Sidrap, yang Katanya Lumbung Narkoba

5 minutes, 20 seconds Read

“Kegaki melli minya’ tana okkoe?”

Seorang pemuda yang menggunakan motor 2 tak, membawa jerigen 5 liter di tangan kirinya bertanya kepada seorang bapak usia 50an. Pemuda ini menanyakan di mana ia bisa membeli minyak tanah, diawali dengan senyum kecil bapak itu menimpali

“Lebbi magampangngi isappa sabu-sabue okkoe, naiyya minya’ tanae dik”

Pemuda itu pun melaju dengan penuh kebingungan, setelah mendapatkan jawaban yang sama sekali tidak membantunya. Tentu saja pemuda itu kebingungan, ia menanyakan tempat beli minyak tanah, malah diberi tahu kalau lebih gampang mendapatkan sabu-sabu daripada minyak tanah di daerah itu.

Sebuah cerita yang saya dapatkan di kisaran tahun 2010an, cerita yang tidak dibuat-buat. Cerita yang diplesetkan sebagai candaan tapi mengandung cerita pilu, tentang kondisi dan perilaku para pemuda di daerah itu. Sebuah daerah yang dikenal dengan lumbung padi, sarang para peternak ayam, asal dari nasu palekko, daerahnya para passompe’ (perantau). Sepotong cerita itu bahkan menenggelamkan pemikiran tentang tipikal orangnya yang keras, berani dan pekerja keras. Mengubah stereotipe orang di sana. Cerita itu lahir dan terjadi di sebuah daerah bernama Sidenreng Rappang (Sidrap).

Jika dulunya Sidrap dikenal sebagai daerah penghasil beras dan telur, sampai diberi julukan lumbung padi di Sulawesi Selatan. Kini julukan itu berubah menjadi sidrap lumbung sabu (narkoba), dan kampungnya passobis. Sepertinya kecenderungan pemuda yang tidak memiliki pekerjaan di Sidrap mencari jalan pintas meraup rupiah, menjadi penyebabnya. Di tahun 2016 ini saja, tidak jarang portal berita menyebutkan nama Sidrap, bukan karena berita prestasi tapi berita kriminal seputar penangkapan bandar sabu, penyergapan pesta sabu atau penggerebekan markas passobis. Pilu hati ini.

Saya pernah sekali mewakili Sidrap dalam sebuah lomba tingkat 2 Gerakan Pramuka se-Sulawesi Selatan. Salah satu yel-yel andalan kami adalah “SIDRAP BERAS” Beras adalah akronim dari Bersih, Elok, Rapi, Aman dan Sejahtera. Juga ketika mulai kuliah di Makassar, saat saya menjawab Sidrap ketika ditanya daerah asal, teman atau dosen langsung menimpali “Wah juragan beras”. Sidrap memang memiliki lahan pertanian (sawah) yang luas, sekira 23 persen dari luas wilayahnya. (data BPS tahun 2015,  sawah 44.689 Ha, luas wilayah 1.8883,25 Km2).

Seorang tetangga saya yang berumur kisaran 50 tahun pernah berkata

“Muddaniki sedding mitai ana-ana’e malaga” jika diartikan langsung berarti “Rindu rasanya melihat anak muda di sini berkelahi”. Loh kok rindu melihat kekerasan (berkelahi)?, ternyata setelah saya minta dijelaskan, tetangga saya bercerita.

“Iye biasanna, lai yita ana-ana’e betta, sijjagurui atau siwwettai, iye makkokko de’na yisseng kega betta ko depa nai tikkeng polisi” benar juga apa yang dikatakannya, dulu pemuda yang nakal itu bisa kelihatan, berkelahi lah, atau tiba-tiba pulang dengan luka bekas sabetan parang di badannya. Sekarang, kita tidak bisa tahu siapa yang nakal, tiba-tiba saja ditangkap polisi dan mendekam di penjara dengan kasus narkoba. Kira-kira begitu maksudnya.

Ada banyak geng pemuda di kampung saya, masing-masing memiliki anggota dan wilayah tersendiri. Mereka juga memiliki nama geng yang cukup dikenal di masyarakat, Matadoor, Cobra, Radur 45, Bento, Mandolay adalah beberapa geng yang cukup besar. Hampir sama dengan film, mereka susah untuk duduk bersama dengan tenang. Di depan rumah saya yang kebetulan terminal, sering menjadi medan pertempuran dua kelompok besar, Matadoor vs Cobra, memang wilayah mereka hanya dibatasi oleh terminal itu.

Ketika terjadi perkelahian (yang biasanya malam hari), suasananya akan mencekam, semua rumah menutup rapat pintu, tidak ada orang yang berkeliaran, tidak ada kendaraan yang lewat padahal jalanan depan rumah adalah jalan poros menuju Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Toraja. Pemicunya mulai dari hal sepele sampai hal besar, mulai dari ketersinggungan sampai urusan balas dendam. Saya dan keluarga biasanya menuju lantai tiga rumah untuk menyaksikan pertempuran itu, bersenjatakan parang atau benda tajam lainnya mereka akan saling menyerbu, saling melukai, bahkan saling membunuh. Geng ini masih ada sampai sekrang, namun perkelahian antar geng sudah jarang bahkan tidak pernah lagi terdengar. Meski terdengar kejam, hal-hal seperti ini tidak ada lagi dan mulai “dirindukan”.

Meski berkelahi juga bukan sesuatu yang bagus, tapi paling tidak mereka menampakkan diri untuk menunjukkan kenakalannya. Mereka punya sesuatu yang diperjuangkan, memiliki tekad untuk mempertahankan keyakinannya. Jika mau memaksakan baiknya, mereka yang tergabung dalam geng punya sifat kekeluargaan yang tinggi, solidaritas yang kuat, hubungan sosial yang terjaga, setidaknya mereka tidak perlu bersembunyi. Beda dengan pemakai sabu-sabu, untuk menggunakannya harus berada di tempat sepi, sendiri, melayang bersama angan-angan, begitu terbangun sudah berada di balik jeruji besi. Jika harus memilih, saya lebih memilih Judi Slot Online Gampang Menang Deposit Pulsa kampung saya dikenal dengan pemudanya yang suka berkelahi daripada jadi pengecut dengan alat hisap di tangannya.

Tujuh belas tahun saya berada di Kabupaten Sidrap, di salah satu kecamatannya yaitu Panca Rijang. Sebelum akhirnya kuliah dan bekerja di Makassar dari tahun 2006. Di sini stereotipe orang Sidrap berubah, bukan lagi juragan beras atau penjual telur. saya pernah sekali hendak membeli mantel hujan di salah satu kios kecil di jalan menuju pasar daya, pemiliknya seorang pemuda yang tingginya sekira 180an cm, rambutnya panjang melewati bahu. Setelah melihat beberapa mantel yang terpajang dan berdiskusi dengan adik saya dalam bahasa Bugis, pemuda gondrong itu bertanya

“Orang Bugis manaki?” saya menjawab Bugis Sidrap, tepatnya di Rappang.

“Oh, Rappang. Pernahka ke situ dulu, ada temanku naajakka nyabu, banyak sabu-sabunya, sidrap lumbung sabu memang dih”.

Saya pun berlalu dengan kecewa tanpa membeli mantel jualannya.

Bahkan pernah sekali teman kuliah saya bertanya hal yang tidak saya sangka

“Iyan, jujurko sama saya, lama maki kenal, satu rumahki juga, massabu-sabu ko iyo?” saya hanya ketawa, berusaha menjawab dengan tenang

“eh jangan kau kira karena badan saya kurus langsungko bilang saya pemakai”

Teman saya ini katanya pernah mendengar seorang polisi berkata bahwa fokus pengejaran pengedar dan pemakai narkoba itu di daerah Rappang, di sekitaran pasar sentral Rappang. Tepat di lokasi rumah saya, namun bukan berarti saya berada di lokasi tersebut dan memiliki badan kurus bisa dibilang pemakai.

Saya tidak memungkiri adanya pemakai atau pengedaran sabu-sabu di kampung saya, namun tidak setuju jika itu selalu dikaitkan dengan orang sidrap manapun atau diberi julukan sidrap lumbung sabu. Bukankah keadaan seperti itu sudah terjadi secara masif di banyak daerah di negeri kita ini? Sampai-sampai keluar tajuk berupa “Indonesia Darurat Narkoba”. Sidrap masih seperti dahulu, penghasil beras, banyak peternak ayam, warganya banyak yang merantau, penjual nasu palekko dimana-mana, asalnya ayam ketawa. Sidrap lumbung sabu hanya julukan media, tidak seperti kedengarannya. Saya percaya para pemuda yang ada di Sidrap masih lebih  banyak yang ‘waras”.

Meski banyak yang beranggapan sidrap lumbung sabu, saya tetap bangga menjadi warganya. Saya selalu menanti waktu libur kerja untuk pulang kampung, bertemu orang tua, teman-teman masa kecil, tempat-tempat penuh kenangan dan mantan. Menikmati panganan tradisional seperti putu, burasa, sambala kaniki dan tentunya masakan ibu.

Similar Posts