Melihat Tren Lonjakan Harga CPO, Biang Kerok Minyak Goreng Selangit

2 minutes, 42 seconds Read

Melihat Tren Lonjakan Harga CPO

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.000 ringgit Malaysia (RM) atau sekitar US$1,900-an per metrik ton (MT) pada Selasa (1/3). Kondisi ini membuat harga minyak goreng melambung.
Melansir The Edge Markets, kenaikan harga CPO disebabkan oleh lonjakan permintaan ke sumber minyak nabati alternatif, imbas berkurangnya stok minyak bunga matahari di tengah perang Rusia-Ukraina.

Pada penutupan perdagangan, kontrak berjangka CPO Maret melonjak sebesar 712 RM per MT menjadi 8.163 RM per MT. Sementara, kontrak April naik sebesar 663 MR per MT menjadi 7.435 MR per MT.

 

Baca Juga: Alasan Anies Bawa Tanah Kampung Akuarium ke Nusantara Tuai Kritikan

 

Mengutip Reuters, harga CPO diperkirakan masih akan bertengger dalam rentang 6.600 RM per MT-8.100 RM per MT hingga Juli nanti. Bila dihitung, sepanjang tahun ini harga CPO telah naik 38 persen.

Jika melihat historis harga CPO 40 tahun ke belakang, harga CPO belum pernah meroket setinggi tahun ini. Melansir data olahan Trading Economics, harga tertinggi yang paling mendekati saat ini adalah pada Oktober 2021 di level 5.043 RM per MT.

Kemudian, pada Maret 2008 harga CPO sempat menyentuh level 4.000-an RM per MT. Namun di luar itu, harga CPO bervariasi dalam rentang 2.000 RM per MT-3.000 RM per MT.

Analis komoditas sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebut harga CPO yang menembus level tertinggi sepanjang masa tidak diprediksi oleh para analis lantaran konflik Ukraina dan Rusia awalnya diperkirakan tidak separah saat ini.

Bersamaan dengan sanksi yang diterapkan AS, Eropa, dan Inggris terhadap Rusia, musim dingin ekstrem juga terjadi di sebagian Eropa, Asia, dan AS. Kondisi ini membuat lonjakan harga minyak mentah, CPO, nikel, dan komoditas lain melonjak.

“Pasar belum siap dengan kondisi perang Ukraina. Ada ketakutan akan terjadi perang dunia ketiga dan meletus perang nuklir, sehingga membuat permintaan CPO semakin tinggi,” jelasnya.

Di sisi lain, produksi CPO juga seret, terutama di Malaysia, pasca banjir bandang yang berdampak negatif ke produksi CPO. Belum lagi, juga terjadi kekurangan tenaga kerja di negeri jiran akibat pandemi covid-19, karena banyak dari tenaga kerja di sana yang berasal dari Indonesia.

Ibrahim mengatakan melambungnya harga CPO pada ujungnya membuat harga minyak goreng internasional, termasuk di Indonesia, naik pesat. Walau jadi negara penghasil sawit dunia, Indonesia tak punya daya untuk mengatur harga karena kebanyakan sawit RI dijual dalam bentukan mentah.

Hal serupa juga disampaikan oleh Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit Manusetus Darto. Ia mengatakan bahwa harga jual buah tandan segar (BTS) di level petani saaat ini lah yang paling tinggi, bisa mencapai Rp4.000 per kg, jauh di atas rata-rata harga biasanya senilai Rp2.000 per kg.

“Secara historis sebenarnya kami belum pernah mengalami nasib yang sekarang di mana harga CPO melambung tinggi,” ujarnya.

Menurut dia, kenaikan TBS sudah mulai dirasakan sejak paruh kedua 2021, kemudian terus menanjak hingga mencapai puncak. Menurut dia, situasi itu juga lah yang mendorong kelangkaan minyak goreng karena permintaan meningkat sehingga pengusaha memilih mengekspor dari pada menjual ke pasar dalam negeri.

Dari kacamata dia, ada beberapa faktor yang membuat harga CPO melambung. Pertama, produksi minyak nabati jenis lain di Eropa dan Amerika Latin yang menurun. Tengok saja harga minyak kedelai yang ikut melambung akibat produksi yang menurun.

Kedua, produksi sawit di Malaysia turun karena mayoritas buruh berasal dari RI. Ketiga, munculnya konflik yang melanda Rusia-Ukraina, di mana Ukraina merupakan penghasil minyak nabati terbesar di kawasan Eropa.

Similar Posts