Oppo Jadi Penguasa Pasar Ponsel di Indonesia Sepanjang 2021

2 minutes, 27 seconds Read

Oppo Jadi Penguasa Pasar Ponsel di Indonesia

Oppo didapuk menjadi sang penguasa pasar ponsel di Indonesia sepanjang 2021. Dalam laporan terbaru IDC diungkap vendor asal China itu telah mengirimkan 8,5 juta smartphone.
Angka tersebut meningkat dari tahun 2020, kala itu Oppo mengirimkan 8,2 juta unit. Saat ini Oppo menguasai 20,8% market share smartphone Indonesia.

Vanessa Aurelia, Associate Market Analyst from IDC Indonesia, mengatakan Oppo kembali menjadi pemain nomor satu di tahun 2021 setelah digeser Vivo di tahun sebelumnya. Oppo mencatat pertumbuhan YoY sebesar 3% dengan fokus lebih besar pada segmen low-end.

“Oppo juga menjadi penguasa pangsa pasar low-end di 2021, dengan pangsa pasar sebesar 28%, lebih besar dibandingkan tahun lalu, yang hanya sebesar 24%. Oppo memiliki lebih sedikit smartphone 5G pada portfolionya, dibandingkan pemain-pemain top lain di tahun 2021. Sebagian besar smartphone Oppo yang berada di rentang harga USD 400 ke atas memiliki kapabilitas 5G, tetapi tidak banyak yang memiliki fitur serupa pada rentang harga di bawahnya,” jelasnya.

Posisi kedua dihuni oleh Xiaomi dengan pangsa pasar 19,8%. Selama 2021, mereka berhasil mengapalkan 8,1 juta ponsel ke Indonesia, naik signifikan dari 6 juta unit di 2020 dan membuat angka pertumbuhannya paling tinggi dari vendor lain, yakni sebesar 34,2% .

“Pertumbuhan ini didukung oleh ekspansi penjualan offline Xiaomi yang terus berlanjut, ditambah meningkatnya pengiriman pada sub-brand mereka, Poco. Seri Redmi 9 menjadi kontributor terbesar dari pengiriman tahunan Xiaomi. Ditambah lagi, Xiaomi sukses mengembangkan portofolio mid-range mereka (USD 200 < USD 400) secara signifikan dengan bantuan Redmi Note 10 dan seri X3 dari Poco,” jelas Vanessa.

Vivo ada di posisi ketiga, ada 7,4 juta ponsel yang dikirimkan selama 2021, padahal tahun sebelumnya bisa mengirimkan 9,3 juta. Hal tersebut membuat mereka menguasai 18,1% dengan nilai pertumbuhan minus 20,2%.

Samsung menduduki posisi keempat. Sebanyak 7,2 juta unit ponsel dikapalkan, naik dari 6 juta unit di 2020. Membuat vendor asal Korea Selatan ini punya pangsa pasar 17,6% dengan nilai pertumbuhan tahunan 19,5%.

“Samsung Galaxy Z Fold3 menjadi kartu as Samsung dalam menguasai segmen ultra-premium (> USD 1.600). Model Galaxy A52s juga membantu Samsung dalam memperkuat posisinya di segmen mid to high-end (USD 400 < USD 600),” kata Vanessa.

Di urutan kelima ada Realme yang menguasai 12,2% dengan jumlah pengiriman 5 juta unit. Turun dari tahun 2020 di mana sebanyan 5,2 juta unit dikapalkan dengan nilai pertumbuhan minus 3,3%

“Realme C11 (2021) merupakan model yang paling laku terjual dan merupakan versi terbaru dari Realme C11 sebelumnya, namun menggunakan chip dari UNISOC untuk menjaga kestabilan pasokan. Selain menghadapi tantangan pasokan, Realme juga melakukan transformasi saluran distribusi untuk membangun operasional yang lebih tangguh seiring dengan usaha Realme melakukan diversifikasi portfolio mereka,” terang Vannesa.

Memasuki tahun 2022, IDC memperkirakan pasokan smartphone akan meningkat secara bertahap. Para vendor smartphone diprediksi akan mulai menambah stok sebelum memasuki masa Ramadhan, dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta bersiap menghadapi kenaikan pajak penghasilan (PPN) yang akan diterapkan mulai April 2022.

“Meskipun sebagian besar vendor smartphone telah mempersiapkan diri untuk menghadapi peningkatan TKDN, masih ada ketidakpastian untuk lini produk higher-end mereka yang mungkin akan diatur lebih ketat. Ada kemungkinan distributor smartphone akan menumpuk stok sebelum pajak dinaikkan dari 10% ke 11%” ujar Vanessa Aurelia, Associate Market Analyst from IDC Indonesia.

Baca Juga: Ketua MK Anwar Usman Akan Nikahi Adik Jokowi, Sudah Lamaran 12 Maret

Similar Posts