Mitus Atau Fakta Duduk Di Depan Pintu Susah Dapat Jodoh?

Pamali merupakan istilah yang kerap kali diaplikasikan orang sunda, especially kolot (ayah dan bunda) untuk melarang sesuatu. Pamali dalam bahasa Indonesia seimbang dengan istilah mitos atau dapat juga disebut sebagai suami bumali….. krik krik garing yah haha.

Pamali/mitos ini sepertinya secara turun temurun diturunkan dari nenek moyang yang walhasil merekat jadi ciri khas orang sunda. Oh iya, ayah dan bunda memakai larangan dari pamali ini sebab ada imbas yang akan muncul dari hal itu. Dalam sebuah obrolan, lazimnya struktur kalimatnya sebagai berikut :

“Subjek + Pamali + Imbas”

Salah satu semisal merupakan ada si kecil gadis duduk di depan pintu, ayah dan bunda berkata “Neng geulis tong calik payun panto, bisi nongtot jodo”. Artinya “Neng menawan jangan duduk di depan pintu, nanti sulit menerima jodoh”. Nah jikalau orang sunda pasti udah nggak asing lagi dengan ucapan itu sebab hampir seluruh kolot menganut pamali hal yang demikian hoho. Eits….meski hampir seluruh orang sunda tahu tetapi nggak semuanya memercayainya.

Sebagai klasifikasi sunda milenial kita nggak sepenuhnya percaya akan hal-hal mitos yang ada (bukan berarti membantah ayah dan bunda hiks) termasuk seputar larangan duduk di depan pintu. Makannya disini kita coba refresentasikan maksud dari larangan itu. Yuk kita mulai.

Kalimat pertama “Jangan duduk di depan pintu”

Jikalau kita menyelami kalimatnya, mungkin maksud kalimat pertama ini merupakan menyadarkan orang sunda bahwa masih banyak daerah yang nyaman untuk duduk bersantuy ria, semisal di taman atau ruang keluarga dengan alas bangku atau samak (karpet zaman dahulu). Seketika mengapa memilih depan pintu untuk duduk?

Alasan kedua merupakan memerintah orang sunda untuk duduk di daerah yang lebih luas dibandingi pintu supaya lebih nyaman dan leluasa. Bayangkan kalau ada 2 orang saja duduk di depan pintu, terang bakal sempit dan nggak nyaman. Masuk akalkan ?? Oke kita lanjut….

Kemudian kita tahu bahwa pintu merupakan jalan untuk orang dapat masuk ke rumah atau sebuah ruanganlah katakan. Jikalau ada orang yang duduk di depan pintu yang udah terang sempit, terus kaprah-kaprah orang dapat masuk ke rumah atau ke ruangan nggak? Sulit boss ia ngehalangin jalan. That’s the point

Kalimat kedua “Nanti sulit bisa jodoh”

Ah elah maaaak, jodoh mah ingin kita duduk depan pintu ingin nggak perasaan nggak ngaruh deh haha bener nggak? Emang yang menyenangi selonjoran depan Layar dapet jodoh lebih cepet? yang duduk manis di taman dapet jodoh lebih cepet? langsung yang hobi  duduk depan pintu sulit nemu jodoh? Yaaah belum tentu sebab jodo, pati, bagja,cilaka mah udah karena sama Allah. Lagian sebagai orang yang beriman kita dilarang menggantungkan diatur termasuk jodoh kemauan sesuatu. Masa kepada jodoh perihal dari daerah duduknya. I don’t think so. Sebagai klasifikasi sunda milenial kita golongan yakin bahwa Kuasa bakal ngasih jodoh terbaik di waktu yang tuhan, eeaaaakk. BTW jodo, pati, bagja,cilaka tuh artinya jodoh, kematian, kebahagiaan, dan celaka.

Kecuali alasan-alasan di atas, dapat jadi ayah dan bunda yang berkata larangan pamali ke orang tua itu sedang menguji orang tua. Lho ko dapat? Yah bisalaaaah, dapat pikir cuman klasifikasi milenial aja yang cerdas.

Bunda kita mungkin jauh lebih cerdas dari orang tua sebab pengetahuan, pengalaman, dan juga karena mereka jauh lebih tua dari kita. Jadi memungkinkan ayah dan bunda berkata pamali orang tua bermaksud untuk melarang orang tua tetapi untuk menguji seberapa kritis tapi kemauan sesuatu. Makannya, jikalau kita bisa larangan pamali atau mitos dari ayah dan bunda atau orang tua, jangan ragu untuk siapa saja bahwa kita orang tua mempercayainya dengan alasan yang terang. Dengan jelas tapi akan ia kemauan sikap kritis orang tua. untuk lawan bicara yang mempercayainya, tapi akan berfikir dalam seputar ucapan kita perihal mungkin kita dapat dapat mindset orang hal yang demikian. Mantaapppp.

Ini seluruh semua opini pribadi. Untuk kalian bebas-bebas saja ingin percaya atau orang tua kemauan sebuah mitos di kepada kalian. Intinya pasti ada argumen dibalik sebuah larangan. Perlu dicatat, untuk percaya kemauan sesuatu kepada saja dan orang tua melanggar tak juga agama yang dianut.

Similar Posts