Tahu RJP, Kamu Bisa Menghidupkan yang ‘Mati’!

Ilmu pengetahuan sudah sangat maju, teknologi pun semakin canggih, namun tidak ada yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Namun, bagaimana jika kamu bisa memiliki kemampuan menghidupkan yang ‘mati’?

Apa yang kita lakukan ketika mendapati seseorang kecelakaan,  tergeletak di jalanan, tidak bergerak, tidak sadarkan diri? Kalau yang sering kita dapati, korban kecelakaan ditutupi kertas koran, dibiarkan tetap di tempatnya dan tidak ada berani menyentuhnya. Paling banter jikapun ada yang berani menyentuhnya hanya sebatas meminggirkan korban dari jalanan. Hal ini terjadi karena seringnya kita berpikir korban mati di tempat. Padahal bisa saja ada kemungkinan korban bisa tertolong, jika saja ada yang tahu dan berani melakukan pertolongan pertama.

Nah, bagaimana jika suatu saat kita benar berada pada kondisi seperti itu? Apa yang akan kita lakukan? Menutup korban dengan koran, hanya melihat saja atau yang banyak dilakukan sekarang mengambil gambar korban, kemudian mengunggah di aosial media disertai ucapan kasihan untuk korban? Saat ini pilihan-pilihan di atas menjadi wajar karena ketidaktahuan. Mari kita apa sih sebenarnya yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk kondisi seperti itu.

Pada saat bertemu dengan seseorang yang tidak sadar, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memeriksa apakah orang itu bernapas atau tidak? Tidak perlu alat  khusus kok untuk mengetahui hal ini, cukup dengan mengecek respon kesadaran. Caranya, Tepuk bahu korban sambil memanggil namanya jika kebetulan kenal dengan korban, bisa juga dengan cara meminta korban membuka mata. “Pak/Bu bangun, bangun, bangun, buka matanya pak/bu”.  apabila ada respon sekecil apapun atau korban bisa membuka mata maka bisa dipastikan korban tersebut masih bernapas.

Namun ketika korban tidak ada respon, tidak bisa langsung dikatakan tidak bernapas, bisa saja dia hanya pingsan. Orang yang pingsan masih bernapas loh, maka dari itu lakukan pemeriksaan lain untuk memastikan korban bernapas. Gunakan tangan anda untuk mengecek pernapasan. Cukup dengan mendekatkan punggung tangan anda di hidung dan mulut. Rasakan ada tidaknya napas yang keluar dari hidung dan mulut sambil memperhatikan pergerakan dada. Jika tidak ada napas dan pergerakan dada, berarti korban tidak bernapas atau lebih dikenal dengan henti napas. Sebelum mencari bantuan, tindakan yang paling pertama dilakukan ada memastikan korban bernapas atau tidak.

Anggaplah korban saat ini tidak bernapas, barulah kemudian mulai mencari bantuan. Telepon rumah sakit terdekat atau memanggil orang yang lebih tahu melakukan pertolongan. Tapi jangan tinggalkan korban! Mintalah orang lain untuk mencari bantuan, saat ini anda adalah penolong.

Baringkan korban dengan posisi terlentang, sebagai penolong berlututlah di samping korban. Korban sementara ini henti napas, tapi masih ada satu hal lagi yang perlu dipastikan. Apakah jantung korban berdetak? Periksa nadi korban dengan mengecek arteri karotis, arteri karotis berada di leher atau pada laki-laki berada di samping-bawah jakung. Lakukan kurang dari 10 detik, apabila tidak ada detak berarti jantung korban berhenti bekerja, kondisi ini disebut henti jantung.

Seseorang yang mengalami henti napas dan henti jantung, secara klinis sudah mati. Kondisi inilah yang disebut sebagai mati klinis, mati klinis adalah ketika seseorang tidak lagi bernapas (henti napas) dan jantung tidak lagi berdetak (henti jantung). Keadaan mati klinis bersifat sementara, masih ada kemungkinan untuk hidup kembali (reversibel). Inilah waktunya kita sebagai penolong memainkan peranan.

Letakkan kedua tangan (saling bertautan) anda di atas dada korban, tepat di tengah dada dan sejajar dengan ketiak. Posisi tangan lurus dengan badan penolong berada di atas tubuh korban. Pompa dada pasien dengan posisi seperti yang dijelaskan, tekan sedalam 5 cm dengan kecepatan 100 – 120 pompaan dalam satu menit. Tindakan ini disebut kompresi. Pompaan dilakukan untuk membantu sirkulasi (Circulation) pernapasan korban. Sampai di sini mungkin ada yang langsung terbayang film yang pernah ditonton, sebuah adegan mirip dengan penjelasan di atas.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pompaan yaitu kedalaman, kecepatan dan recoilRecoil adalah memberi kesempatan dada mengembang sempurna setelah dilakukan pompaan, setelah recoil lakukan pompaan selanjutnya. Pompa – recoil – pompa– recoil – pompa, dengan tetap mempertahankan kedalaman dan kecepatan pompaan.

Pompaan dilakukan 30 kali kemudian diikuti tiupan 2 kali, tiupan ini yang sering disebut napas buatan atau praktisi kesehatan menyebutnya ventilasi. Sebelum melakukan tiupan, kita harus memastikan jalan napas korban aman dan tidak ada sumbatan. Jalan napas itu dimulai dari mulut, tenggorokan dan leher. Untuk membebaskan jalan napas bisa dengan menekan dahi korban hingga kepala korban mendongak (Head Tilt), kemudian angkat dagu pasien dengan tangan yang satunya (Chin lift).

Ada satu kondisi korban yang sangat bahaya, pada kondisi ini korban tidak boleh dipindahkan sembarang, tidak boleh ditekan dahi atau diangkat dagunya. Praktisi kesehatan menyebutnya Fraktur Servikal, sederhananya patah tulang leher. Patah tulang leher ini biasa ditandai adanya lebam di tulang selangka.

Orang pada patah tulang leher diberi tindakan yang namanya Jaw Thrust, tindakan ini memastikan jalan napas korban tetap terbuka tapi dengan penanganan yang sangat hati-hati karena adanya patah tulang leher.  Untuk jelasnya lihat pada gambar atau video di bawah.

Jika tidak ada tanda-tanda patah leher, lakukan tekan dahi dan angkat dagu. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan membebaskan jalan napas (Airway) korban. Setelah memastikan jalan napas korban tidak ada masalah, kemudian dilakukan tiupan ke mulut korban dengan posisi tangan masih melakukan tekan dahi dan angkat dagu. Berikan tiupan sebanyak 2 (dua) kali dengan jarak satu detik, tangan yang menekan dahi juga difungsikan untuk menutup hidung dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Tiupan yang baik akan membuat dada korban mengambang, jika tidak mengembang posisi atau cara memberi tiupan ada kesalahan.

Sampai di sini mungkin sudah ada yang membayangkan melakukan pompaan dan tiupan, yah memang tindakan ini sering muncul di film, sinetron ataupun drama korea.