Perawat

5 Hal yang Tidak Kamu Ketahui Tentang Mahasiswa Keperawatan

4 minutes, 6 seconds Read

Sudah pernah lihat mahasiswa keperawatan kan? Kalau pernah menginjakkan kaki di rumah sakit, entah sebagai pasien atau menjenguk yang lagi sakit pasti pernah ketemu mahasiswa keperawatan. Secara mereka memang menghabiskan banyak waktu di rumah sakit untuk menyelesaikan pendidikan mereka.

Namun, pernah tidak kamu memperhatikan hal-hal unik dari mereka? Mungkin tidak, palingan mereka cuma berlalu begitu saja tanpa kamu perhatikan dengan baik. Perawat adalah salah satu pekerjaan yang berhubungan dengan manusia, membuat profesi yang mulia. Berhubungan dengan orang sakit, tentu beda saat berhadapan dengan orang yang sehat-sehat saja. Belum lagi proses pendidikan mereka yang beda dengan jurusan lainnya.

1. Menjadi Perawat Butuh Proses

Berbeda dengan perawat di masa tahun 1990-an di mana semua biaya sekolah perawat ditanggung pemerintah, di zaman milenial ini biaya sekolah perawat cukup mahal bahkan setara dengan pendidikan dokter.

Dulu berbekal ijazah SPK, perawat langsung bisa diangkat menjadi PNS. Namun, tidak di zaman milenial ini. Menjadi perawat butuh proses dan waktu yang panjang.

Kamu harus menyelesaikan pendidikan keperawatan setingkat D3 di Akademi Keperawatan selama 3 tahun. Kamu bisa saja melamar pekerjaan dengan ijazah tersebut, tapi kamu harus mempunyai surat tanda registrasi (STR) perawat yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan MKI Pusat, dengan cara mengikuti ujian kompetensi (Ukom) perawat.

Untuk mendapatkan STR ini kamu juga harus mengikuti Ukom Perawat. Layaknya seperti ujian pada umumnya, ujian ini tidak semuanya dinyatakan lulus. Hanya bagi yang mencapai target nilai yang ditentukan, dinyatakan lulus. Bagi yang tidak lulus, harus mengulang kembali ujiannya sampai dinyatakan lulus dan barulah bisa mendapatkan STR.

2. Profesi yang Mengabdi kepada Manusia walau Penghasilan Alakadarnya

Dulu profesi perawat sungguh menjanjikan, tapi tidak untuk zaman milenial sekarang. Banyaknya lulusan keperawatan membuat profesi ini semakin tidak dihargai, sebab demi mempertahankan gensi dan profesi banyak perawat yang rela bekerja tanpa digaji dengan status perawat bakti.

Berbeda bila perawat yang bekerja di luar negeri, seperti di Arab Saudi, Jepang, Dubai, dan negara-negara yang begitu menghargai profesi perawat. Di sana perawat digaji tinggi, bahkan biaya hidup pun ditanggung di luar gaji pokok.

Namun, untuk perawat dalam negeri jangan harap untuk bisa digaji besar dan harus rela menerima intensif ala kadarnya. Kecuali kalau kamu perawat yang membuka usaha jasa pelayanan sendiri, maka penghasilannya tergantung dengan usaha yang kamu lakukan.

Bila bekerja dan mengabdi dengan pemerintah dalam negeri, bersiaplah untuk menikmati berbagai dilema, seperti gaji ala kadarnya, uang jasa yang telat keluarnya, dan berbagai persoalan lain yang semakin mempersulit kehidupan perawat.

3. Mendahulukan Kepentingan Kesehatan Pasien di Atas Kepentingan Pribadi

Ketika kamu telah memutuskan untuk menjadi perawat, maka bersiaplah untuk mendahulukan kepentingan kesehatan pasien di atas kepentingan pribadi. Sebab, menjadi perawat kamu harus dituntut untuk selalu sehat fisik dan pikiran supaya bisa memberikan pelayanan yang optimal ke pasien.

Bila kamu mempunyai masalah di rumah, maka masalah tersebut harus kamu tinggalkan di rumah, begitu pula bila kamu sedang sakit harus berpura-pura sehat di hadapan pasien. Perlakuan yang kamu berikan kepada pasien sangat berpengaruh pada proses penyembuhannya.

Kamu harus bisa tetap tersenyum di hadapan pasien, walau sedang banyak masalah karena bila kamu menunjukkan wajah cemberut dan kesal, maka pasien pun jadi takut dan tentunya dapat mempengaruhi fisik dan pikiran pasien. Jadi, kamu harus memasang topeng kebahagiaan bila sedang berhadapan dengan pasien.

4. Perawat tidak hanya bertugas untuk mengganti infus pasien

Beberapa orang memiliki anggapan bahwa seorang perawat hanya bertugas untuk membantu dokter dalam mengganti infus dan mengecek pasien secara rutin saja. Padahal, jadi seorang perawat itu jauh lebih sulit dari apa yang sebenarnya kamu lihat. Salah satunya, ketika masih menjadi mahasiswa, calon perawat harus bisa mempelajari materi yang berkaitan dengan ilmu kedokteran, kuat begadang ketika shift malam atau lembur.

Tidak hanya itu, seorang perawat juga harus menyusun laporan Askep (Asuhan Keperawatan) yang sangat rumit dan banyak. Dengan proses belajar yang sangat rumit seperti itu, pasti kamu memiliki bayangan betapa sulitnya menjadi seorang perawat, kan?

5. Tidak Mengenal Hari Libur atau Tanggal Merah

Bila profesi lain mempunyai hari libur di akhir pekan atau saat tanggal merah, tapi tidak untuk perawat. Kamu harus tetap masuk sesuai jadwal piket, meskipun di akhir pekan atau tanggal merah. Bahkan di saat-saat moment penting, seperti bulan suci Ramadan, Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha, kamu tetap harus masuk piket bila waktu itu sesuai dengan jadwal piketmu.

Lantas bagaimana perawat bisa libur? Kamu bisa libur tidak masuk kerja setelah dua malam berturut-turut dapat jatah piket malam, jadi besoknya kamu bisa lepas jaga (LJ) alias libur sehari.

Nah, bila kamu butuh mendesak untuk libur, maka kamu harus mencari teman kerjamu yang mau menggantikanmu untuk jadwal piket. Kompensasinya kamu harus membayarnya sejumlah uang sebagai gantinya atau kamu harus mengganti jadwal temanmu bila sewaktu-waktu dia meminta untuk libur kerja juga. Hal itu sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan di tempat kerja masing-masing.

Salah satu hal dasar yang harus dimiliki oleh seorang perawat adalah rasa peduli yang besar atau empati. Oleh karena itu, selain membekali diri dengan ilmu-ilmu medis, perawat juga harus melayani pasien dengan rasa empati yang baik agar mereka merasa lebih nyaman saat dirawat. Menjadi seorang perawat memang tidak mudah. Akan tetapi, profesi mereka sangatlah mulia.

Similar Posts