Bulan: Mei 2019

Berlindung di Balik Quote

Kalau masih suka tersinggung sama bercandaan teman. Berarti pulangmu kurang malam,mainmu kurang jauh. 


Sudah berapa kali quote itu melintasi media sosial yang saya punya, awalnya saya pun mengangguki kalimat tersebut. Beberapa orang memang gampang tersinggung karena tidak terbiasa dengan candaan yang dilontarkan teman, candaan yang menurut si penutur biasa saja tapi menyakitkan bagi si penerima. Tersinggung itu pun dikaitkan dengan seberapa jauh dan seberapa lama seseorang bergaul. Semakin jauh dan lama kamu bergaul, maka semakin tahan kamu menerima candaan dalam bentuk apapun. 

Nah terus bagaimana jika keadaannya berbeda, mainnya sudah jauh dan pulangnya sudah malam tapi masih tetap tersinggung sama bercandaan teman?

Kemudian muncul kata baper (bawa perasaan), sebutan untuk orang yang dianggap selalu melibatkan perasaan dalam pergaulannya. Semenjak ada kata baper, beberapa orang yang mampu menyakiti perasaan orang lain berlindung di balik kata itu. Terkadang dengan gampang kita mengatakan dia saja yang baper, padahal bisa saja mungkin bercandaan kita yang menyakitkan. Hanya saja kita tidak sadar.

Pada perkembangannya Baper itu seperti aib, seakan-akan berkata bahwa seberapa keras pun bercandaanya kamu tidak boleh baper, karena baper itu salah.  Yah kesannya bahwa orang-orang yang baper adalah orang yang salah, bukan si empunya bercandaan. Baper membuat kita tidak menghargai perasaan orang, bahkan cenderung menggiring kita menerima tuduhan/candaan apapun tanpa melakukan perlawanan. Karena melawan itu baper, maka melawan itu salah.

Bagaimana dengan si penutur? bagaimana kalau itu sebenarnya bentuk sebuah ketakutan dari si penutur? Ketakutan yang disembunyikan dengan cara menjadi penutur bukan sebagai penerima, tentu caranya harus dengan pandai bersilat lidah agar tidak menjadi korban. Atau paling tidak menjadi yang pertama meng’skak’ lawan bercandaan.

Tiap manusia punya cara pertahanan diri terhadap suatu keadaan yang disebut mekanisme koping, pola reaksi terhadap ancaman, ancaman akan menyebabkan kecemasan. Kecemasan inilah yang akan coba diatasi oleh mekanisme koping.

salah satu jenis pertahanan itu adalah mekanisme pertahanan ego. Mekanisme pertahanan ego terbagi atas beberapa bagian diantaranya kompensasi, denial, displacement, identifikasi, rasionalisasi, introjeksi, isolasi, proyeksi, over kompensasi, regresi, represi, splitting, sublimasi, Disosiasi, Intelektualisasi, supresi, undoing.

Si penutur mungkin saja adalah orang yang sedang mempertahankan dirinya, mungkin saja dia sedang melakukan salah satu tekhnik pertahanan ego yaitu kompensasi. Kompensasi adalah mengalihkan kelemahan dirinya dengan menonjolkan/ mengunggulkan/menggantikan keberhasilan-keberhasilan aspek lainnya yang dianggap sebagai aset dirinya.

Kompensasi bisa dibilang menyembunyikan ketakutan dengan menonjolkan kelebihan.

Lantas bagaimana seharusnya kita bersikap dalam pergaulan? Apakah memang salah satu indikator kedekatan kita dalam bergaul adalah ketika tidak ada lagi batasan dalam bercanda meski itu menyangkut hal-hal yang menyinggung perasaan?

Atau memang untuk mendapatkan teman bergaul kita harus tahan banting, menerima semua candaan, perlakuan, hinaan, kemudian membalasnya dengan senyum tanda baik-baik saja?

Mencari teman tidak seharusnya serumit itu. Pertemanan harusnya sebuah pertalian yang indah dari sebuah perbedaan.

Yang kita butuhkan dalam berteman hanyalah komunikasi yang baik. Bagi yang sering merasa tertindas, kamu harus angkat bicara. Katakan sampai mana batasan yang bisa kamu terima, tegaskan batas pribadi yang tidak boleh teman kita langgar. Katakan dengan lantang jika memang tidak suka dengan bercandaan teman.

Bercandaan teman yang berulang-ulang mungkin saja karena mereka berpikir tidak ada masalah dengan itu, toh kita menerimanya dengan baik-baik saja. Dengan berani menyatakan pendapat, mungkin teman kita akan sadar batasan yang bisa kita terima.

Yang kita butuhkan dalam berteman adalah komunikasi. Bagi kalian yang memiliki teman yang suka bercanda kelewatan, bersabarlah sedikit. Itu adalah cara yang dia tahu untuk menarik perhatian kita. Di dalam lubuk hatinya dia takut kehilangan teman, meski tidak akan pernah dia katakan. Malah cenderung menyangkal.

Jangan takut baper, jangan takut berteman karena tanpa teman kita bukan siapa-siapa.

“Pertemanan itu bukan soal seberapa jauh atau seberapa lama kamu bergaul, pertemanan itu tentang seberapa jauh dan seberapa lama kamu mau memahami temanmu”

5 Hal yang Tidak Kamu Ketahui Tentang Mahasiswa Keperawatan

Sudah pernah lihat mahasiswa keperawatan kan? Kalau pernah menginjakkan kaki di rumah sakit, entah sebagai pasien atau menjenguk yang lagi sakit pasti pernah ketemu mahasiswa keperawatan. Secara mereka memang menghabiskan banyak waktu di rumah sakit untuk menyelesaikan pendidikan mereka.

Namun, pernah tidak kamu memperhatikan hal-hal unik dari mereka? Mungkin tidak, palingan mereka cuma berlalu begitu saja tanpa kamu perhatikan dengan baik. Perawat adalah salah satu pekerjaan yang berhubungan dengan manusia, membuat profesi yang mulia. Berhubungan dengan orang sakit, tentu beda saat berhadapan dengan orang yang sehat-sehat saja. Belum lagi proses pendidikan mereka yang beda dengan jurusan lainnya.

1. Menjadi Perawat Butuh Proses

Berbeda dengan perawat di masa tahun 1990-an di mana semua biaya sekolah perawat ditanggung pemerintah, di zaman milenial ini biaya sekolah perawat cukup mahal bahkan setara dengan pendidikan dokter.

Dulu berbekal ijazah SPK, perawat langsung bisa diangkat menjadi PNS. Namun, tidak di zaman milenial ini. Menjadi perawat butuh proses dan waktu yang panjang.

Kamu harus menyelesaikan pendidikan keperawatan setingkat D3 di Akademi Keperawatan selama 3 tahun. Kamu bisa saja melamar pekerjaan dengan ijazah tersebut, tapi kamu harus mempunyai surat tanda registrasi (STR) perawat yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan MKI Pusat, dengan cara mengikuti ujian kompetensi (Ukom) perawat.

Untuk mendapatkan STR ini kamu juga harus mengikuti Ukom Perawat. Layaknya seperti ujian pada umumnya, ujian ini tidak semuanya dinyatakan lulus. Hanya bagi yang mencapai target nilai yang ditentukan, dinyatakan lulus. Bagi yang tidak lulus, harus mengulang kembali ujiannya sampai dinyatakan lulus dan barulah bisa mendapatkan STR.

2. Profesi yang Mengabdi kepada Manusia walau Penghasilan Alakadarnya

Dulu profesi perawat sungguh menjanjikan, tapi tidak untuk zaman milenial sekarang. Banyaknya lulusan keperawatan membuat profesi ini semakin tidak dihargai, sebab demi mempertahankan gensi dan profesi banyak perawat yang rela bekerja tanpa digaji dengan status perawat bakti.

Berbeda bila perawat yang bekerja di luar negeri, seperti di Arab Saudi, Jepang, Dubai, dan negara-negara yang begitu menghargai profesi perawat. Di sana perawat digaji tinggi, bahkan biaya hidup pun ditanggung di luar gaji pokok.

Namun, untuk perawat dalam negeri jangan harap untuk bisa digaji besar dan harus rela menerima intensif ala kadarnya. Kecuali kalau kamu perawat yang membuka usaha jasa pelayanan sendiri, maka penghasilannya tergantung dengan usaha yang kamu lakukan.

Bila bekerja dan mengabdi dengan pemerintah dalam negeri, bersiaplah untuk menikmati berbagai dilema, seperti gaji ala kadarnya, uang jasa yang telat keluarnya, dan berbagai persoalan lain yang semakin mempersulit kehidupan perawat.

3. Mendahulukan Kepentingan Kesehatan Pasien di Atas Kepentingan Pribadi

Ketika kamu telah memutuskan untuk menjadi perawat, maka bersiaplah untuk mendahulukan kepentingan kesehatan pasien di atas kepentingan pribadi. Sebab, menjadi perawat kamu harus dituntut untuk selalu sehat fisik dan pikiran supaya bisa memberikan pelayanan yang optimal ke pasien.

Bila kamu mempunyai masalah di rumah, maka masalah tersebut harus kamu tinggalkan di rumah, begitu pula bila kamu sedang sakit harus berpura-pura sehat di hadapan pasien. Perlakuan yang kamu berikan kepada pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhannya.

Kamu harus bisa tetap tersenyum di hadapan pasien, walau sedang banyak masalah karena bila kamu menunjukkan wajah cemberut dan kesal, maka pasien pun jadi takut dan tentunya dapat mempengaruhi fisik dan pikiran pasien. Jadi, kamu harus memasang topeng kebahagiaan bila sedang berhadapan dengan pasien.

4. Perawat tidak hanya bertugas untuk mengganti infus pasien

Beberapa orang memiliki anggapan bahwa seorang perawat hanya bertugas untuk membantu dokter dalam mengganti infus dan mengecek pasien secara rutin saja. Padahal, jadi seorang perawat itu jauh lebih sulit dari apa yang sebenarnya kamu lihat. Salah satunya, ketika masih menjadi mahasiswa, calon perawat harus bisa mempelajari materi yang berkaitan dengan ilmu kedokteran, kuat begadang ketika shift malam atau lembur.

Tidak hanya itu, seorang perawat juga harus menyusun laporan Askep (Asuhan Keperawatan) yang sangat rumit dan banyak. Dengan proses belajar yang sangat rumit seperti itu, pasti kamu memiliki bayangan betapa sulitnya menjadi seorang perawat, kan?

5. Tidak Mengenal Hari Libur atau Tanggal Merah

Bila profesi lain mempunyai hari libur di akhir pekan atau saat tanggal merah, tapi tidak untuk perawat. Kamu harus tetap masuk sesuai jadwal piket, meskipun di akhir pekan atau tanggal merah. Bahkan di saat-saat moment penting, seperti bulan suci Ramadan, Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha, kamu tetap harus masuk piket bila waktu itu sesuai dengan jadwal piketmu.

Lantas bagaimana perawat bisa libur? Kamu bisa libur tidak masuk kerja setelah dua malam berturut-turut dapat jatah piket malam, jadi besoknya kamu bisa lepas jaga (LJ) alias libur sehari.

Nah, bila kamu butuh mendesak untuk libur, maka kamu harus mencari teman kerjamu yang mau menggantikanmu untuk jadwal piket. Kompensasinya kamu harus membayarnya sejumlah uang sebagai gantinya atau kamu harus mengganti jadwal temanmu bila sewaktu-waktu dia meminta untuk libur kerja juga. Hal itu sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan di tempat kerja masing-masing.

Salah satu hal dasar yang harus dimiliki oleh seorang perawat adalah rasa peduli yang besar atau empati. Oleh karena itu, selain membekali diri dengan ilmu-ilmu medis, perawat juga harus melayani pasien dengan rasa empati yang baik agar mereka merasa lebih nyaman saat dirawat. Menjadi seorang perawat memang tidak mudah. Akan tetapi, profesi mereka sangatlah mulia.