Catatan Ringan

Apakah saya senang Nge-Blog?

Pernah di tahun di 2009 saya menonton sebuah film action berjudul Wanted, pada salah satu scene pemeran utama bernama Wesley Gibson mengetikkan namanya pada pencarian google, dan mendapatkan “NO RESULT”Scene itu bukanlah sebuah bagian penting dari film itu, tapi cukup membekas di kepala saya.

Segera setelah selesai menonton film itu, saya kepikiran mengikuti apa yang dilakukan Wesley. Pada halaman pencarian Google saya mengetik “Ardian Adhiwijaya”, dan untunglah saya tidak bernasib seperti Wesley. Nama saya muncul di halaman Google, karena terdaftar di Dinas Pendidikan sebagai peserta ujian nasional pada tahun 2006. Hmmm, Apakah nama saya hanya akan tercatat di google sebagai peserta ujian nasional? Jika saya tidak mengenal blog, mungkin jawabannya adalah IYA, tapi sekarang tidak lagi, Silahkan ketik “Ardian Adhiwijaya” di pencarian google dan kamu akan menemukan banyak hal. Cuss.

Mulai saat itu saya kepikiran membuat blog, blog pertama (Agustus 2009) hanya menghasilkan 5 (lima) tulisan, sudah termasuk tulisan Hello World. Blog yang jika saya baca sekarang, langsung kerasa makna dari penyesalan itu datang belakangan, saya seakan tidak percaya pernah membuat susunan kalimat seperti itu. Rasanya mau muntah jika membuka blog, ada banyak kata gue dan elo bertebaran dimana-mana. Mau sekali menutup blog itu tapi ohh god saya lupa passwordnya, jadilah sekarang saya punya jejak alay di masa lalu. Jejak yang bisa diintip sewaktu-waktu, sekalian intip gan disini.

Asal kata elo gue itu sebenarnya gara-gara sering baca tulisan Raditya Dika, saya yang bukan pembaca buku saat itu merasa terhibur ketika membaca buku Radit yang bergenre komedi, kemudian keterusan menjelajahi blognya. Gara-gara Radit pula saya ingin ngeblog setelah mengetahui buku pertama Radit adalah kumpulan tulisan dari blog. Meski begitu tetap saja saya tidak menulis di blog.

Tercatat setelah blog pertama, saya kemudian membuat dua blog selanjutnya pada tahun 2010. Dua blog yang nasibnya hampir sama, hanya berisi dua tulisan, tulisan yang disalin dari tulisan orang lain, setelah itu dianggurin, ditinggalkan, dicampakkan kemudian saya lupa jalan pulang (lupa password). Setelah dua blog naas itu, saya kemudian betul-betul tidak pernah lagi menyentuh blog, berganti lebih sering main Facebook dan Camfrog. Oops.

***

Perjalanan waktu kemudian membawa saya ke tahun 2014, saya sudah selesai kuliah bahkan sudah bekerja di almamater sendiri sebagai dosen pengajar. Di tahun ini juga saya mulai berkomunitas, berkenalan dengan banyak teman baru, bertemu dengan banyak orang dengan minat yang berbeda-beda. Dari keaktifan saya di komunitas Berbagi Nasi Makassar, membuat saya terlibat dalam kepanitiaan Pesta Komunitas Makassar 2014. Pesta yang mempertemukan puluhan komunitas dalam satu tempat, salah satunya Blogger Anging Mammiri.

Di tangan saya sebuah pin bundar berwarna hitam, dengan gambar karakter bulat mirip icon smile, berwarna kuning dengan senyum lebar lengkap dengan dua mata mungil namun tanpa hidung, mungkin dia keturunan Voldemort. Dia memakai Passapu, penutup kepala berwarna merah seperti yang digunakan oleh Sultan Hasanuddin pada banyak gambar. Pin tersebut saya dapat secara cuma-cuma setelah merengek sama penjaga lapak Blogger Anging Mammiri di acara pesta komunitas, saya girang kemudian tertegun.

Saya girang karena dapat pin gratis, tertegun karena tulisan yang ada pada pin itu. Sejenak saya terdiam, jantung berdegup lebih kencang dari biasanya, angin bertiup sepoi, mungkinkah ini cinta? NGEBLOGLAH, AGAR NAMAMU TERANCAM ABADI. Begitu tulisan yang ada pada pin. Sebuah ancaman yang cukup menohok, tapi tidak membuat takut. Abadi, sebuah tawaran yang menggiurkan, tawaran untuk hidup kekal, Tawaran untuk hidup selamanya.

Meski saya tahu abadi yang dimaksud bukanlah hidup selamanya, tawaran tersebut tetap menggiurkan. Tulisan yang kemudian membuat saya kembali melirik blog, blog yang kesekian kalinya saya buat. Akhirnya lahirlah ardianadw.wordpress.com, sayang saya tetap saja belum bisa menulis apa-apa saa itu.

Barulah di bulan Mei 2015, setelah pesta komunitas 2015 selesai. Beberapa pegiat komunitas berinisiatif membentuk kelas menulis, agar bisa menulis tentang komunitas masing-masing. Kelas kepo, nama kelas menulis yang kami sepakati bersama. Tergabung di kelas kepo seperti mendapatkan atmosfir baru, atmosfir yang sangat berbeda. Keinginan ngeblog bertahun-tahun lalu muncul kembali dari istirahat panjangnya. Melalui kelas ini saya kemudian belajar sedikit demi sedikit bagaimana membuat tulisan, dimentoring oleh beberapa blogger senior dan banyak teman sharing membuat menulis menjadi kegiatan menyenangkan.

Berawal dari situ hingga sekarang, saya sudah berani menyebut diri sebagai blogger.

Apakah saya senang nge-blog?

Tiap memperkenalkan diri di kelas baru yang saya ajar, bertambah satu lagi informasi di profil yaitu alamat blog. Saya bisa menghabiskan waktu sekitar 30 menit hanya menceritakan tentang blog, manfaat blog yang dapatkan, seolah-olah seperti sudah expert dalam nge-blog, saya hanya ingin mereka sadar lebih cepat, mumpung masih muda mulailah menulis agar tidak berakhir biasa-biasa saja. Tidak berakhir seperti Wesley Gibson. Terkadang ada yang punya potensi tapi tidak punya inspirasi dan saya ingin mengambil peran itu. Tsah.

Di beberapa kesempatan, saya sering mengajak teman-teman kantor atau teman-teman pergaulan untuk menulis. Saya akan menceritakan manfaat blog, bagaimana puasnya saya ketika menyelesaikan sebuah tulisan, senang ketika dibaca banyak orang, bahagia ketika ada yang meninggalkan komentar, kegirangan ketika ada yang membagikan tulisan saya. Kadang saya berpikir apakah saya narsis? Karena yang saya ceritakan adalah diri sendiri, meskipun sebenarnya tujuan saya hanya ingin memotivasi mereka. Mengambil contoh diri sendiri atau tulisan saya paling tidak saya mengambil contoh nyata, manfaat blog yang saya rasakan, bukan perumpamaan-perumpamaan untuk membuat mereka kagum. Jikapun saya narsis setidaknya saya jujur.

Oh iya, dalam Film Wanted yang saya tonton. Wesley Gibson akhirnya menemukan jati dirinya sebagai pembunuh, serangan panik yang sering ia alami mulai teratasi sejak belajar membunuh. Ternyata dengan mengetahui siapa dia sebenarnya, ia lebih tenang dalam hidupnya. Melakukan hal yang ia suka dan kuasai (meskipun itu sebagai pembunuh), membuatnya lebih hidup. Bukankah itu yang kita inginkan dalam hidup? Melakukan hal yang  kita kuasai dan membuat hidup lebih berwarna?

Nge-blog membuat hidup saya lebih berwarna, setidaknya dari kegiatan monoton di kantor. Blog secara tidak langsung memberikan banyak manfaat bagi saya, misalnya saja menambah jaringan pertemanan, sesuatu yang tidak bisa diganti dengan uang. Nge-blog juga menambah kepekaan diri, sesuatu yang dilakukan setiap hari tidak lagi hanya sebagai rutinitas belaka, melainkan menjadi sumber ide yang bisa dikonversi menjadi tulisan. Meski baru sekali, saya juga sudah dapat tambahan uang jajan dari blog, jumlahnya memang tidak banyak tapi paling tidak saya jadi tahu ada yang memperhatikan blog saya, dari situ saya merasakan satu dari sekian banyak manfaat blog.

Semua itu menambah kepercayaan diri di kehidupan sehari-hari, lebih yakin ketika bercerita tentang sesuatu hal apalagi hal yang pernah saya tulis. Kepercayaan diri adalah modal utama di pekerjaan saya sebagai dosen, tanpa itu tidak mungkin bisa menstransfer ilmu kepada mahasiswa dengan menyakinkan. Percaya diri membuat saya berani mengambil resiko ataupun peluang yang ada di depan saya, entah itu dalam pekerjaan atau di kehidupan sehari-hari.

Kemudian pertanyaan apakah saya senang nge-blog?

Yang jelas manfaat blog telah banyak saya rasakan dan saya masih ingin menemukan lebih banyak lagi.

*ini ada VLog tentang saya bercerita tentang blog dan manfaat blog. cekidot yah

Lika-Liku Hidup Mahasiswa Keperawatan

Hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka, semua insan pasti pernah merasakannya. Begitu kira-kira lirik lagu yang didendangkan Camellia Malik dengan judul liku-liku, sebuah lagu yang membawa pesan bahwa tiap orang merasakan pengalaman hidup yang berbeda. Bagaimana dengan perjalanan hidup mahasiswa keperawatan?

Meski begitu terkadang kita memiliki alur perjalanan hidup yang hampir sama ketika menjalani hal yang sama pula, alur yang sama ini biasanya dipengaruhi oleh sistem, aturan, kebijakan atau peraturan-peraturan yang mengikat.

Begitu pula dengan alur hidup yang akan dijalani mahasiswa keperawatan, meski pada proses dan hasilnya bisa berbeda namun ada jalur yang sama yang akan dilewati oleh mahasiswa keperawatan. Ada yang melewati jalur dengan mudah, ada pula yang melewati jalur dengan susah payah bahkan terseok-seok. Saya yang pernah melewati jalur itu harus bilang itu tidak mudah.

Kuliah Keperawatan

Kita mulai dengan bagaimana sih kuliah keperawatan itu? Pendidikan keperawatan itu terdiri dari pendidikan Diploma 3 (D3) Keperawatan, S1 Keperawatan, Profesi Ners, S2 Keperawatan, S2 Spesialis Keperawatan. Sebelumnya pernah ada Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) namun dihapuskan oleh Kementerian Kesehatan (KEMENKES) pada tahun 1999 dan semua SPK dikonversi ke Akademi Keperawatan (D3). Adapun sekarang ini banyak Sekolah menengah kejuruan Kesehatan (SMK Kesehatan) sebenarnya bukanlah tingkatan dari sekolah keperawatan, karena siswa yang lulus dari SMK Keperawatan tidak bisa disebut sebagai perawat.

Untuk melanjutkan kuliah sudah pasti harus lulus SMA dulu, ada dua piihan. Bisa kuliah Diploma atau kuliah sarjana. Dilemanya begini, kalau kuliah D3 Keperawatan setelah lulus langsung bisa kerja tapi mentok sebagai Judi Slot Online yang Gampang Menang perawat pelaksana, untuk naik jabatan harus lanjut kuliah S1, biasanya disebut jalur konversi (Bergelar D3 lanjut S1, kuliah 3 semester). Kalau langsung kuliah S1 itu membutuhkan waktu 4 tahun, kalau kuliah D3 dulu kemudian lanjut S1 itu butuh waktu 4,5 tahun. Yah kalau begitu kenapa tidak langsung kuliah S1 Keperawatan saja?

Sayangnya gelar S1 Keperawatan tidak bisa digunakan melamar pekerjaan, jika itu berhubungan dengan pasien (kasarnya tidak boleh menyentuh pasien). Paling mentok kerja di kefarmasian bagias sales representative, atau kerja sebagai staf bagian administrasi di rumah sakit. Membingungkan memang, D3 Keperawatan boleh menyentuh pasien, eh justru sarjana keperawatan (yang tingkatannya lebih tinggi) justru tidak boleh menyentuh pasien. Untuk bisa menggunakan gelar S1 bekerja harus dilengkapi dengan Gelar Ners.

Ners adalah gelar profesi bagi keperawatan (sama seperti gelar profesi dokter untuk kedokteran), ners bisa dilanjutkan jika telah menyelesaikan pendidikan sarjana keperawatan. Kuliah 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana ditambah 1 tahun Praktek (Kuliah di lahan praktek) untuk mendapatkan gelar Ners.

Kalau diawali dengan kuliah D3 berarti butuh waktu 5,5 tahun untuk mencapai gelar ners, tentu saja kalau kuliahnya tidak ada masalah atau langsung melanjutkan kuliah tanpa putus. Kalau lulus SMA langsung kuliah sarjana itu butuh waktu 5 tahun untuk mendapatkan gelar Ners.

Biaya Kuliah

Pendidikan sekarang ini memang bukan barang murah, terutama di keperawatan. Makassar pada khususnya, untuk kuliah keperawatan itu kisaran antara 2,5 sampai 3,5 juta per semesternya (SPP). Itu belum menghitung sumbangan pembangunan (SP), belum termasuk biaya praktek (beberapa institusi memisahkan biaya kuliah dan biaya praktek, SPP hanya diperuntukkan untuk perkuliahan di kampus). Belum lagi buku penunjang kuliah yang harganya ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Kalau kuliah sarjana selama 4 (empat) tahun itu berarti 8 (delapan) semester, kita seragamkan, misalkan SPP kita ambil Rp. 3.000.000, berarti dibutuhkan Rp. 24.000.000 sampai selesai. Sumbangan pembangunan diperkiran Rp. 4.000.000, biaya buku diperkirakan minimal Rp. 2.000.000 per 2 semester berarti Rp. 8.000.000. Biaya praktek rata-rata Rp. 500.000 per praktek, jika praktek 9 kali akan berjumlah Rp. 4.500.000. Total sebanyak Rp. 40.500.000

Itu baru tahap sarjana keperawatan, kalau mau lanjut Ners beda lagi biayanya. Profesi Ners hanya berlangsung 2 semester, namun biaya yang dibutuhkan besar karena pelaksanaannya di lahan praktek. Rata-rata (menurut beberapa institusi keperawatan di Makassar) harus merogoh kocek hingga Rp. 20.000.000. Biaya kuliah sarjana ditambahkan biaya kuliah ners mencapai Rp. 60.500.000.

Hitung-hitungan biaya di atas adalah perkiraan saya sendiri, dasarnya adalah pembiayaan di beberapa insituti yang ada di Makassar. Kemungkinan jumlahnya lebih besar, tapi saya yakin hanya kemungkinan kecil lebih sedikit. Itupun mengabaikan biaya yang lain seperti biaya hidup sehari-hari, pelatihan, sewa kost, transportasi dan lain-lain.

STR dan Uji Kompetensi

Lantas, setelah selesai kuliah D3 Keperawatan atau Ners sudah bisa langsung kerja? Oh belum tentu, terutama jika kamu belum memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Untuk mendapatkan STR, masih ada satu ujian yang harus dilewati meski sudah dinyatakan lulus oleh kampus, yaitu Uji kompetensi (UKOM). Sebagai bentuk penjagaan kualitas dan ingin menetapkan standar nasional kompetensi keperawatan, uji kompetensi dilaksanakan sejak 2013 (diatur dalam UU No.36/2014 tentang Tenaga Kesehatan dan UU No.38/2014 tentang Keperawatan).

Uji kompetensi Ners adalah salah satu perjalanan mahasiswa keperawatan

Sejak pertama kalinya dilakukan di tahun 2013 hingga pelaksanan yang ke 6 (enam), masih ada sekitar 10% yang tidak lulus UKOM meski telah mengikuti UKOM sebanyak 6 kali. Pelaksanaan UKOM 2 kali dalam setahun, 6 kali ujian berarti menghabiskan 3 tahun. Uji kompetensi ini seakan menjadi momok bagi mahasiswa keperawatan, bagaimana tidak? Sudah dinyatakan lulus dari kampus tapi belum diakui kompetensi kalau belum lulus UKOM.
Barulah jika lulus UKOM punya hak untuk diberikan STR, tapi jangan berpikir proses pembuatannya cepat. Menunggu terbitnya STR butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan (salah satunya teman saya yang menunggu terbit STR setelah 1 (satu) tahun menunggu.(diatur dalam Permenkes No. 148 tahun 2010).

Mencari Pekerjaan

Mari berangan-angan UKOM sudah lulus, STR sudah di tangan. Apakah sudah bisa kerja? Tunggu dulu, secara legalitas mengantongi ijasah dan STR itu memang sudah bisa kerja, namun jangan lupa bahwa bukan cuma kita yang mencari kerja, ada banyak orang dengan tujuan yang sama.
Tiap tahunnya terdapat ribuan lulusan keperawatan, yang akan mencari kerja juga. Artinya siap-siap bersaing dengan ribuan lulusan itu. Data dari Asosiasi Institusi Penyelenggara Ners Indonesia (AIPNI), terdaftar sebanyak 288 Institusi penyelenggara pendidikan keperawatan. Anggap saja tiap institusi meluluskan 100 mahasiswa tiap tahunnya, itu berarti 28.800 lulusan keperawatan akan mencari kerja di sektor yang sama. Menurut pengamatan saya tidak ada kampus (di Makassar) yang meluluskan mahasiswa keperawatan hanya di bawah 100, itupun 2 (dua) kali wisuda tiap tahun. Hitungan 100/tahun hanya mengambil angka minimal.

Sementara itu pilihan bekerja juga tidak banyak, mau jadi PNS kuota sangat terbatas untuk tenaga kesehatan. Bekerja di rumah sakit swasta pun hanya bisa menampung puluhan orang, ingin jadi dosen pendidikan minimal S2. Membuka klinik harus punya modal banyak dan perijinan sana sini, itupun masih sebatas klinik untuk perawatan luka.

Bekerja tidak sesuai bidang ilmu? Yah ini banyak dengan terpaksa bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmu, tuntutan ekonomi menyudutkan mereka harus menyimpang dari jalur keperawatan. Saya punya banyak teman yang bergelar Sarjana Keperawatan + Ners akhirnya bekerja di bank, bagi saya itu tidak salah karena semua orang punya kebutuhan yang harus dipenuhi.

Hebatnya adalah serumit itu dunia keperawatan, ternyata peminatnya tetap masih banyak. Saya ingat waktu ketika akan masuk kuliah keperawatan “Perawat itu selalu ada penerimaan PNS, selalu dibutuhkan, masa depan menjanjikan, karena orang sakit tidak akan pernah habis”. Kalimat yang akhirnya membuat keluarga meminta saya kuliah di keperawatan, supaya gampang cari kerja nantinya.

Sepertinya kalimat itu masih berulang ke beberapa orang yang akhirnya memilih jalur keperawatan. Bagi kalian yang yang berada pada jalur yang sama, SEMANGAT hidup kita sudah digariskan, sisa kita mencari di mana garis itu digoreskan.

5 Tips Hari Pertama Dinas di Rumah Sakit Untuk Mahasiswa Keperawatan

Selalu ada yang pertama untuk setiap hal, termasuk hari pertama pertama dinas. Bagi kalian yang berprofesi perawat ataupun mahasiswa perawat, tentu sering mengalami hal ini. Ada yang mengatakan kesan pertama itu harus mengesankan dan meninggalkan bekas yang baik,  karena akan menjadi penilaian pertama. Semakin baik kesan yang kamu tinggalkan, semakin lancar dinas akan berlangsung.

Ini ada lima hal yang bisa kamu lakukan supaya bisa meninggalkan kesan yang baik.

JANGAN TERLAMBAT

Apapun alasannya jangan sampai datang terlambat, apalagi di hari pertama. Terlambat akan meninggalkan kesan yang tidak baik untuk dirimu sendiri, kamu akan ditandai sebagai orang yang tidak disiplin. Kepala ruangan akan meminta perawat-perawat disana untuk mengawasi mu lebih ketat, karena secara tidak langsung kamu akan di cap sebagai tukang terlambat. Bisa diakali dengan tidur lebih awal atau minimal mengatur jam alarm di jam-jam tertentu agar bisa bangun lebih awal.

Kalau punya orang pacar, bisa minta pacar kamu bangunkan lebih awal. Itu jika pacar kamu juga bisa bangun pagi, kalau pacar kamu tidak bisa bangun pagi ganti saja dengan yang lain. Bagi yang tidak punya pacar, yah cari dulu. Bisa juga kan minta sama teman yang lebih rajin bangun di awal pagi.

BHSP

BHSP atau Bina Hubungan Saling Percaya,  biasanya digunakan untuk melakukan pengkajian kepada pasien, tapi tidak ada salahnya teknik ini kita pakai untuk mendapatkan kepercayaan perawat-perawat senior. Hubungan yang berlandaskan kepercayaan akan membangun koordinasi yang baik sesama perawat dengan mahasiswa, tapi jangan juga jadi penjilat karena justru bisa menjatuhkan kredibiltas kamu.

Kalau sudah mendapatkan kepercayaan, perawat juga tidak akan ragu untuk membimbing kamu saat  saat melakukan tindakan keperawatan. Jangan lupa BHSP sesama mahasiswa praktek yang kebetulan dinas di rumah sakit tersebut, kan lumayan kalau ada yang kasusnya sama, bisa diskusi, atau paling tidak minta contekan Laporan. (hayo ngaku, pasti sering melakukannya)

IKUTI ATURAN MAIN

Pekerjaan perawat beda dengan kerjaan lain pada umunya, di rumah sakit nantinya kamu bisa pegang prinsip, “mending tidak tahu, daripada sok tahu”. Jangan juga jadi mahasiswa yang pasif,  tapi jangan karena ingin mengesankan kakak perawat atau gebetan mahasiswa kampus lain kamu berani ambil tindakan yang kamu sendiri tidak kuasai.

Baguslah kalau berhasil, tapi bakalan malu sekali kalau salah. Apalagi kalau sampai pasiennya menderita karena tindakan kamu, jadi apa yang harus dilakukan? kalau ternyata kamu belum tahu tindakannya tapi ingin sekali melakukannya, minta bimbingan dari perawa di ruangan.
Oh iya, terkait aturan main masing-masing tingkatan ada kapasitas dalam mengambil tindakan, kalau masih observasi (biasanya di tingkat 1) jangan langsung berani ambil tindakan mandiri. Tapi kembali lagi KECUALI ditemani dan dibimbing oleh perawat senior. Sekali lagi pelaksanaan prekatek “MENDING TIDAK TAHU DARIPADA SOK TAHU”

Know The Rules

KENALI LINGKUNGAN KERJA 

Kenapa harus mengenali lingkungan kerja? Hal ini penting sekali, terutama bagi kalian mahasiswa perawatTiap rumah sakit memiliki banyak ruangan dan bangunan yang terpisah-pisah, kenali tempat-tempat yang ada di rumah sakit. Akan terkesan tidak cekatan jika kamu diminta mendatangi pasien di ruangan tertentu, ternyata kesasar ke ruangan lain. Terutama kertika diminta mengantar pasien ke ruangan lain, seperti ruang pemeriksaan rontgen, ruang operasi, laboratorium, sebenarnya bisa saja kalian bertanya kepada perawat yang ada, tapi akan lebih kelihatan cekatan, jika kalian sudah menghapalkan ruangan-ruangan yang ada di rumah sakit tersebut. Hal ini tidak akan susah dilakukan, anatomi tubuh manusia saja kan dihapal letak-letaknya. Jadi penting sekali mendengarkan (biasanya) kepala ruangan saat kalian orientasi ruangan.

BELAJAR DARI PENGALAMAN

Tips terakhir, supaya tidak mati kutu nantinya. Cobalah bertanya ke kakak senior kalian yang sudah ada pengalaman praktek, terutama senior yang praktek di rumah sakit yang kalian tempati nanti. Paling tidak senior kalian bisa memberikan gambaran bagaimana kondisi di rumah sakit itu, termasuk memberikan gambaran-gambaran bagaimana watak perawat-perawat disana.  Bisa juga minta tips juga bagaimana menghadapi mereka, coba deh cerita – cerita saja sama seniornya, okey!

Terlepas dari 5 tips di atas, kalian pasti ada cara-cara khusus untuk menghadapi hari pertama praktek. kalian juga lebih tahu mana yang cocok untuk diri kalian sendiri. Finally, selamat menjalani praktek klinik, jaga nama baik alamamater yah!

Lalat Takut Dengan Bayangan Sendiri?

Musim hujan seperti ini paling enak memang menyantap makanan berkuah, bakso adalah pilihan yang paling memungkinkan. Sehabis menunaikan ibadah shalat jumat, saya bersama beberapa teman kantor langsung menuju warung bakso yang tak jauh dari mesjid. Setelah memesan, perhatian saya langsung tertuju pada kantung plastik berwarna putih berisikan air yang tergelatak begitu saja di meja warung.

Awalnya saya mengira ini adalah es batu yang dibungkus kantung plastik, kemudian mencair karena kelamaan diabaikan. “Mas, apa ini?” tanyaku penasaran sambil mengangkat kantung plastik tadi, “untuk mengusir lalat, mas” jawab mas penjual bakso dengan singkat. “takutka lalat sama kantung plastik? Jangan-jangan lalat ini aktivitis lingkungan yang nda suka kantung plastik” balas saya bercanda diikuti tawa kecil teman-teman kantor.

“Bukan mas, lalat takut melihat bayangannya sendiri” jawab mas penjual bakso sembari menyiapkan pesanan kami.

LALAT TAKUT DENGAN BAYANGAN SENDIRI? Ini informasi baru bagi saya. Seorang teman kantor yang ikut makan bercerita bahwa di Pulau Jawa itu hampir semua warung pakai metode ini untuk mengusir lalat, ada yang digantung, ada juga yang diletakkan di meja, kantung plastik ini akan memantulkan bayangan lalat sementara lalat takut sama bayangan sendiri.

Jumat barokah. Baru saja dapat pencerahan agama sama pak ustadz, sekarang dapat pengetahuan baru tentang lalat. Tapi apakah itu benar, lalat takut sama bayangan sendiri? Kalau teman yang takut dengan masa lalunya sendiri sih saya pernah dengar.

Mari kita coba telaah bersama-sama.

Menurut Wikipedia, lalat termasuk ke dalam ordo Diptera atau serangga dengan dua sayap. Ordo diptera ini sering pula dinamakan dengan serangga terbang sejati (true flies). Lalat mampu terbang dengan frekuensi kepakan sayap mencapai minimal 200 kepakan per detik, dengan kemampuan terbang yang luar biasa. Lalat mampu terbang seketika langsung dengan kecepatan yang tinggi tanpa perlu melaju di landasan sebagaimana pesawat terbang, atau tanpa perlu dengan kecepatan bertahap sebagaimana helikopter. Lalat juga terkenal dengan kemampuan manuver terbangnya yang sangat luar biasa, mampu melakukan gerakan jungkir balik dan akrobatik tanpa cacat, dan mampu mendarat dengan sempurna di suatu permukaan benda.

Kehebatan terbang lalat ternyata didukung juga oleh fungsi penglihatannya yang luar biasa, lalat punya mata yang dikenal sebagai mata mejemuk. Mata majemuk merupakan mata yang memiliki ribuan reseptor warna individual (penerima warna), setiap reseptor ini memiliki lensa masing-masing. Bandingkan dengan manusia yang hanya memiliki satu lensa di tiap biji mata, oh iya sebagai tambahan lensa berfungsi untuk memfokuskan gambar. struktur mata mejemuk lalat ini memungkinkan lalat bisa melihat dengan sudut lebar (lebih dari 90 derajat). Lapang pandang mata manusia maksimal hanya sampai 90 derajat, itupun jika manusia melihat ke arah samping.

Aih, pantas saja susah memukul atau menangkap lalat yah.

Setangguh-tangguhnya Superman, tetap saja lemah jika berhadapan dengan batu Krypton, sehebat-hebatnya lalat, tetap saja lemah jika berhadapan dengan kantung plastik berisi air. Kehebatan mata lalat, ternyata sekaligus menjadi celah untuk kelemahan lalat.

Ketika kantung plastik berisi air digantung, air akan membiaskan cahaya. Pada dasarnya mata memang hanya menangkap cahaya, alasan kenapa kita tidak bisa melihat di tempat gelap. Cahaya yang datang akan dibelokkan saat cahaya tersebut melewati air, dengan demikian bayangan yang muncul juga akan bergeser dari letak objek sebenarnya. Pembiasan ini yang mendasari penggunaan kantung plastik air, pembiasan ini ternyata menggangu indera penglihatan lalat. Gambar yang ditangkap mata lalat tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, hingga membuat lalat bingung saat terbang. Penggunaan kantung plastik air ini adalah ilusi optik, yang diharapkan membuat bingung lalat sehingga terbang menjauh.

Berarti pernyataan lalat takut bayangan sendiri itu salah, kantung plastik bukan memantulkan bayangan lalat tapi justru memantulkan secara bias lingkungan yang ada di sekeliling. Si lalat bingung dengan ilusi ini dan terbang menjauh, mungkin kalau lalat tidak terbang menjauh akan muntah-muntah karena mabuk terbang yah. Padahal hampir saja muncul anggapan lalat takut bayangan sendiri karena malu dengan wajah sendiri.

Meski yang dikatakan mas penjual bakso tidak benar, saya tetap harus berterima kasih. Paling tidak saya jadi tahu kalau kantung plastik berisi air bisa mengusir lalat, sudah terbukti pula ketika saya makan bakso di warungnya tidak pernah sekalipun saya terusik oleh kehadiran lalat.

Tahu RJP, Kamu Bisa Menghidupkan yang ‘Mati’!

Ilmu pengetahuan sudah sangat maju, teknologi pun semakin canggih, namun tidak ada yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Namun, bagaimana jika kamu bisa memiliki kemampuan menghidupkan yang ‘mati’?

Apa yang kita lakukan ketika mendapati seseorang kecelakaan,  tergeletak di jalanan, tidak bergerak, tidak sadarkan diri? Kalau yang sering kita dapati, korban kecelakaan ditutupi kertas koran, dibiarkan tetap di tempatnya dan tidak ada berani menyentuhnya. Paling banter jikapun ada yang berani menyentuhnya hanya sebatas meminggirkan korban dari jalanan. Hal ini terjadi karena seringnya kita berpikir korban mati di tempat. Padahal bisa saja ada kemungkinan korban bisa tertolong, jika saja ada yang tahu dan berani melakukan pertolongan pertama.

Nah, bagaimana jika suatu saat kita benar berada pada kondisi seperti itu? Apa yang akan kita lakukan? Menutup korban dengan koran, hanya melihat saja atau yang banyak dilakukan sekarang mengambil gambar korban, kemudian mengunggah di aosial media disertai ucapan kasihan untuk korban? Saat ini pilihan-pilihan di atas menjadi wajar karena ketidaktahuan. Mari kita apa sih sebenarnya yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk kondisi seperti itu.

Pada saat bertemu dengan seseorang yang tidak sadar, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memeriksa apakah orang itu bernapas atau tidak? Tidak perlu alat  khusus kok untuk mengetahui hal ini, cukup dengan mengecek respon kesadaran. Caranya, Tepuk bahu korban sambil memanggil namanya jika kebetulan kenal dengan korban, bisa juga dengan cara meminta korban membuka mata. “Pak/Bu bangun, bangun, bangun, buka matanya pak/bu”.  apabila ada respon sekecil apapun atau korban bisa membuka mata maka bisa dipastikan korban tersebut masih bernapas.

Namun ketika korban tidak ada respon, tidak bisa langsung dikatakan tidak bernapas, bisa saja dia hanya pingsan. Orang yang pingsan masih bernapas loh, maka dari itu lakukan pemeriksaan lain untuk memastikan korban bernapas. Gunakan tangan anda untuk mengecek pernapasan. Cukup dengan mendekatkan punggung tangan anda di hidung dan mulut. Rasakan ada tidaknya napas yang keluar dari hidung dan mulut sambil memperhatikan pergerakan dada. Jika tidak ada napas dan pergerakan dada, berarti korban tidak bernapas atau lebih dikenal dengan henti napas. Sebelum mencari bantuan, tindakan yang paling pertama dilakukan ada memastikan korban bernapas atau tidak.

Anggaplah korban saat ini tidak bernapas, barulah kemudian mulai mencari bantuan. Telepon rumah sakit terdekat atau memanggil orang yang lebih tahu melakukan pertolongan. Tapi jangan tinggalkan korban! Mintalah orang lain untuk mencari bantuan, saat ini anda adalah penolong.

Baringkan korban dengan posisi terlentang, sebagai penolong berlututlah di samping korban. Korban sementara ini henti napas, tapi masih ada satu hal lagi yang perlu dipastikan. Apakah jantung korban berdetak? Periksa nadi korban dengan mengecek arteri karotis, arteri karotis berada di leher atau pada laki-laki berada di samping-bawah jakung. Lakukan kurang dari 10 detik, apabila tidak ada detak berarti jantung korban berhenti bekerja, kondisi ini disebut henti jantung.

Seseorang yang mengalami henti napas dan henti jantung, secara klinis sudah mati. Kondisi inilah yang disebut sebagai mati klinis, mati klinis adalah ketika seseorang tidak lagi bernapas (henti napas) dan jantung tidak lagi berdetak (henti jantung). Keadaan mati klinis bersifat sementara, masih ada kemungkinan untuk hidup kembali (reversibel). Inilah waktunya kita sebagai penolong memainkan peranan.

Letakkan kedua tangan (saling bertautan) anda di atas dada korban, tepat di tengah dada dan sejajar dengan ketiak. Posisi tangan lurus dengan badan penolong berada di atas tubuh korban. Pompa dada pasien dengan posisi seperti yang dijelaskan, tekan sedalam 5 cm dengan kecepatan 100 – 120 pompaan dalam satu menit. Tindakan ini disebut kompresi. Pompaan dilakukan untuk membantu sirkulasi (Circulation) pernapasan korban. Sampai di sini mungkin ada yang langsung terbayang film yang pernah ditonton, sebuah adegan mirip dengan penjelasan di atas.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pompaan yaitu kedalaman, kecepatan dan recoilRecoil adalah memberi kesempatan dada mengembang sempurna setelah dilakukan pompaan, setelah recoil lakukan pompaan selanjutnya. Pompa – recoil – pompa– recoil – pompa, dengan tetap mempertahankan kedalaman dan kecepatan pompaan.

Pompaan dilakukan 30 kali kemudian diikuti tiupan 2 kali, tiupan ini yang sering disebut napas buatan atau praktisi kesehatan menyebutnya ventilasi. Sebelum melakukan tiupan, kita harus memastikan jalan napas korban aman dan tidak ada sumbatan. Jalan napas itu dimulai dari mulut, tenggorokan dan leher. Untuk membebaskan jalan napas bisa dengan menekan dahi korban hingga kepala korban mendongak (Head Tilt), kemudian angkat dagu pasien dengan tangan yang satunya (Chin lift).

Ada satu kondisi korban yang sangat bahaya, pada kondisi ini korban tidak boleh dipindahkan sembarang, tidak boleh ditekan dahi atau diangkat dagunya. Praktisi kesehatan menyebutnya Fraktur Servikal, sederhananya patah tulang leher. Patah tulang leher ini biasa ditandai adanya lebam di tulang selangka.

Orang pada patah tulang leher diberi tindakan yang namanya Jaw Thrust, tindakan ini memastikan jalan napas korban tetap terbuka tapi dengan penanganan yang sangat hati-hati karena adanya patah tulang leher.  Untuk jelasnya lihat pada gambar atau video di bawah.

Jika tidak ada tanda-tanda patah leher, lakukan tekan dahi dan angkat dagu. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan membebaskan jalan napas (Airway) korban. Setelah memastikan jalan napas korban tidak ada masalah, kemudian dilakukan tiupan ke mulut korban dengan posisi tangan masih melakukan tekan dahi dan angkat dagu. Berikan tiupan sebanyak 2 (dua) kali dengan jarak satu detik, tangan yang menekan dahi juga difungsikan untuk menutup hidung dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Tiupan yang baik akan membuat dada korban mengambang, jika tidak mengembang posisi atau cara memberi tiupan ada kesalahan.

Sampai di sini mungkin sudah ada yang membayangkan melakukan pompaan dan tiupan, yah memang tindakan ini sering muncul di film, sinetron ataupun drama korea.

Perawat itu Pembantu!

Mulai dari memandikan, menyuapi, hingga membersihkan kotoran pasien. Belum lagi menerima perintah dari dokter. Perawat memang pantas disebut pembantu!

Ketika mengunjungi sebuah rumah sakit, dengan mudah kita akan menjumpai petugas kesehatan yang berpakaian putih-putih. Jumlahnya paling banyak dan kelihatan paling sibuk, sibuk di lorong-lorong rumah sakit sampai di dalam ruangan perawatan. Mondar-mandir ketika dokter datang dan harus sigap menerima perintah dari dokter. Sudah menjadi yang paling sibuk, amarah pasien maupun keluarga pasien juga harus diterima oleh mereka. Merekalah perawat.

Saya sendiri mengalaminya semasa praktek di rumah sakit, tidak jarang untuk pasien tertentu harus saya mandikan, suapi, bahkan membersihkan kotorannya. Terkadang harus mengerjakan pekerjaan dokter. Mau bagaimana lagi? Meski semasa kuliah tidak ada mata kuliah khusus memandikan dan membersihkan kotoran, hal tersebut tidak bisa dihindari jika berhubungan dengan kebutuhan pasien. Namun, apakah dengan begitu saya lantas bisa disebut sebagai pembantu? Atau secara umum kita bisa menyebut perawat itu pembantu?

Jika hanya menilai itu saja kemudian perawat disebut pembantu, maka kita hanya melihat satu sisi dari perawat. Hanya saja yang namanya pendapat publik itu tidak bisa dibendung dengan mudah, publik hanya akan menilai yang terlihat saja. Masyarakat terlanjur mengecap perawat sebagai pembantu atau yang paling sering terdengar perawat adalah pembantu dokter. Kenapa sih ada yang menyebut perawat sebagai pembantu dan pembantu dokter? Untuk menjawab itu pertama mari kita ketahui dulu perbedaan mendasar dari perawat dan dokter.

Cure and Care.

Perawat dan dokter sudah tentu berbeda. llmu, pekerjaan, tanggung jawab, maupun kewenangan adalah sedikit dari perbedaan antara dua profesi ini. Mari saya jelaskan secara singkat perbedaan mendasar perawat dan dokter menggunakan dua kata, Cure and Care. Cure adalah pekerjaan utama dokter, sedangakan care adalah pekerjaan utama perawat.

Jika diterjemahkan secara langsung maka cure berarti menyembuhkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  menyembuhkan/me·nyem·buh·kan/ v menjadikan sembuh; mengobati dan sebagainya supaya sembuh. Tidak salah jika ada yang sakit berharap mendapatkan kesembuhan setelah bertemu dengan dokter. Setelah melakukan pemeriksaan awal kepada pasien, dokter akan menentukan diagnosa medis kemudian memberikan obat ataupun tindakan yang bertujuan untuk mencapai kesembuhan pasien. Misal pasien datang dengan patah tulang, dokter akan memberikan obat anti nyeri serta melakukan pemasangan Gips ataupun menyambungkan tulang yang patah.

Care jika diterjemahkan secara langsung berarti peduli, hal ini juga bisa berarti merawat, mengurus, memelihara dan memperhatikan. Dalam KBBI merawat berarti /me·ra·wat/ v memelihara; menjaga; mengurus; membela (orang sakit). Kewenangan perawat bukanlah memberikan resep obat, tapi lebih kepada masalah apa yang didapatkan oleh pasien karena masalah utama yang dialami.

Misalnya pasien datang dengan patah tulang, diagnosa keperawatan akan lebih fokus mengatasi gangguan rasa nyaman : Nyeri, berhubungan dengan fraktur tadi. Diagnosa lain yang bisa muncul dengan masalah patah tulang adalah gangguan aktivitas berhubungan dengan adanya patah tulang. Untuk mengatasi nyeri, perawat akan mengajarkan tekhnik relaksasi napas dalam untuk mengurangi rasa nyeri saat datang, memberikan posisi yang nyaman untuk mengurangi nyeri. Perawat juga akan mendampingi pasien untuk bergerak secara aktif meski susah untuk bergerak agar menghindari kekakuan otot pada anggota tubuh yang sehat.


Pada intinya bisa disimpulkan bahwa perawat ingin mencegah terjadi masalah lain di luar masalah utama yang dialami pasien. Sejalan dengan pendapat Florence Nightingale (1895), seorang pelopor perawat modern yang mendefinisikan  Perawat adalah orang yang menjaga pasien, mempertahankan kondisi terbaiknya terhadap masalah kesehatan yang menimpanya.

Jelas bahwa perawat dan dokter masing-masing memilik kewenangan yang berbeda, masing-masing punya fokus yang berbeda. Kemudian ada yang mengatakan perawat adalah pembantu dokter mungkin karena melihat perawat ‘seakan-akan’ diperintah oleh dokter. Perawat dan dokter adalah mitra kerja yang memiliki tujuan yang sama, kesembuhan pasien. Mereka berkolaborasi dalam pelayanan kesehatan, dokter menentukan diagnosa medis yang kemudian menjadi acuan bagi perawat dalam menentukan diagnosa keperawatan. Prof. Dr. dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS dalam acara The 2nd International Nursing & Health Science Student & Health Care Proffessional Conference 2015 mengatakan bahwa “Perawat adalah teman sejawat, mitra kerja dokter yang tidak bisa dipisahkan dalam mencapai pelayanan yang optimal kepada pasien, asal tidak membawa ego profesi masing-masing kita adalah tim yang hebat”.

Kok ada yang beranggapan perawat itu pembantu ?

Dalam pelaksanaan tugas perawat seperti yang dijelaskan di atas, tidak jarang perawat harus memberikan bantuan maksimal kepada pasien berdasarkan derajat ketergantungan pasien.  Ketergantungan pasien dibagi atas tiga besar, yaitu ketergantungan minimal, ketergantungan partial, dan ketergantungan maksimal atau total. Pasien dengan ketergantungan maksimal adalah pasien yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, makan susah, bergerak susah, juga tidak bisa memenuhi kebutuhan eliminasi (buang air kecil dan besar).

Perawat yang mandapatkan pasien dengan ketergantungan maksimal tentu saja harus memberikan perawatan maksimal pula, pasien tidak bisa makan disuapi, pasien yang tidak bisa berjalan ke kamar mandi dimandikan di tempat tidur, pasien yang tidak bisa memenuhi kebutuhan eliminasi sehingga buang air kecil dan besar di kasur mau tidak mau dibersihkan juga oleh perawat. Semua hal itu dilakukan agar tidak terjadi masalah lain yang menyertai masalah utama pasien, disuapi agar bisa memenuhi kebutuhan makan pasien, dimandikan agar pasien merasa segar dan tidak kotor, dibersihkan kotorannya agar pasien tetap bersih dan tidak menderita penyakit lain karena kotorannya sendiri.

Saran untuk perawat

Mendengar atau membaca kalimat perawat itu pembantu tentu saja membuat perawat naik pitam, tapi mari berpikir dingin mungkin mereka tidak tahu saja betapa berjasanya perawat kepada pasien. Sambil menunggu masyarakat mengerti, mari tunjukkan kalau perawat itu kompeten. Jangan ragu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pasien tentang kondisinya. Salah seorang dosen saya di S2 Keperawatan Universitas Hasanuddin, Ns. Rini Rahmawati MN., PhD mengatakan “Perawat dipandang sebelah mata oleh pasien karena kesalahan perawat itu sendiri, ketika pasien bertanya tentang kondisinya perawat sering menjawab dengan mengatakan “tunggu dokternya yah”, hal ini tentu saja menurunkan kredibilitas perawat di mata pasien”.

Menuntut kesetaraan ataupun ingin disebut sebagai mitra kerja dokter tentu dibutuhkan kompetensi yang seimbang juga, sangat naif rasanya jika menuntut hal itu tapi kompetensi dan pengetahuan kita jauh di bawah.

Mari membungkam mulut orang/media yang memandang rendah profesi kita dengan prestasi, bukan hanya retorika belaka.

PERAWAT ITU BUKAN PEMBANTU PASIEN, TAPI MEMBANTU PASIEN!

PERAWAT ITU BUKAN PEMBANTU DOKTER, TAPI MITRA KERJA DOKTER!

Tentang Pot dan Nilai Budaya di Dalamnya

Beberapa malam lalu saya mengikuti sebuah kelas menulis dengan materi autoetnografi dalam praktek. Pada kesempatan itu dijelaskan bahwa autoetnografi adalah tekhnik menulis dengan menggali pengalaman ataupun interaksi diri sendiri untuk memahami budaya, jadi sebenarnya semua orang bisa menulis karena memiliki pengalaman dan budaya. Autoetnografi bisa dibilang bahwa sebuah tulisan yang menceritakan diri sendiri, interaksi, lingkungan ataupun konflik yang dialami. Hal  yang tentunya terjadi pada setiap orang. Semua orang memiliki budaya.

Penjelasan materi kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan “Lantas mahluk apa itu budaya?”. Budaya adalah pengetahuan, nilai, kepercayaan, tingkah laku, artifak yang semuanya berasal dari manusia. Sesuatu yang berasal BUKAN dari manusia tidak bisa disebut sebagai budaya, budaya bisa dipelajari dan dibagi oleh orang lain maka budaya itu adalah sebuah konteks sosial. Ciri budaya yang paling menonjol adalah sering diterima apa adanya atau sudah dari sononya, seperti banyak pamali yang sering kita lakukan tanpa mencari tahu kenapa pamali itu ada, misal kepercayaan orang bugis yang tidak membelohkan bepergian ketika perjamuan makan sedang berlangsung, karena dipercaya akan mendapat musibah. Orang bugis tidak pernah tahu, apa korelasi antara meninggalkan orang yang sedang makan dengan keselamatan saat bepergian. Kepercayaan itu diterima begitu saja karena sudah dilakukan turun temurun, itulah budaya.

Penjelasan selanjutnya tentang budaya bahwa budaya itu bisa berubah, bisa juga bukan berasal dari dalam atau asli, seringkali merupakan pengaruh dari faktor eksternal. Budaya bukan hanya tentang karya seni. Budaya yang sering kita pahami adalah sesuatu yang bersifat kedaerahan atau etnis, padahal budaya tidak melulu berasal dari etnis tertentu.

Penjelasan tentang budaya yang dikemas dalam materi autoetnografi ini sungguh membuka pikiran saya tentang budaya. Selama ini ada banyak budaya yang kita lakukan tanpa sadar itu adalah budaya, banyak perilaku menyimpang yang kita lakukan secara sadar, tanpa mengerti bahwa itu akan menjadi budaya.

Setelah mendapatkan materi tentang budaya, baru-baru ini saya tersadar akan satu budaya yang terjadi di sekitar saya. Berawal dari suatu pagi yang biasa saja, saya yang hari itu melakukan supervisi ke lahan praktek mahasiswa keperawatan menemukan sesuatu yang mengganggu pikiran. Mendengarkan keluh kesah mahasiswa tentang sikap dan perilaku pembimbing di lahan praktek membuat saya naik pitam. Bagaimana tidak, saya merasa mahasiswa saya diperas oleh oknum tertentu hanya untuk kepentingan pribadinya, sebuah kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan proses belajar yang sedang dijalani mahasiswa.

Mahasiswa yang saya maksud adalah mahasiswa Profesi Ners Situs Judi Slot Online yang Gampang Menang (perawat), selama pendidikan mereka akan ditempatkan di berbagai fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, panti sosial ataupun di tengah masyarakat. Tugas mereka adalah belajar secara ril, mempraktekkan teori/skill yang sudah mereka dapatkan selama duduk di bangku kuliah, langsung ke pasien yang sebenarnya. Untuk mengakomodasi itu maka akan dilakukan kerja sama dengan pihak  penyedia fasilitas kesehatan. Selain dibimbing oleh dosen institusi yang kemudian disebut pembimbing institusi, mahasiswa juga dibimbing oleh staf/perawat yang ada di lahan praktek yang kemudian disebut pembimbing lahan. Mahasiswa akan dievalusi oleh pembimbing institusi dan pembimbing lahan, sederhananya mahasiswa mendapatkan nilai dari kedua pembimbing tersebut.

Sebelumnya seorang mahasiswi yang sedang menjalani pendidikan profesi ners pada suatu kesempatan menemui saya, mengeluhkan nilai praktek dari pembimbing lahan belum juga keluar. “Kenapa bisa?” balas saya agak bercanda, kemudian mahasiswi bersangkutan bercerita ia bersama teman-temannya diminta membeli pot bunga besar sebagai kenang-kenangan, sebelum nilai dikeluarkan. Dahi saya mengkerut, bukan karena panasnya cuacanya di Makassar akhir-akhir ini, saya kaget sekaligus heran hal seperti ternyata terjadi di bawah pengawasan saya. Teringat beberapa bulan lalu cerita yang hampir sama sampai di pendengaran saya, mahasiswa di tempat yang berbeda diminta patungan membeli lemari es untuk disimpan di ruang perawatan tempat mereka melakukan praktek, sebelum mereka mendapatkan nilai.

Mencoba mencari kebenaran kabar yang saya dengar, saya menemui beberapa mahasiswa yang sekolompok mahasiswi yang melapor tadi. Entah kompak atau memang terjadi, cerita yang sama saya dapatkan dari beberapa orang mahasiswa. Namun, alangkah salahnya saya jika membenarkan kabar ini jika tidak mendengarkan dari sisi lainnya. Saya pun mencoba menelpon pembimbing lahan yang dimaksud, tentu dengan tidak langsung menanyakan perihal ‘pot bunga’ yang diminta. Mencoba menggali informasi dengan tetap menjaga perasaan, saya hanya menanyakan kenapa nilai mahasiswa belum dikeluarkan padahal mahasiswa sudah selesai praktek satu minggu lalu. “Masih ada yang perlu saya bicarakan dengan mereka pak” kata pembimbing lahan di seberang telepon, meski memang kalimat tersebut mengandung banyak makna, saya  menyimpulkan bahwa cerita mahasiswa benar adanya.

Cerita yang berawal dari pot bunga pun berkembang, seorang mahasiswi yang tidak hadir praktek selama 2 hari karena sakit, diminta membeli jam tangan untuk menggantikan ketidakhadiran itu. Tidak tanggung-tanggung jam tangan yang diminta adalah jam tangan bermerk, Alexander Christie. Melalui telepon mahasiswi bersangkutan membenarkan kabar tersebut, pembimbing lahan meminta jam tangan yang dimaksud dengan alasan anaknya tidak lama lagi akan berulang tahun, dan ia berniat menghadiahkannya sebuah jam tangan. Dengan tegas saya melarangnya untuk memenuhi permintaan itu.

Sepulang di rumah saya menuliskan sebuah status di Facebook tentang kejadian yang baru saya dengar. Benar dugaan saya, masalah seperti ini bukan pertama kali terjadi. Beberapa teman facebook menceritakan pengalaman mereka, bisa dibaca disini.

Saya tidak menampik bahwa mahasiswa juga punya andil dalam hal ini, beberapa mahasiswa malah menyukai cara seperti ini. Menawarkan barang atau sejumlah uang untuk melicinkan proses pendidikan yang dialami. Bisa saja awal dari praktik seperti ini karena memang mahasiswa sendiri yang menciptakannya. Namun siapa yang tahu dari mana asal muasal kejadian seperti ini hingga menjadi budaya. Tapi seharusnya pembimbing lahan sebagai pendidik punya kedewasaan dalam menyikapi hal seperti ini, bukan malah menyambutnya dengan tangan terbuka.

Mahasiswa tidak seharusnya mencari jalan pintas dalam menjalani pendidikan, ikuti proses yang ada pasti tidak akan ada masalah. Kalaupun karena satu dan lain hal terlibat dalam masalah, seharusnya berkonsultasi dengan institusi pendidikan, toh sudah ada alur pemecahan yang sudah disiapkan. Paling tidak institusi pendidikan akan mencari jalan keluar, jika memang masalah yang dialami belum termuat dalam sebuah aturan. Saya yakin tidak ada institusi pendidikan yang ingin melihat mahasiswa mereka gagal, karena kegagalan mahasiswa adalah cerminan gagalnya pembinaan yang dilakukan institusi pendidikan.

Pembimbing institusi ataupun pembimbing lahan tidak seharusnya menerima apalagi meminta, dengan begitu budaya ini tidak akan tercipta. Tidak ada yang salah dengan meminta, tapi apakah harus dengan tindakan intimidatif? Menahan nilai misalnya. Nilai yang merupakan titik lemah dari mahasiswa, nilai berupa angka yang akan menentukan masa depan mereka. Titik lemah ini yang mengundang mahasiswa dan pembimbing untuk ‘bermain’.

Awalnya saya berpikir mungkin ini adalah imbas dari keluhan perawat tentang gaji kecil yang mereka dapatkan, tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Selama ini perawat memang masih merasa hasil jerih payah mereka belum terbayarkan sebagaimana mestinya, pendidikan yang mereka jalani sama dengan pendidikan yang dijalani dokter, tapi gajinya jauh dari yang didapatkan dokter. Pikiran tersebut terbantahkan oleh ‘ini perbuatan oknum’, tidak bisa digeneralisasi kepada semua perawat atau pembimbing lahan. Dengan gaji yang sama, masih banyak pembimbing lahan yang melakukan fungsi mendidik dengan baik tanpa mengharapkan barang dari mahasiswa. Ini bukan tentang materi tapi tentang Moral.

Hal seperti ini bukan hal baru, sadar atau tidak dari dulu sudah sering dilakukan. Orang tua membawakan telur kepada kepala sekolah dengan maksud akan menyekolahkan anaknya di sekolah dasar yang dipimpimnya. Tawaran bantuan dana untuk operasional sekolah agar seorang siswa bisa mewakili sekolah dalam acara nasional, jambore pramuka misalnya. Pemilihan jurusan di SMA dicemari oknum guru dengan memberikan tarif tertentu pada jurusan favorit. Ratusan juta untuk masuk kuliah di sebuah institusi pendidikan yang katanya ada ikatan dinas dengan pemerintah. Contoh-contoh hal yang terjadi di sekitar kita, menguatkan bahwa ini budaya yang sudah lama ada. Hanya bentuk dan pelakunya yang berbeda.

Lantas bagaimana sikap kita yang tidak terlibat di dalam lingkaran budaya itu? Hal yang paling gampang kita lakukan adalah jangan diam, jangan acuh, bertindak!. Jangan karena tidak berimbas langsung kepada kita yang tidak terlibat, kita memilih memdiamkannya. “Toh yang rugi bukan kita”, “biarlah nanti dibalas di akhirat”, “nanti akan dapat ganjarannya kok” adalah buah pemikiran yang salah. Secara tak langsung budaya seperti yang saya ceritakan di atas bertahan karena kita yang tidak terlibat membiarkannya terjadi di depan mata.

“Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik.”

Pilihan Antara Harapan dan Keinginan

Anak mana yang tidak ingin membahagiakan orang tuanya, membuat mereka bangga dengan prestasi, jabatan, karir tentu pernah terlintas di kepala semua anak. Salah satu cara membahagiakan orang tua adalah dengan memenuhi harapan mereka, entah itu harapan tentang prestasi, karir, maupun jodoh. Namun seringkali harapan orang tua tidak sejalan dengan pemikiran anak, seringkali harapan dari orang tua merupakan perwujudan harapan masa lalu mereka yang tidak terwujud atau merupakan perwujudan harapan dari tekanan-tekanan sosial. Hal ini terjadi kepada saya ketika akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah.

Sebagai anak pertama (sekaligus cucu pertama) harapan besar seperti membebani pundak saya, tentu saja orang tua, kakek-nenek atau sebut saja keluarga besar ingin melihat anak-cucu-ponakannya lebih baik dari mereka ; di keluarga bapak hanya satu tante saya yang menyandang gelar sarjana, di keluarga Ibu tak ada satupun yang menyandang gelar sarjana. Sebagian besar keluarga dari bapak dan ibu adalah petani, beberapa diantaranya berjualan barang kebutuhan sehari-hari di pasar sentral, itupun hanya menempati kios-kios kecil seperti ratusan kios lainnya. Salah satu jalan untuk menjawab harapan itu dengan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Pertengahan tahun 2006, pendidikan SMA saya selesaikan dengan cukup memuaskan. Nilai Ujian Akhir Nasional yang saya dapatkan berada di atas rata-rata. “patterrui sikola mu nak” kata-kata pengharapan yang diucapkan bapak agar saya melanjutkan sekolah, girang bukan main saya pada saat itu yang dari awal memang ingin sekali melanjutkan kuliah, Apalagi ada gengsi yang memenuhi kepala saya melihat teman sekolah akan melanjutkan kuliah juga. Belum lagi gengsi orang tua melihat anaknya sukses agar bisa mengangkat derajat keluarga di mata masyarakat

Persoalan gengsi dalam menyekolahkan anak bukan hal yang baru di kampung saya, beberapa orang tua rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit demi melihat anaknya kuliah di tempat yang konon katanya sudah jelas masa depannya. Meski harus melalui jalur khusus yang bisa dibilang curang. Salah satu sekolah yang diagungkan-agungkan adalah STAN (Sekolah Tinggi Administrasi Negara), sebuah institusi pendidikan tinggi di bawah binaan kementeriaan keuangan. Lulusan  sekolah ini sudah pasti mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, kalau sudah bekerja ‘biaya’ yang dikeluarkan pun akan kembali dengan mudah. Setidaknya seperti itu persepsi yang berkembang sehingga menjadiakan STAN seperti pintu harapan menuju hidup yang lebih baik.

Entah mana yang punya pengaruh paling besar membentuk keinginan saya untuk kuliah, membagiakan orang tua? harapan keluarga? Gengsi? Atau memang saya ingin menuntut ilmu lebih jauh?, yang jelas faktor-faktor itulah yang bercampur menjadi satu kemudian muncul dalam bentuk keinginan yang menguasai raga dan pikiran saya. Saya harus lanjut kuliah.

Konflik kemudian muncul ketika akan memutuskan jurusan mana yang akan saya pilih. Saat itu saya sangat tertarik dengan jurusan ilmu komunikasi dan Jurusan hubungan internasional, agak kontradiktif dengan jurusan IPA yang saya jalani di SMA mengingat dua jurusan yang saya minati termasuk dalam golongan kelompok IPS. Orang tua khususnya Ibu, dari awal ingin saya mengambil jurusan kesehatan, karena mengingat biaya kuliah kedokteran hanya akan menambah beban ekonomi keluarga, maka pilihan jurusan keperawatanlah yang sangat mungkin.

Entah berapa kali saya harus berdebat dengan Ibu tentang pemilihan jurusan, masing-masing mengeluarkan argumen dan alasan untuk jurusan yang dipilih. Beberapa tetangga yang sudah bekerja sebagai perawat, peluang kerja yang terbuka lebar dan kebutuhan tenaga perawat yang tidak pernah habis menjadi alasan alasan pamungkas Ibu. Saya yang hanya bermodalkan minat dan keinginan dalam menentukan jurusan bingung bagaimana harus menyakinkan mereka.

Mencoba win-win solution, saya menawarkan kesepakatan dengan Ibu. Saya akan mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dengan jurusan yang saya minati tapi apabila tidak lulus seleksi maka saya akan menerima pilihan Ibu tanpa perlawanan. Ibu setuju dengan kesepakatan yang saya tawarkan. Waktu demi waktu berlalu, ujian SPMB selama 2 hari saya ikuti setelah mengikuti bimbingan belajar selama satu bulan. Hasilnya? Saya dinyatakan tidak lulus dari pilihan jurusan yang saya minati.

Mungkin memang doa Ibu lebih didengarkan oleh Tuhan dibanding saya yang shalatnya pun masih bolong-bolong. Mungkin memang doa Ibu adalah yang terbaik untuk anaknya. Empat tahun lamanya mengecap pendidikan di sekolah keperawatan ditambah satu tahun profesi saya jalani dengan suka cita. Bahkan pekerjaan sekarang berasal dari jurusan yang dipilihkan Ibu. Sejak akhir tahun 2010 saya terdaftar sebagai Dosen Tetap di STIKES Nani Hasanuddin Makassar bahkan dipercaya sebagai Ketua Program Studi Profesi Ners, yang setahun belakangan saya emban.

Terkadang pemilihan keputusan yang akan kita ambil, tidak harus benar-benar berasal dari keinginan sendiri. Pertimbangan keluarga, lingkungan sosial dan kemampuan diri bisa dimasukkan poin dalam membuat keputusan.