaku menggendong anak, kaku menggganti popok, memandikan anak dan lain sebagainya. Ibu akhirnya lincah karena (dipaksa) terlatih, saya yakin ayah pun jika ingin tahu caranya juga bisa lebih lincah dari ibu.

Beberapa ayah/suami sering menggunakan alasan tugas mereka mencari nafkah, bukan mengasuh anak.  Mencari nafkah memang sebuah keniscayaan, mau makan apa kalau tidak cari uang kan yah. Namun tidak bisa digunakan sebagai penghalang untuk membantu mengasuh anak. Kerjaan mengasuh anak yang biasanya dilakukan oleh ibu/istri sesungguhnya jauh lebih berat dari pekerjaan kita. Dibutuhkan energi yang besar dan sabar yang tebal ketika menghadapi anak. Dibutuhkan pengawasan penuh tanpa henti. Pernah saya mendapati istri saya belum mandi, belum makan karena kesibukannya menemani anak.

Padahal seharusnya mengasuh anak itu adalah tanggung jawab bersama, mengasuh anak adalah pekerjaan 24 jam sehari dengan masa kerja 7 hari dalam seminggu. Pekerjaan yang tidak ada hentinya. Mengganti popok, membersihkan bokong tidak akan mengurangi kadar ke-suami-an atau ke-ayah-an. Mengasuh anak bukan sebuah tugas tapi tanggung jawab, tanggung jawab suami-istri, ayah-ibu, tanggung jawab bersama.

5 Tanda-Tanda Infeksi

“ih liat ini luka di tanganku, ndak infeksi itu?” Eky bertanya sambil memperlihatakn tangan kanannnya. “tidak, belum ada tanda-tanda infeksi, aman” kata saya.

Percakapan itu terjadi suatu hari ketika saya dan beberapa teman, mendaki salah satu gunung yang ada di Sulawesi selatan. Eky salah satu teman yang ikut, sempat terpeleset ketika menapaki jalan yang menurun, ketika jatuh Eky sempat berpegangan di salah satu pohon yang ada di dekatnya. Ternyata tangannya terluka, ada luka di antara jari telunjuk dan jari tengah. Mengeluarkan darah dan Nampak ada robekan.Setelah saya bersihkan dan berikan perawatan seadanya, Eky melanjutkan perjalanan setelah saya yakinkan bahwa lukanya tidak infeksi.

Apa sih itu infeksi? Saya coba jelaskan secara sederhana apa sih yang dimaksud dengan infeksi. Infeksi adalah masuknya kuman, bakteri atau organism easing ke dalam tubuh, kemudian berkembang biak di dalam tubuh dan menggunakan tubuh sebagai tempat tinggal, tapi sayangnya merugikan bagi kita (tubuh).

Kuman atau organisme bisa masuk ke dalam tubuh dalam berbagai cara, bisa karena melalui dengan perantara makanan yang kita makan atau melalui luka. Luka berarti ada ruang yang terbuka di tubuh kita dimana seharusnya itu tidak terbuka, namun tidak semua luka berarti infeksi.

Ada 5 (lima) syarat yang harus dimiliki untuk memenuhi kategori infeksi, atau bisa dibilang tanda-tanda infeksi.

Dolor

Hal pertama yang kita rasakan ketika mendapat luka adalah nyeri atau sakit pada daerah yang mengalami luka, nyeri ini adalah respon yang pasti terjadi ketika mendapat luka. Nyeri terjadi ketika ada kerusakan atau adanya masalah dalam tubuh, sebagai pengingat sesuatu yang tidak beres tubuh akan memberi peringatan berupa nyeri.

Kita yang memilki tubuh, harus tanggap dengan nyeri ini. Ketika merasakan nyeri yang sebelumnya tidak ada, kita perlu waspada akan sebuah masalah yang timbul. Nyeri adalah tanda-tanda infeksi yang pertama.

Kalor

Kalor berarti panas, jangan diplesetkan jadi KOLOR karena artinya beda.

Kenapa bisa terjadi panas pada daerah yang luka atau infeksi? Ini adalah mekanisme tubuh, ketika terdapat luka atau infeksi di bagian tertentu, tubuh akan memperbanyak aliran darah ke bagian tersebut untuk melakukan perbaikan secepat mungkin dan atau melawan kuman/bakteri yang bisa menyebabkan infeksi. Mekanisme itu menyebabkan peningkatan suhu pada bagian tersebut.

Tumor

Tumor yang dimaksud bukanlah tumor yang terjadi karena ada sel kanker, atau tumor-tumor yang sering kita dengar harus melakukan operasi untuk penanganannya.

Secara harfiah tumor berarti pembesaran atau pembengkakan, ketika terjadi infeksi bagian tubuh yang terjangkiti akan sedikit bengkak/besar dari ukuran sebelumnya. Hal ini terjadi masih berhubungan dengan banyaknya aliran darah yang menuju daerah terinfeksi.

Sel akan sedikit membesar ketika aliran darah juga lebih banyak dari sebelumnya, untuk bisa mengimbangi penambahan aliran darah tersebut. Makanya biasanya ketika ada bagian yang agak bengkak, di bagian bengkak itu akan ada banyak darah.

Rubor

Rubor berarti kemerahan. Hal ini terjadi karena aliran darah yang menuju lokasi terinfeksi mengisi pembuluh darah yang kecil, melebarkan pembuluh darah kecil-kecil itu sehingga menimbulkan warna yang lebuh cerah.

Dalam instilahnya disebut sebagai hyperemia atau kongesti.

tanda-tanda infeksi

Fungsio Laesa

Kalau anda memilki luka dan memiliki 4 tanda-tanda infeksi di atas, jangan kaget dulu masih asa satu syarat yang harus dimiliki untuk dikatakan infeksi, yaitu Fungsio Laesa atau perubahan fungsi.

Misalnya saja Eky yang tadi mendapatkan luka di bagian tangan khususnya jari, apabila jari-jari Eky tidak bisa digerakkan secara normal atau tangannya tidak bisa difungsikan sebagaimana mestinya. Maka itu yang disebut Daftar Situs Judi Slot Online Gampang Menang fungsio laesa.

Intinya terjadi perubahan fungsi dari bagian yang terinfeksi, tidak bisa digunakan sesuai dengan fungsinya. Kaki tidak bisa dipakai berjalan atau sakit ketika berjalan, tangan susah digerakkan, hati tidak bisa mencintai seseorang, loh?

***

Untunglah Eky tidak memiliki 5 tanda-tanda infeksi tersebut, jadi tangannya yang luka tidak mengalami infeksi. Namun ketika mendapat luka, infeksi atau tidak harus tetap diobati atau diperhatikan. Jangan sok kuat dengan mengatakan “ah hanya luka kecil, ini sih biasa”.

Tetap saja mencegah lebih baik daripada mengobati.