Badminton

Deg-Degan Saat Nonton Thomas Cup? Begini Efeknya bagi Kesehatan Jantung

Deg-Degan Saat Nonton Thomas Cup? Begini Efeknya bagi Kesehatan Jantung

Final Piala Thomas 2022 antara Indonesia Vs India membuat penonton deg-degan. Kalau deg-degan melulu, ada efeknya nggak sih buat jantung?
Deg-degan saat menonton pertandingan badminton sebenarnya adalah hal yang wajar, karena seseorang akan merasakan tegang atau terlalu serius. Kondisi ini memicu peningkatan detak jantung yang diperantarai hormon adrenalin dan hormon stres lainnya.

Dikutip dari Medical Daily, Vicki Greenberg, Program Manager Praktik Keperawatan di University of Phoenix, mengatakan bahwa ketika para fans berat olahraga menonton pertandingan menegangkan, mereka juga akan mengalami risiko serangan jantung yang lebih tinggi.

Baca juga: Paracetamol Diduga Sebabkan Hepatitis Misterius, Benarkah Demikian?

Menurut Greenberg, ada peningkatan antara 300 hingga 400 persen aliran darah dari jantung saat para fans menonton pertandingan yang penting dan menegangkan. Karena jantung memompa darah lebih cepat dan lebih kuat, hal itu dapat membuat orang dengan tekanan darah tinggi untuk mengalami kerusakan pada bagian dalam pembuluh darah mereka.

Kerusakan ini dapat menyebabkan peradangan dan meningkatkan risiko penutupan serta penyempitan aliran darah yang kemudian mengurangi aliran darah ke jantung.

Akibat kerusakan pembuluh darah, limpa juga akan mulai memompa lebih banyak sel darah merah serta sel darah putih yang membuat darah jadi lebih kental dan bisa meningkatkan risiko serangan jantung atau penyakit jantung.

Namun demikian, Kloner menekankan bahwa menonton olahraga tidak serta merta membuat hal ini terjadi. Ia menyarankan untuk berhati-hati ketika muncul simptom penyakit jantung, seperti rasa sakit di dada, nafas pendek, merasa pusing, dan juga jantung berdebar-debar.

“Sebaiknya jika fans mengetahui bahwa mereka sering merasa emosional dan sangat bergairah ketika menonton pertandingan, terutama jika mereka diketahui memiliki penyakit jantung atau faktor risiko untuk penyakit tersebut, mereka sebaiknya mendiskusikannya dengan dokter,” saran dia.