Fungsi Narkotika Untuk Pengobatan 

Apa yang ada di benak Kau ketika mendengar kata narkotika? Beberapa besar mungkin akan mengasosiasikan kata narkotika dengan tindakan penyalahgunaan obat untuk kepentingan rekreasional dan menyimpang dari tata tertib yang berlaku. Berdasarkan aku hal itu wajar terjadi, mengingat semacam itu banyaknya kasus penyalahgunaan obat klasifikasi narkotika yang terjadi, terpenting di kalangan seleb.

Tetapi tahukah Kau bahwa sebagian obat klasifikasi narkotika sesungguhnya bisa diterapkan untuk terapi medis pada batasan tertentu? Apa fungsi narkotika dalam pengobatan dan hal apa saja yang wajib dilihat dikala seorang pasien mengkonsumsi obat klasifikasi narkotika? Mari simak pemaparan berikut!

Apa itu narkotika?

Sebelum membahas lebih dalam, mari kita lihat dahulu pengertian dari narkotika. Menurut Undang-undang Nomor 35 tahun 2009, narkotika ialah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, bagus sintetis ataupun semisintetis, yang bisa menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri, dan bisa memunculkan ketergantungan.

Dari definisi hal yang demikian, kita bisa memahami kenapa zat atau obat klasifikasi narkotika ini diperlakukan secara khusus. Ya, sebab narkotika bisa menyebabkan penurunan kesadaran dan memunculkan ketergantungan!

Tetapi, dari definisi hal yang demikian kita juga dapat mengenal bahwa narkotika mempunyai kecakapan untuk mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri, atau umumnya dianggap mempunyai efek analgesik. Nah, efek analgesik dari narkotika inilah yang dimanfaatkan dalam pengobatan.

Tak seluruh narkotika dapat diterapkan dalam pengobatan

Padahal narkotika mempunyai efek analgesik, perlu dilihat bahwa tak seluruh obat klasifikasi narkotika bisa diterapkan dalam pengobatan. Undang-undang membagi narkotika menjadi tiga klasifikasi, dan narkotika yang bisa diterapkan untuk obat dalam pelayanan kesehatan hanyalah narkotika klasifikasi dua dan tiga. Tata ini didasari oleh keamanan dan efektivitas masing-masing zat, yang telah lewat berjenis-jenis uji klinis. Daftar komplit klasifikasi narkotika hal yang demikian tertuang dalam Ketika Menteri Kesehatan Nomor 2 tahun 2017.

Narkotika yang sering kali diterapkan dalam terapi medis

Akhirnya telah diceritakan, ada sebagian obat klasifikasi narkotika yang dibolehkan untuk diterapkan dalam pelayanan kesehatan, dengan indikasi atau kegunaan sebagai analgesik. Obat klasifikasi narkotika bisa diterapkan sebagai pengurang atau penghilang nyeri, sebab sifatnya yang terkait dengan reseptor opioid yang ada di tubuh.

Seandainya pengerjaan pengaitan ini terjadi, karenanya akan terjadi hambatan pelepasan neurotransmitter. Neurotransmitter berperan dalam mempersembahkan pesan terhadap otak bahwa ada nyeri yang terjadi di dalam tubuh. Otak bahkan akan mengolah pesan dan memberikan persepsi terhadap kita bahwa nyeri sedang terjadi. Kecuali, kita akan menikmati sakit. Mesti neurotransmitter ini dihalangi, otomatis pesan hal yang demikian tak akan hingga, sehingga kita tak merasa bahwa kita sedang mengalami nyeri.

Ada sebagian keadaan medis yang mewajibkan pemakaian analgesik kuat, seperti obat klasifikasi narkotika. Salah satunya ialah untuk menuntaskan nyeri imbas kanker alias cancer pain. Kecuali itu, obat variasi ini juga diterapkan untuk menuntaskan nyeri pasca-operasi dan keadaan-keadaan nyeri lain yang tak bisa ditangani dengan analgesik yang lebih rendah potensinya.

Berikut ialah obat klasifikasi narkotika yang sering kali diterapkan dalam pelayanan medis:

  • Morfina. Termasuk ke dalam narkotika klasifikasi dua. Tersedia dalam wujud cairan untuk injeksi, serta tablet immediate release ataupun controlled release.
  • Fentanil. Tersedia dalam wujud injeksi untuk cairan juga transdermal patch untuk dilekatkan di kulit. Sama halnya dengan morfin, obat ini termasuk narkotika klasifikasi dua.
  • Petidin. Tersedia dalam wujud cairan injeksi dan juga termasuk narkotika klasifikasi dua.
  • Oksikodon. Juga termasuk narkotika klasifikasi dua. Tersedia dalam wujud cairan injeksi ataupun tablet controlled release.
  • Hidromorfon. Tersedia dalam wujud tablet controlled release dan termasuk pula ke dalam narkotika klasifikasi dua.
  • Kodein. Termasuk narkotika klasifikasi tiga dan tersedia dalam wujud sirop ataupun tablet. Uniknya kecuali diterapkan untuk menuntaskan nyeri, kodein juga berfungsi sebagai obat batuk sebab bisa menekan sentra batuk yang ada di otak.

Harus berhati-hati dalam penggunaannya

Obat klasifikasi narkotika memang berkhasiat sebagai analgesik, melainkan perlu dilihat bahwa efek samping yang dijadikan juga tak main-main. Efek samping utama dari narkotika ialah depresi nafas, yang bisa menyebabkan seseorang menjadi apnea atau tak bernafas. Oleh sebab itu, kita banyak mendengar jika orang yang mengalami overdosis narkotika bisa usai meninggal.

Kecuali itu, narkotika juga mengurangi motilitas alias kontraksi usus. Tata ini bisa menyebabkan konstipasi. Oleh karena itu, pemakaian narkotika wajib benar-benar dikerjakan dalam supervisi medis, ialah diterapkan secara ideal dengan dosis yang ideal pula.

Untuk kepentingan pengamanan dari kemungkinan penyalahgunaan, pemberian resep narkotika juga dilegalkan ketetapan-ketetapan khusus. , resep yang berisi obat klasifikasi narkotika tak boleh diberikan petunjuk ‘iter’ alias pengulangan, sehingga satu resep cuma bisa diterapkan untuk sekali penebusan saja. Kecuali itu pada ketika menebus obat narkotika di apotik, jangan terkejut jikalau Kau akan dimintai identitas diri seperti KTP.

Nah, itulah fakta-fakta mengenai obat klasifikasi narkotika yang diterapkan dalam terapi medis. Jadi narkotika tak semata-mata diterapkan untuk tujuan rekreasional belaka, melainkan pada dosis dan indikasi yang ideal bisa diterapkan dalam terapi medis. Ini berkhasiat bagi pasien-pasien dengan keadaan nyeri berat, yang membutuhkan analgesik yang cukup kuat untuk menuntaskan nyeri yang dialami.

Similar Posts