Penyebab Harga Minyak Goreng Naik

Mengapa harga minyak goreng mahal? Semenjak akhir tahun 2021 kemarin, harga komoditi minyak goreng terus mengalami kenaikan secara signifikan sampai permulaan tahun 2022 ini.
Menurut Sentra Kabar Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), secara nasional harga minyak goreng curah pada 29 Desember lalu cuma Rp 18.400/Kg. Padahal per 5 Januari 2022 kemarin, harga komoditi minyak goreng ini meraba Rp 18.550/Kg.

1. Lonjakan Harga Minyak Nabati Dunia

Kenaikan harga minyak goreng ketika ini diberi pengaruh oleh harga crude palm oil (CPO) dunia yang naik menjadi US$ 1.340/MT. Kenaikan harga CPO ini menyebabkan harga minyak goreng ikut serta naik cukup signifikan.

Tetapi kecuali CPO ada juga unsur lain merupakan kenaikan harga minyak nabati dunia. Penyebab kenaikan harga sebab gangguan cuaca yang menekan tingkat produksi minyak nabati dunia.

“Secara sempurna, produksi minyak nabati dunia anjlok 3,5% di tahun 2021. Meskipun, sesudah lockdown mulai dilonggarkan, permintaan meningkat. Jadi, short supply picu kenaikan harga,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga, dikutip Kamis (6/1/2022).

Produksi minyak nabati dunia tahun 2022 diprediksi tak akan berbeda dibandingi tahun 2021. Sementara permintaan dunia diprediksi naik jadi 240,4 juta ton dibandingi tahun 2021 yang menempuh 240,1 juta ton.

2. Permintaan Biodiesel untuk Program B30

Pemerintah mempunyai program B30 merupakan mengharuskan pencampuran 30% Biodiesel dengan 70% bahan bakar minyak variasi Solar. Tujuan program ini yaitu supaya kian mengurangi laju impor BBM sehingga meningkatkan devisa negara.

Tetapi, ketika ini kondisinya sedang tak tepat, di mana produksi CPO sedang menurun. Di sisi lain keperluan pangan akan minyak goreng konsisten tinggi.

Mengapa harga minyak goreng mahal? Ada desakan dari pengusaha supaya mandatori B30 atau keharusan pencampuran minyak sawit sebanyak 30% pada solar kembali dikurangi. Dengan kata lain kebijakan mandatori B30 ikut serta menjadi target untuk menekan lonjakan harga minyak goreng di Tanah Air.

GIMNI menyebut untuk membendung laju harga minyak goreng, patut dikerjakan dengan memangkas konsumsi CPO di dalam negeri. Untuk menekan laju permintaan yang diinginkan dapat mengontrol lonjakan harga CPO dan produk turunannya, Sahat mengusulkan pemerintah untuk sementara menurunkan mandatori biodisel dari B30 menjadi B20.

Hal ini dapat mengurangi tekanan permintaan. Sehingga dapat berdampak pada turunnya harga bahan baku minyak goreng.

“Dengan semacam itu, konsumsi CPO untuk biodiesel akan berkurang 3 juta ton. Ini cukup untuk memenuhi keperluan 1 tahun minyak goreng curah di dalam negeri,” kata Sahat.

3. Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama harga minyak goreng terus merangkak naik. Pasalnya imbas Covid-19 produksi CPO ikut serta menurun drastis, kecuali itu arus logistik juga ikut serta terganggu. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan menyebut turunnya pasokan minyak sawit dunia seiring dengan turunnya produksi sawit Malaysia sebagai salah satu penghasil terbesar.

“Kecuali itu, juga rendahnya stok minyak nabati lainnya, seperti adanya krisis tenaga di Uni Eropa, Tiongkok, dan India yang menyebabkan negara-negara hal yang demikian menjalankan peralihan ke minyak nabati. Elemen lainnya, adalah gangguan logistik selama pandemi Covid-19, seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal,” jelas Oke sebagian waktu lalu.

Imbas terganggunya logistik, harga minyak goreng juga mengalami kenaikan cukup tajam. Adapun keperluan minyak goreng nasional sebesar 5,06 juta ton per tahun, meski produksinya dapat menempuh 8,02 juta ton.

“Walaupun Indonesia yaitu produsen crude palm oil (CPO) terbesar, tapi situasi di lapangan menampilkan beberapa besar produsen minyak goreng tak terintegrasi dengan produsen CPO. Dengan entitas bisnis yang berbeda, tentunya para produsen minyak goreng dalam negeri patut membeli CPO layak dengan harga pasar lelang dalam negeri, adalah harga lelang KPBN Dumai yang juga terkorelasi dengan harga pasar internasional. Walhasil, jikalau terjadi kenaikan harga CPO internasional, karenanya harga CPO di dalam negeri juga ikut serta menyesuaikan harga internasional,” terang Oke.

Similar Posts