Ardian Adhiwijaya

Hibernasi

Bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan seribu bulan, satu bulan yang lebih mulia dibanding seribu bulan lainnya. Bulan ini bukan hanya barang-barang yang didiskon besar-besaran, amalan pun  ‘diskon’ besar-besaran. Di bulan ini tidurpun dianggap ibadah, bau mulut orang puasa pun dianggap bau surga. Maka tidak heran, dibulan Ramadhan semua orang berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Namun beda lagi dengan Berbagi Nasi Makassar, di bulan Ramadhan ini mereka justru ‘hibernasi’, cuti dari melakukan kebaikan. Berbagi Nasi adalah gerakan sosial sederhana yang membagikan nasi bungkus kepada saudara-saudara yang masih tidur beralaskan bumi, beratapkan tanah. Sudah 2 tahun lamanya berbagi nasi di Makassar, menyisir jalanan kota beramunisikan nasi bungkus hasil donasi para donatur.

Hibernasi adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan ‘cuti’ membagikan nasi yang biasa dilakukan sekali sepekan. Menurut KBBI, hibernasi /hi-ber-na-si/ n : keadaan istirahat atau tidur pada binatang selama musim dingin. Hiber’nasi’ menurut berbagi nasi sendiri adalah istirahat dalam kegiatan membagikan nasi. Sudah 2 tahun juga berbagi nasi melakukan hibernasi di bulan Ramadhan, pejuang nasi (sebutan untuk orang-orang yang membagikan nasi) pun selama bulan Ramadhan diberikan cuti dengan harapan mereka bisa fokus beribadah, menimbun amalam sebanyak mungkin.

Salah satu alasan hibernasi dilakukan adalah untuk memberikan kesempatan kepada orang lain atau komunitas yang ingin berbuat baik. Selama bulan Ramadhan, setiap orang atau komunitas berlomba-lomba untuk menimba amalan dengan membagikan makanan buka puasa atau makanan sahur. Panti asuhan pun dipenuhi daftar-daftar panggilan berbuka puasa atau dipenuhi sumbangan sembako. Banyak malah komunitas atau kelompok tertentu yang lahir di bulan Ramadhan.

Fase hibernasi juga memberikan kesempatan kepada pejuang nasi untuk melakukan kegiatan sosial di komunitas lainnya. Harapannya semangat berbagi nasi selama 11 bulan lainnya, bisa mereka tularkan kepada teman-teman yang ada di sekitar mereka. Tujuan berbagi nasi memang ingin mengajarkan kepada orang-orang untuk berbagi meski sedikit, sesuai dengan tagline berbagi nasi Makassar “jangki’ menunggu berlebih untuk berbagi, berbagiki’ kelak akan dilebihkan”.

Tidak jarang berbagi nasi mendapat tawaran kolaborasi dari komunitas lain atau kelompok tertentu untuk melakukan kegiatan di bulan Ramadhan. Untuk kegiatan kolaborasi berbagi nasi tidak menutup diri, tentunya melihat kesediaan dan kesibukan pejuang nasi.

Semoga saja semangat berbagi di bulan Ramadhan tetap terjaga untuk 11 bulan lainnya.

Active Learning : Jigsaw

Mendengar kata jigsaw pada sebagian orang mungkin akan memikirkan sebuah film thriller berseri yang berjudul ‘Saw’. Dalam film ini ada satu tokoh bertopeng yang antagonis, seorang pembunuh berantai bernama Jigsaw. Beda dengan pembunuh lainnya Jigsaw justru tidak membunuh korbannya secara langsung, korban terpilih akan ditempatkan dalam sebuah jebakan maut.

Jebakan yang dibuat adalah jebakan yang akan memotong anggota tubuh korban. Keberhasilan jebakan tergantung bagaimana korban secara aktif meloloskan diri dengan cerdik. Terdesak oleh waktu, korban akan mencari segala cara meloloskan diri dari jebakan, tidak jarang korban terbunuh dalam usaha meloloskan diri.

Jigsaw Killer

Sebagian orang lagi mungkin akan langsung memikirkan tentang sebuah permainan, permainan Jigsaw Puzzle. Permainan ini cukup populer dikenal dengan nama PuzzleJigsaw Puzzle adalah permainan menggabungkan kepingan-kepingan gambar. Gambar yang utuh dipotong sedemikan rupa yang pada awalnya dibuat menggunakan gergaji, alasan kenapa permainan menggunakan kata Jigsaw (gergaji). Pemain harus aktif menemukan potongan yang tepat untuk dibentuk menjadi gambar yang lengkap.

JIgsaw Puzzle

Beberapa orang lainnya terutama mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan akan berpikir tentang sebuah metode pembelajaran aktif yang juga menggunakan kata Jigsaw. Metode pembelajaran yang pertama kali diperkenalkan oleh Elliot Aronson pada tahun 1975.  Dalam metode Jigsaw, peserta didik ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil kemudian disebut kelompok asal, kemudian digabung dalam kelompok ahli.

Tiap anggota dalam kelompok asal diberi materi yang sama dan harus dikuasai. Tahap selanjutnya, tiap anggota kelompok dari kelompok asal bergabung bersama perwakilan kelompok asal lainnya. Kelompok inilah yang disebut kelompok ahli. Masing-masing anggota kelompok asal akan memaparkan materi di kelompok ahli secara bergantian. Proses inilah yang menjadi dasar metode ini disebut Jigsaw.

Metode Jigsaw

Tiga hal berbeda yang menggunakan kata yang sama di atas memiliki persamaan mendasar, yaitu AKTIF. Entah itu dalam tragedi jebakan maut, permainan gambar ataupun metode pembelajaran. Keaktifan adalah hal yang ingin ditonjolkan. Metode pembelajaran Jigsaw misalnya akan membuat peserta didik lebih berperan aktif dan bertanggung jawab terhadap materi yang diberikan serta mengurangi peran guru atau dosen sebagai penceramah di depan kelas  yang kadang membuat murid hanya menjadi pendengar pasif.

Adalah Nurhaya Nurdin, seorang dosen yang pertama kali mengenalkan metode ini kepada saya. Ners Aya (Ners : gelar profesi keperawatan) begitu kami memanggilnya adalah dosen yang sangat inspiratif, selalu berhasil membawakan materi kuliah dengan menyenangkan. Dosen yang menyelesaikan pendidikan strata dua di University Of Sheffield ini memiliki pembawaan yang ceria, sesekali mengajak mahasiswa belajar di luar kelas dan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda. Beberapa kali saya merasakan sendiri metode pembelajaran Jigsaw yang dibawakan Ners Aya.

Berdasarkan pengalaman itulah, saya yang setahun terakhir juga mengajar di salah satu sekolah keperawatan ingin sesekali mencoba menggunakan metode jigsaw. Namun mengajar di kelas reguler agak repot menggunakan metode ini karena jumlah mahasiswa yang banyak dalam satu kelas. Untungnya tak lama ini gayung bersambut, saya menemukan waktu yang tepat untuk menerapkannya. Berawal dari  kepercayaan mengasuh salah satu mata kuliah SP (semester pendek) dengan hanya 25 orang mahasiswa. 8 pertemuan di kelas saya gunakan untuk menjelaskan beberapa materi di sela-sela diskusi kelompok mahasiswa, rencananya kelompok dalam kelas inilah yang juga menjadi kelompok asal untuk penerapan Jigsaw.

Pertemuan terakhir saya rencanakan hari selasa 30 Juni 2015. Saya berusaha membawa kelas dalam suasana berbeda dan meminta mahasiswa untuk bertemu di pinggir danau Universitas Hasanuddin. Mereka tiba duluan di lokasi pertemuan, saya yang datang agak belakangan langsung meminta mereka berkumpul. Saya yang hari itu mencoba berpakaian santai dengan tidak mengancingkan kemeja flanel yang saya pakai  memulai penjelasan kalau masing-masing mahasiswa mendapatkan waktu 10 menit menjelaskan materi kelompok asal dan 5 menit untuk tanya jawab.


Terbagi atas 3 kelompok ahli mereka memilih duduk di dekat pohon-pohon besar yang ada di pinggir danau. Dengan cekatan mereka memulai membuka poster atau membagikan leaflet yang telah mereka siapkan sebelumnya. Kelas kini berlangsung dengan rimbunnya pohon sebagai atap, rumput dan dedaunan kering sebagai lantai serta suara kendaraan maupun suara orang berbicara dari kejauhan sebagai musiknya. Saya membuka format penilaian dan menuliskan angka untuk memberikan penilaian secara individu.



Perasaan senang tergambar dalam ekpresi mereka, sesekali muncul senyum merekah dari wajah mereka dari ketika salah satu temannya mencoba mengabadikan gambar. Memang saya tidak melarang mereka untuk saling mengambil gambar secara bergantian, tapi tidak boleh mengganggu jalannya diskusi. Sayapun demikian, mengambil gambar dari berbagai sudut dan terkadang lupa kalau saat itu adalah proses belajar mengajar.

Proses belajar mengajar saat itu, saya anggap berhasil. Berhasil karena kami menyatu dengan alam sambil mencoba memasukkan ilmu ke dalam kepala. Kami juga berhasil menemukan sedikit kebahagiaan dengan berbaur dengan alam, saya bahkan lupa harus memberikan penilaian kepada mereka. Ya sudah, sore itu saya memang ingin mengajak mereka keluar dari kebiasaan mereka belajar di dalam kelas. Andai saja saat itu bukan hari bulan puasa, pasta saya meminta mereka menyiapkan kue dan minuman segar semabri menggelar tikar ala-ala piknik.

6 materi kelompok asal selesai dibawakan dalam waktu kurang lebih 90 menit, salah satu keunggulan Metode Jigsaw adalah dapat membawakan banyak materi dalam waktu yang relatif singkat.



Janji kepada teman untuk berbuka bersama langsung teringat ketika saya melihat jarum jam sudah menunjukkan angka 16.30. Sekali lagi saya mengumpulkan mereka untuk evaluasi kegiatan sore itu, tak lupa kami berfoto bersama sebelum akhirnya mereka meninggalkan lokasi dan menuju kediaman masing-masing. Saya memacu motor ke rumah teman untuk berbuka bersama.

Menggunakan metode Jigsaw  mengajarkan peserta didik lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap materi yang dibebankan dan memang seharusnya belajar itu menjadi hal yang menyenangkan. Mungkin saya akan memilih topik ini untuk penyusunan Thesis.

Tentang Pulang Kampung Para Sahabat

“Kolak pisang mama, membawa rasa dan romansa masa kecil di rumah, pulanglah jika sempat”.

Entah ada angin apa percakapan di grup LINE ‘Anu’ tiba-tiba dimulai dengan kalimat seperti itu. Grup Line Anu adalah grup saya bersama 6 orang sahabat, kebingungan mencari nama untuk grup akhirnya terpilih kata Anu, alasannya sepele karena mampu mewakili banyak hal. Seperti arti sahabat, mampu menjadi apapun untuk sahabat-sahabatnya.

Ayus yang memulai membuka percakapan malam itu, disambut cerita-cerita berbau nostalgia dari sahabat lainnya. Saya yang kemudian mengambil alih dan bertindak layaknya moderator dalam sebuah diskusi dengan memberi pertanyaan-pertanyaan terbuka. Pertanyaan seputar kerinduan akan kampung halaman, makanan favorit di kampung sampai pertanyaan tentang orang-orang unik di kampung masing-masing.

Adalah Ayus Hendra Mangka yang akrab kami panggil Ayus, laki-laki berkacamata ini sering juga kami panggil pak RT, dialah yang sering memberikan usulan tidak masuk akal namun selalu berhasil menyakinkan kami mengikuti usulannya. Setiap bulan Ramadhan seperti ini dia selalu ingat dengan Wa’ Semmang, imam salah satu kampung  di Kab. Soppeng.

Rinduka sama Wa’ Semmang, imam desa kampung yang khas sekali nuansa Ramadhan kalau doski mappasempajang -memimpin shalat- jadi ingat semua teman-teman kecilku bahkan ada yang sudah almarhum, kita suka paccobi-cobi sama Wa’ Semmang kasihan. Alhamdulillah dengar kabar tahun ini Wa’ Semmang akan menunaikan haji”. Ayus melanjutkan bercerita tentang satu makanan yang menjadi favorit para lelaki di keluarganya dari generasi ke generasi, kolak pisang kepok tanpa santan. Kolak tanpa santan?

Beda lagi dengan Muhammad Rezky Iryansyah, Selain sering dipanggil dengan nama Eky, dia dia juga sering dipanggil ‘Lebba Lekke’ julukan untuk punggungnya yang lebar. Kalimat pembuka Ayus di grup langsung membawa ingatan Eky akan Ibunya yang telah meninggal 3 tahun lalu “Sayangnya di rumah sudah tidak ada yang bisa dipanggil ibu”, Katanya..

Pria yang memiliki codet di pipi kanannya ini melanjutkan bercerita kalau dia sudah kehilangan kampung sejak 3 tahun lalu sejak rumah di kampung disewa oleh Alfamart untuk 5 tahun ke depan. Sekeluarga mereka kini menetap di Makassar. Menurutnya pulang kampung harusnya berkumpul bersama keluarga, tapi apalah artinya  pulang ke kampung kelahiran di Rappang Kab. Sidrap jika tidak  ada orang tua di sana. Semenjak mendapatkan perintah penempatan kerja di Tarailu kecamatan Mamuju, pulang kampung bagi Eky berarti kembali ke pelukan Ibukota. Bagi saya dimanapun saya pergi, rumah dan keluarga adalah kampung bagi saya”. Pungkasnya.

Kemudian ada Iqrawan Bakti, orang paling simple yang pernah saya temui. Iqra, begitu kami memanggilnya. Simple dan tidak banyak bicara adalah ciri khasnya, jika diajak keluar bareng dia sering menjawab : sembarang ji saya, dengan ekpresi datar. Pun demikian ketika dia mulai tertarik berkomentar dengan topik pulang kampung yang sedang kami bahas. Dia hanya menyela dengan ucapan, “pulang kampung itu lisu rikampongnge, rinduka’ main bola depan rumahku di Sinjai”.  Setelah menuntaskan curahan hati tentang kerinduannya bermain bola di kampungnya, dia menghilang begitu saja, tak lagi berkomentar. Mencoba ikut-ikutan berpikir simple, saya hanya berpikir mungkin dia lagi lelah menahan rindu dengan istrinya yang terpaut jarak Makassar-Palu, padahal baru dua minggu lalu mereka duduk di pelaminan.

Satu-satunya “mahluk halus” di grup adalah Sukmawati Soekarno. Dia memiliki nama panggilan yang sama sekali tidak ada korelasi dengan nama aslinya: Cupu. Perempuan yang sudah bersuami ini serasa menjadi anak kecil kembali ketika berada di kampung. Maklum, dia bakalan ketemu dengan orang-orang yang ikut membesarkannya saat masih kecil. Di kampung dia suka bermanja-manja dengan minta dibelikan jajanan masa kecilnya.

“Setiap pulang kampung selaluka’ cari ‘Benno’you know Benno? Itu loh popcornnya orang bugis, yang di kampungku penjualnya masih eksis mulai dari SMP ka’ sampai sekarang tuami masih adaji nongkrong di pasar dekat rumah tiap hari minggu”. Katanya

Nah, berikutnya adalah sahabat yang selalu membuat saya geli kalau menceritakannya. Sadahi Wahid namanya, namun dia akrab dipanggil Shaden. Si lelaki penghibur, selalu mampu menghadirkan tawa dalam tindakan maupun bicaranya. “Saya  bingung mengkategorikan pulang kampung itu kek gimana? Dari kecil sampai SMA di Mamuju, ortu domisili di Mamuju Utara, tapi tiap mau lebaran balik ke Gowa.” Katanya.

Ketika ditanya kok bisa sampai dia menyelesaikan kuliah di Makassar? Dia hanya menjawab Ndak taumi, mungkin orang tua saya sudah lelah.” Kemudian komentar ngawur khas Shaden mulai keluar, komentar yang tidak bisa saya tuliskan di sini. Saya tertawa sampai mengeluarkan air mata.

Yang terakhir Akbar, sampai tulisan ini dibuat dia belum mengeluarkan komentar satupun. Terkadang memang membingungkan menghadapi sahabat yang satu ini. Mungkin bisa dibilang dia orangnya moody terkadang kurang peka terhadap situasi sekitar sampai-sampai kami sepakat memberikannya julukan “sahabat batu”.

Bagi saya pulang kampung selain melepas rindu dengan keluarga, juga berarti menikmati makanan yang hanya bisa saya dapatkan di Rappang kampungku. ada dua makanan yang tidak pernah saya lewatkan ketika di kampung, burasa dengan sambal pepaya dan putu beras ketan dengan sambal taiboka. mungkin di tulisan berikutnya saya akan menulis khusus tentang dua makanan itu.

Pulang kampung pada hakikatnya kembali ke tanah kelahiran, namun tiap orang mempunyai cara tersendiri memaknai pulang kampung. Berkumpul bersama keluarga dan menjadi diri sendiri di tengah keluarga adalah arti pulang kampung sebenarnya. Kalau menurut kamu?

Kehilangan rasa ‘Nyaman’

“Sekarang tidak masalah jenis kelaminnya, yang penting nyaman, ayok jalan” kelakar seorang teman menanggapi topik pembicaraan tentang disahkannya pernikahan sejenis di 50 negara bagian Amerika Serikat. Tulisan ini bukan untuk membahas tentang pernikahan sejenis, saya pun masih bingung bagaimana bersikap terhadap hal tersebut, karena selalu ada pembenaran di kedua sisi yang berlawanan.

Kenyamanan memang menjadi salah satu indikator penting dalam penentuan pilihan. Pasangan, pakaian, gaya hidup sampai tempat nongkrong pasti dipengaruhi oleh faktor kenyamanan. Abraham Maslow bahkan menjadikan kenyamanan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia setelah kebutuhan fisiologis dan biologis. Nyaman adalah perasaan yang tidak bisa dipaksakan namun sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Memilih tempat nongkrong misalnya, sebuah cafe ataupun tempat berkumpul akan ramai jika orang-orang yang berada di dalamnya merasa nyaman. Setahun belakangan ada satu tempat yang membuat saya dan banyak orang lainnya merasakan ‘kenyamanan’ yang tidak kami dapatkan di tempat lain : Kedai Pojok Adhiyaksa. Sebuah kedai sederhana yang berada di salah satu pojok kecamatan Panakkukang di Jl. Adhiyaksa yang lebih akrab kami sebut ‘Kepo’ singkatan dari kedai pojok.

Kepo sendiri adalah sebuah cafe yang sangat sederhana. Dengan memanfaatkan halaman kosong di samping hunian pribadi, sebuah atap berbentuk prisma dibangun untuk menaungi ruangan berukuran sekitar 7×15 meter dengan tegel putih tanpa motif sebagai lantai. Konsep Kepo sendiri adalah kedai semi terbuka yang tidak memiliki dinding di sisinya sebagaimana cafe pada umumnya. Desain interiornya pun jauh dari kata mewah, hanya ada puluhan kursi rotan yang mengelilingi belasan meja persegi yang tersebar dalam ruangan tersebut. Beda jauh jika ingin dibandingkan dengan banyaknya tempat nongkrong yang bermunculan di Makassar akhir-akhir ini yang memberikan sentuhan kreatif atau desain interior yang mewah untuk menarik pelanggan.

Kedai Pojok Adhiyaksa.

Kepo bisa dibilang adalah cafe multifungsi, selain menjadi tempat menikmati suguhan makanan dan minuman khas cafe seperti jus aneka buah, teh, kopi, nasi goreng sampai sanggara peppe’, tempat ini sering dijadikan tempat pertemuan, rapat, seminar kecil bahkan sampai perayaan ulang tahun organisasi/komunitas. Beberapa orang bahkan menganggapnya sebagai ‘kantor’.

Suasana dan kondisi-kondisi itu yang membuat saya dan banyak teman lainnya merasa nyaman menjadikan Kepo sebagai tempat nongkrong. Tidak salah kalau hampir setiap hari Kepo diisi oleh wajah-wajah yang sama. Kondisi ini memudahkan saya jika ingin mencari pergaulan, tinggal datang ke Kepo saya pasti akan ketemu minimal 2 orang yang saya kenal. Keramahan pemilik dan pelayan Kepo juga punya andil dalam hal kenyamanan yang kami rasakan. Berada di zona nyaman membuat kami susah Move On ketika Kepo tutup selama bulan puasa sampai setelah lebaran.

Kebingungan mencari tempat nongkrong sangat terlihat pada KPK (komunitas Penghuni Kepo) sebutan untuk orang-orang yang sering nongkrong di Kepo. Entah siapa yang memulai istilah itu, namun memang sangat berdasar sesuai dengan  yang saya jelaskan sebelumnya. Beberapa tempat sempat dijajaki untuk mencari ‘nyaman’ yang hilang itu, munafik jika kami mengatakan sudah menemukan tempat pengganti Kepo. Berpindah dari satu coffee shop ke coffee shop lainnya kami berusaha menyamankan diri namun tetap ada rasa yang mengganjal di hati seperti masih ada rindu yang tidak terselesaikan.

Dengan nada bercanda Iqbal teman saya yang selalu kelihatan ceria bahkan sempat berkomentar “Demo deh supaya Kepo buka lagi, kalau begini bingungki dimana mau kumpul-kumpul”. Beda lagi Januar, di hari ke 7 Kepo tutup dia sempat menuliskan status “Masih mencari tempat nongkrong penganti Kepo” –saya kutip lengkap dengan typo-nya. Saya juga tidak bisa membohongi perasaan kehilangan karena Kepo tutup, masih selalu terbayang nasi goreng pedas, tempe goreng plus sambal tumis khas Kepo.

Bulan puasa kali ini bukan hanya mengharuskan kami menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga tapi juga memaksa kami menahan nafsu nongkrong, lapar nasi goreng dan dahaga air es gratis Kepo. kehilangan selalu meninggalkan bekas tak berbentuk, saat ini kami kehilangan ‘Nyaman’.

Terlambat Gaul

Bulan mei 2014, sebanyak 75 komunitas di makassar berkumpul pada satu tempat merayakan acara bertajuk Pesta Komunitas Makassar. Saya yang waktu itu selaku panitia menyempatkan diri berkeliling ke semua  booth komunitas yang tersedia, bukan karena penasaran komunitas apa saja yang ada, namun saya ingin mengumpulkan pernak-pernik komunitas berupa gantungan kunci, pin ataupun stiker.

Pura-pura akrab menjadi senjata utama saya untuk mendapatkan merchandise komunitas secara cuma-cuma. Di beberapa komunitas berhasil, tapi ada juga komunitas yang kebal akan sikap pura-pura akrab itu padahal saya juga sudah tebar pesona sejadi-jadinya. Pada akhirnya, saya berhasil mengumpulkan belasan merchandise dari beberapa komunitas secara cuma-cuma, hanya beberapa yang saya beli karena komunitas tersebut akan menggunakan hasil penjualan untuk kegiatan sosial.

Merchandise Komunitas yang berhasil saya kumpulkan

Dari belasan merchandise berupa pin, gantungan kunci ataupun stiker yang berhasil saya kumpulkan, ada satu pin yang membuat saya sempat tertegun dengan kalimatnya. “ngebloglah, agar namamu terancam abadi”. Pin dari komunitas blogger Paccarita Anging Mammiri itu langsung membawa ingatan saya kepada blog yang pernah saya buat tapi tidak saya isi.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Nampaknya kalimat di pin Paccarita terinspirasi dari pepatah itu, siapa coba yang tidak mau hidup abadi? Tawaran yang sangat menggiurkan, meski saya tahu abadi yang dimaksud  bukanlah berarti hidup selamanya. Kalimat di pin itu seperti memberikan perintah kalau saya harus menulis di blog. Segera setelah pesta komunitas berakhir, blog yang sudah ada saya buka kembali tapi saya tetap tidak mampu menuliskan sesuatu.

Pin Blogger Anging Mammiri

Akhir Mei 2015, beberapa teman berinisiatif membentuk kelas menulis yang kami sepakati bernama “Kelas Menulis Kepo”. Barulah saat itu saya tertantang mulai menulis. Pertemuan kelas yang dibimbing oleh orang-orang yang sudah lama berkecimpung di dunia tulis menulis menjadi mata pelajaran dalam kelas ini. Satu bulan berlangsung saya berhasil menyelesaikan 3 buah tulisan, tentu dengan asistensi dan petunjuk dari sesepuh.

Ada kepuasaan tersendiri ketika tulisan kita dibaca orang lain. Saya merasakan itu ketika tulisan kedua yang berjudul “Puasa Hari Pertama bersama Ibu” berhasil saya posting di blog. Tak terkira senang yang saya rasakan ketika notifikasi dari aplikasi wordpress yang saya install di Iphone menyatakan bahwa lalu lintas pengunjung di blog sedang ramai. Bukan hanya peningkatan kunjungan yang mencapai 333 kunjungan, saya pun mendapatkan komentar sekaligus apresiasi dari tulisan saya tersebut. Bukan main girangnya saya, komentar tersebut langsung saya approve dan reply saat itu juga. Kemudian komentar-komentar lainnya bermunculan dari orang-orang yang merasa terwakili oleh tulisan tersebut. Sebagai Newbie dalam ngeblog mendapatkan 333 kunjungan dalam satu postingan seakan-akan tulisan saya dibaca oleh seluruh umat.


Statistik ini yang bikin senyum-senyum

Di saat yang bersamaan saya merasa menyesal. Saya menyesal telah melewatkan banyak sekali peristiwa maupun pengalaman yang saya alami namun tidak saya abadikan dalam bentuk tulisan. Kenapa tidak dari dulu saya menulis di blog? pertanyaan yang tiba-tiba terbersit,  saya bisa menuliskan kisah-kisah perantauan saya ke Makassar untuk menuntut ilmu misalnya, atau menulis tentang kisah percintaan saya pada saat jatuh cinta pun ketika patah hati. Menulis menyadarkan saya bahwa setiap langkah yang kita jejakkan bisa menjadi tulisan jika kita mau memulainya. Menulis juga membuat indra yang ada ditubuh seakan bekerja lebih peka, tinggal si pemilik indra yang meramunya dalam tulisan.

Mengutip kata seorang teman “Menyesalka terlambat kenalki semua”. Seandainya saja dari dulu saya kenal dengan teman-teman di kelas menulis dan pengajar yang sangat mahir, tentu blog saya sudah ada tulisan older post-nya.

Saya merasa terlambat gaul. Gaul tidak melulu punya teman yang banyak, nongkrong di tempat-tempat yang sedang happening, memakai pakaian yang sedang hits, punya perangkat elektronik terbaru ataupun eksis dan dikenal dimana-mana. Mampu menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan diapresiasi oleh pembaca buat saya adalah defenisi lain dari gaul.

Maka ‘Bergaullah’ agar namamu terancam abadi.

Pesta Komunitas dan Hari Senin Setelahnya

“Pesta komunitas makassar dan hari senin setelahnya adalah hari libur” 

Senin 26 mei 2014 seharusnya adalah hari biasa bagi saya, hari di mana rutinitas yang sudah hampir setahun saya jalani. Berurusan dengan berkas-berkas yang minta dirapikan, supervisi mahasiswa atau berdiri di depan kelas, tapi hari senin kala itu saya memilih meneruskan tidur meski jam dinding berlogo Club Barcelona sudah menunjukkan pukul 7.45 pagi.

Ini semua gara-gara pesta komunitas, pesta yang berhasil mempertemukan 75 komunitas yang ada di Makassar untuk berkumpul, berbagi, bersama selama 2 hari pada tanggal 24-25 mei 2014 di salah satu landmark Makassar yang ketika pertama kali saya lihat dengan spontan saya bilang “Monas” ; Monumen Mandala.

Kala itu saya mewakili gerakan berbagi nasi makassar sekaligus terlibat dalam kepanitiaan divisi konsumsi, saya yang tidak tahu menahu tentang apa itu pesta komunitas hadir dalam rapat di cafe baca yang dipenuhi banyak anak muda yang katanya berasal dari berbagai komunitas.

“Tujuan pesta komunitas ini adalah sebagai ajang berbagi informasi komunitas-komunitas yang ada di Makassar, ke depannya bisa terjalin kolaborasi antara satu komunitas dengan komunitas lainnya, mari kita tunjukkan kalau Makassar tidak hanya sebatas yang ada di layar kaca identik dengan kekerasan” begitu kira-kira kata Kak Rama selaku ketua panitia. Ketika itu saya ngangguk-ngangguk.

24-25 Mei 2014 pesta komunitas berlangsung dengan persiapan kurang lebih 3 bulan. Saya masih ingat atmosfir kala itu, 75 komunitas berada dalam satu atap tenda besar yang  berukuran 10×25 meter. Tiap komunitas mendapatkan space kira-kira 2×3 meter saja tanpa sekat dan lesehan, pas sekali dengan tagline pesta komunitas 2014 “Berkumpul, Berbagi, Bersama”. Bukan hanya itu, panggung komunitas juga tak kalah seru dengan pengisi acara oleh komunitas-komunitas yang terlibat, fashion show, akrobat, puisi sampai musik perkusi menghiasi malam kala itu. “Ah jadi ini barang” kata kak Anchu.


suasana Pesta Komunitas Makassar 2014 Monumen Mandala

“Pesta komunitas makassar dan hari senin setelahnya adalah hari libur”

Setahun berlalu, hari senin tanggal 8 Juli 2015 harusnya menjadi hari yang biasa bagi saya. Berkutat dengan tugas kantor, tugas kuliah, atau sekadar berdiri di depan kelas, tapi saya memilih meliburkan diri meski jam dinding berlogo club Barcelona sudah menunjukkan waktu kurang lima menit jam 8.

Ini semua gara-gara pesta komunitas, saya terpaksa memutar otak mencari sebab serta mencari alasan untuk bolos kerja. Saya berhasil tetap rebah di kamar di pagi hari yang mendung setelah menyakinkan Bos kalau saya tidak enak badan.

Masih dengan konsep yang sama, pesta komunitas kembali digelar di tahun 2015. Meski saya tidak terlibat terlalu jauh dalam kepanitiaan, namun perkembangan demi perkembangan tidak pernah lepas dari pengamatan saya. Mulai dari susahnya memilih orang yang mau “dijebak” menjadi ketua panitia, sampai pada akhirnya berhasil mengumpulkan ratusan orang dari ratusan komunitas yang ingin terlibat dalam pesta komunitas. Awalnya Kak Mansyur Rahim disepakati secara sepihak menjadi ketua panitia yang kemudian dengan sopan mengundurkan diri dengan alasan akan meminang kekasih (semoga cepat terwujud, amin)

Jika tahun sebelumnya 75 komunitas terlibat, tahun ini ada lebih banyak lagi komunitas yang ingin terlibat dalam gelaran ini, 130 komunitas! Angka yang fantastis jika membandingkan angka tahun lalu, hampir 2 kali lipat. Ada tugas berat menanti ketua panitia tahun ini, gelaran harus lebih pecah, lebih ramai, lebih rapi dari tahun lalu. Kak Ari selaku ketua panitia untungnya orang yang sabar dan itu modal yang baik.

Jika tiap komunitas mengirimkan utusan 2 orang saja dalam kepanitian maka ada 260 kepala yang harus dipersatukan untuk satu tujuan. Mungkin itu juga yang menjadi alasan pemilihan tagline pesta komunitas 2015 “Sinergi, harmoni, aksi”

6-7 Juli 2015 menjadi klimaks persiapan berbulan-bulan panitia PKM. Di lahan seluas 28.595 meter bujur sangkar di benteng Rotterdam berkumpullah 130 komunitas, tumpah ruah dalam pesta komunitas. Ekspektasi yang muncul juga terjawab dengan baik, pelaksanaan PKM 2015 mendulang sukses dengan pengunjung yang mencapai ribuan. Bekerja sama dengan pemerintah kota, pengisi acara yang keren dan pagelaran panggung komunitas yang unpredictible.

kemeriahan booth pkm 2015

2 hari pagelaran pesta komunitas merupakan 2 hari yang luar biasa, 130 komunitas bersinergi dalam harmoni dengan sebuah aksi, para pengunjung disuguhi 130 booth yang masing – masing menampilkan keunikan yang berbeda sesuai dengan komunitasnya. Booth yang paling ramai dikunjungi adalah booth komunitas pecinta binatang. Ada sekitar 5-6 komunitas pecinta binatang, mulai dari binatang eksotis, binatang melata, sampai binatang lucu semacam sugar glider. Pengunjung lainnya tersebar ke booth komunitas sesuai dengan ketertarikan mereka. 130 komunitas yang hadir terdiri dari komunitas-komunitas sosial, edukasi, traveling, hobby, dan onliner.

Selfie di depan booth komunitas

Malam panggung komunitas juga berhasil membuat ribuan mata terbelalak, membuat banyak orang berusaha mencari tempat yang nyaman untuk nonton, maklum tidak ada kursi yang disediakan oleh panitia untuk penonton, yah mau tidak mau harus lesehan atau berdiri bagi yang mampu.

Saya yang kala itu berada di sisi kiri panggung duduk bersama beberapa orang sambil mengabadikan gambar menggunakan HP, panggung komunitas kemudian diisi oleh tari-tari tradisional, puisi, fashion show, stand up comedy, band performance, musik perkusi, akrobatic, dan ditutup dengan chants khas dari suporter pendukung PSM Makassar, saya pun ikut terlarut, joget-joget dan bernyanyi tidak jelas adrenalin lagi menguasai tubuh saya, baju berkeringat baru saya sadari setelah menepi dari keramaian gara-gara ada yang menginjak kakiku saat joget-joget tadi.

kemeriahan panggung komunitas

Salut kepada panitia, kepada 130 komunitas, kepada semangat persatuan dan salut kepada pesta komunitas makassar

Tahun depan entah akan ada 200 komunitas, entah apa saya akan menjadi panitia, entah nantinya saya akan datang bersama istri saya, saya akan meminta cuti lebih awal di hari senin setelah pesta komunitas karena hari senin setelah pesta komunitas adalah hari libur.

“Semoga bosku tidak membaca blog ini”

Siapapun Presiden terpilih, dia *njing!

Sebelum anda menghakimi saya karena menyebut *njing siapapun presiden terpilih nantinya, sebaiknya selesaikan membaca tulisan ini, saya mencoba menulisnya sesederhana mungkin karena kemampuan menulis saya memang cuma sebatas itu.

Dear pendukung calon presiden dimana pun anda berada, saya yakin anda sudah menetapkan pilihan akan memilih siapa tanggal 9 Juli nantinya, saya juga yakin anda yakin dengan pilihan anda, saya pun demikian. Tidak perlu saya utarakan disini siapa calon presiden pilihan saya, karena bukan itu tujuan tulisan ini.

Tidak lama lagi kita akan menyaksikan pesta demokrasi yang saya anggap paling meriah semenjak munculnya demokrasi di negara kita, paling meriah karena sarat dengan perang kata-kata di media, entah itu media sosial, media cetak bahkan media visual.

Di media sosial, bermunculan akun-akun baru yang tujuan khususnya untuk menaikkan popularitas capres tertentu, perang kreatifitas pun tidak bisa dihindari, masing-masing punya cara yang unik untuk menarik perhatian pengguna media sosial saat ini, memang salah satu cara paling efektif untuk berkampanye, karena dengan sangat mudah bisa memberikan informasi kepada orang-orang di luar sana langsung ke sahabat terbaik manusia saat ini “GADGET”.

Saya sendiri mengetahui profil, track record, visi misi Capres melalui media sosial, sangat memudahkan.
Tapi kemudian kemudahan ini digunakan juga untuk menjatuhkan lawan, berbagai informasi negatif tentang capres pun bermunculan, mulai dari jangan memilih capres “ini” karena masa lalu dan latar belakang kehidupannya sampai apa yang akan terjadi jika capres “ini” terpilih. Perdebatan dalam sebuah demokrasi adalah hal yang sangat wajar, hanya saja perdebatan-perdebatan yang ada sekarang membuat saya menerjemahkan demokrasi bukan lagi tentang kebebasan berbicara, tapi kebebasan menghujat!

Kita telah menciptakan Calon Presiden Komunis, kita telah menciptakan presiden penculik, kita telah menciptakan presiden Fasis, kita telah menciptakan presiden bodoh.
Entah sadar atau tidak, salah satu orang yang kita sebut komunis, penculik, fasis, bodoh itu akan menjadi orang nomor satu di Negara kita, akan menjadi orang yang mengatur negara 5 tahun mendatang, akan menjadi PRESIDEN MU, PRESIDEN ANJING SEPERTI YANG SERING KITA BERIKAN PANGGILAN KEPADA DIA SEBELUM DIA TERPILIH. Dan kita akan menjadi pengikutnya, terus ketika pemimpinnya anjing, yang dipimpin apa dong?

Tidak masalah siapa pilihanmu, karena mau tidak mau kamu akan memilih presiden yang hina, presiden yang dihinakan oleh rakyatnya sendiri. Silahkan pilih capres pilihanmu

Tidak sabar rasanya menunggu 9 Juli cepat berlalu, amin!

Hai…!

Dengan kemampuan mengutak-atik blog yang standar, akhirnya bisa juga bikin blog ini, dibanding dengan yang lain, mungkin blog ini paling standar, standar banget! kontennya juga mungkin tidak akan se-seru blog di sebelah, hanya ingin menceritakan perjalanan/pengalaman, keresahan hati atau apapun yang bisa dibagi disini, karena setiap pribadi punya cerita yang unik, beda dan seru menurut versi mereka sendiri, beberapa diantaranya menyimpan rapi dalam kenangan mereka, beberapa lainnya mampu meraup rupiah dari itu, dan beberapa lainnya mencoba membagikan dalam sebuah tulisan, saya lebih ke ‘beberapa’ yang ketiga tadi.

lewat blog ini mencoba menuliskan pengalaman hidup (beberapa pengalaman teman juga), yah seperti itulah mungkin maksud dari blog ini, tidak ada istimewa, tulisan pertama ini saja bingung mau bilang apa.

salam.